
...༻◈༺...
Julie kecewa. Lagi-lagi dia gagal menguak fakta tentang masa lalunya dan June.
"Maafkan aku, Julie. Tapi aku akan tetap membantumu," ujar Molly yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Aku akan pikirkan cara lain. Aku sebaiknya pulang saja," sahut Julie. Kekecewaan yang mendalam tampak jelas di semburat wajahnya.
"Aku akan menemaninya." June berucap kepada Molly. Hantu perempuan itu lantas membiarkan Julie dan June pergi berduaan.
Setibanya di apartemen, kedatangan Julie langsung disambut oleh keluarganya. Di apartemennya ada Sasya, Zac, bahkan Axton. Mereka tentu mencemaskan Julie. Terutama semenjak gadis itu memilih tiba-tiba pergi dari Nevada.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasya.
"Julie, kalau ada masalah harusnya kau cerita kepada kami." Zac bertutur kata lembut.
"Aku mencarimu ke perusahaan kemarin. Tapi kau tidak ada?" timpal Axton.
Julie langsung menghela nafas lelah. Menyaksikan keluarganya di depan mata, hanya menambah kekecewaan. Mengingat mereka sudah berbohong mengenai penyakit amnesia yang diderita Julie.
"Julie, mungkin sebaiknya kau jujur saja. Aku yakin itu lebih baik dari pada kau harus memendam semuanya semakin lama. Lagi pula aku yakin, keluargamu pasti mengetahui banyak hal tentang hubungan kita," ujar June.
Julie menatap June. Tatapannya seolah bertanya, 'apa kau yakin?'
June mengangguk. Seakan tahu apa yang ada di pikiran Julie. Gadis itu segera menatap tiga orang di hadapannya.
"Kalian mau tahu aku tiba-tiba pergi dari Nevada? Itu karena kalian!" tukas Julie sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah Sasya, Axton, dan Zac. Hatinya tersayat saat mengingat kebohongan yang dilakukan keluarganya.
__ADS_1
Sasya dan Zac bertukar pandang. Hanya Axton yang terus menatap Julie dengan nanar. Lelaki itu segera angkat suara.
"Apa kau sudah tahu semuanya?" tanya Axton.
"Axton!" pekik Zac mengingatkan. Ia masih berusaha menutupi fakta dari Julie. Tindakannya tentu membuat Julie semakin geram.
"Kenapa, Dad? Memangnya apa yang aku tidak ketahui?" timpal Julie. Air matanya berjatuhan. Dia menatap serius tiga orang di hadapannya.
"Apa benar aku adalah keluarga kalian?" ucap Julie.
"Sayang, kenapa kau berkata begitu?" Sasya yang cemas, berusaha menenangkan Julie. Dia mencoba memeluk anak bungsunya itu.
"Kenapa? Kenapa kau bilang?" Julie menjauhkan tangan Sasya darinya. "Aku sudah tahu kalian menyembunyikan fakta bahwa aku mengalami amnesia! Dan kalian tahu yang paling menyakitkan?! Aku mengetahuinya sendiri dari orang lain!" tukasnya.
Julie yang terbakar amarah, mencengkeram dadanya sendiri. Kemudian perlahan duduk ke sofa.
"Maafkan kami, Julie... Kami terpaksa melakukannya..." isak Sasya penuh sesal. Dia menangis bersama Julie.
Sementara Zac dan Axton hanya diam. Keduanya ikut duduk ke sofa. Mereka tentu merasa bersalah kepada Julie.
"Biarpun kalian melakukannya demi aku... Tapi tetap saja itu keterlaluan kan? Harusnya kalian beritahu aku sejak awal... Kalian tidak tahu bagaimana bodohnya aku saat tidak mengenali teman sekolahku dulu..." ujar Julie. Di sela-sela tangisnya.
"Aku sudah bilang ini adalah ide buruk," cetus Axton. Dia langsung mendapat pelototan dari Zac.
"Tidak usah membual. Kau sendiri berakhir setuju saja dengan ideku," sahut Zac.
"Tapi aku sudah beberapa kali mengingatkanmu! Tapi kau tetap bersikeras merahasiakan segalanya dari Julie." Mulai terjadi perdebatan di antara Axton dan Zac.
__ADS_1
"Cukup!" Sasya menyergah. "Jangan memperburuk keadaan. Lihatlah, Julie!" ujarnya. Axton dan Zac lantas menundukkan kepala.
Hening menyelimuti suasana. June duduk ke sebelah Julie. Kebetulan senja akan berakhir.
"Julie, semuanya akan baik-baik saja. Aku selalu bersamamu," ungkap June. Dalam sekejap dia langsung berubah wujud menjadi asap jingga.
Sasya menyarankan Julie beristirahat. Dia membiarkan gadis itu tidur di kamar.
Di ruang tamu, Axton, Zac, dan Sasya berkumpul. Zac yang kebetulan ada panggilan pekerjaan, harus pergi. Dia tidak lupa berpamitan terlebih dahulu kepada Julie.
"Aku, Ibumu, dan Axton benar-benar menyesal dengan segala yang sudah terjadi," kata Zac. Dia duduk di tepi ranjang. Sedangkan Julie tampak duduk sambil memeluk sebuah bantal.
"Setidaknya kalian menceritakan tentang June kepadaku," imbuh Julie.
Mata Zac membulat sempurna. Dia kaget mendengar nama June disebut oleh Julie. Bagaimana tidak? Selama ini dia dan keluarganya sudah membuang segala hal tentang June. Itulah alasan kenapa tidak ada selembar pun foto June.
Sementara foto yang ditemukan Julie tempo hari, itu merupakan foto yang tidak sengaja tertinggal.
"Ba-bagaimana kau..." pupil mata Zac bergetar.
"Beritahu aku, bagaimana kecelakaan itu terjadi? Apa aku sedang bersama June?" tanya Julie. Air matanya kembali berjatuhan di pipi.
Zac terdiam. Sungguh, dia tidak mau memberitahukan mengenai kecelakaan tragis yang menimpa June dan Julie. Mata Zac berkaca-kaca.
"Dad! Beritahu aku apa yang sudah terjadi!" desak Disha dengan nada lantang. Wajahnya memerah karena kesedihan yang dia rasakan.
"Maaf, Sayang... Aku sepertinya tidak sanggup menceritakannya..." lirih Zac. Dia memeluk Julie. Namun gadis tersebut menolak. Saat itulah Axton mendekat.
__ADS_1
"Aku akan memberitahumu segalanya, Julie!" seru Axton. Dia segera menatap Zac. "Kau dan Mom sebaiknya pulang duluan. Kalian tahu kalau aku lebih dekat dengan Julie," katanya.