
...༻◈༺...
June mengangkat dua bahunya bersamaan. Dia menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi aku melihat dalam ingatanku, Shane terlihat kesakitan. Dia ada di lantai sambil memegangi perut," jelasnya.
"Aku sudah tidak sabar untuk mencari tahu semuanya," tanggap Julie. Dia menatap ke arah Molly yang berjalan di depan.
Molly terlihat murung. Alasan dibalik sikap kasar ayahnya tentu membuat dia sedih. Julie berlari kecil untuk mengejar Molly. Dia juga memastikan tempat sekitarnya sepi. Julie tidak mau dianggap sebagai orang gila yang bicara sendiri.
"Molly, apa kau bersedia membawaku dan June untuk bertemu dengan Elliot sekarang?" tanya Julie.
"Entahlah. Suasana hatiku sedang buruk," jawab Molly.
"Lalu?" Julie menuntut jawaban.
"Aku akan memberitahu dimana Elliot berada. Dia ada di rumah kosong yang ada di jalan Heavhell. Tapi aku tidak bisa pergi sekarang. Bagaimana kalau besok? Lagi pula senja sebentar lagi berakhir. June tidak akan bisa ikut," ujar Molly. Menatap Julie dan June secara bergantian.
Julie mendongak ke atas untuk menatap langit. Benar saja, senja sebentar lagi berakhir.
"Kau benar. Sebaiknya besok saja. Aku yakin, Julie pasti lelah." June sependapat dengan Molly.
"Tidak! Aku malah bersemangat. Aku sudah tidak sabar untuk mencari tahu segalanya," sahut Julie.
"Besok saja. Aku ingin menemanimu dengan wujudku yang begini. Jika kita pergi sekarang, waktuku tidak akan sempat," tutur June.
Julie berpikir sejenak. Sampai akhirnya dia terpaksa mengangguk setuju.
"Terima kasih sudah membantuku, Julie, June. Aku sepertinya butuh waktu sendirian sekarang," imbuh Molly. Dia langsung menghilang dalam sekejap.
Kini Julie dan June hanya berduaan. June menemani Julie menyusuri jalanan.
"Menurutmu, apa Shane ada kaitannya dengan hubungan kita?" celetuk June. Memulai pembicaraan.
"Entahlah. Aku rasa ada sesuatu hal tentangnya. Tapi menurutku tidak terkait dengan hubungan di antara kita berdua," sahut Julie. Ia mengaitkan rambut panjangnya ke daun telinga.
__ADS_1
June menatap lekat Julie dari samping. Senyuman tipis mengembang di wajahnya.
"Aku mencintaimu, Julie. Benar-benar mencintaimu..." ungkap June.
"Kenapa tiba-tiba berucap begitu?" tanggap Julie. Dia tidak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Aku takut kita tidak akan pernah bisa bersama."
"Jika itu terjadi, maka aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku. Aku ingin kau terus bersamaku sampai mati."
"Kau yakin? Bagaimana kalau ada lelaki tampan sekelas Robert Pattinson melamarmu?" June menguji.
"Kau lebih tampan dari Robert!" balas Julie tak mau kalah.
June lantas terkekeh saat mendengar pujian Julie. Namun itu tidak berlangsung lama. Raut wajahnya berubah menjadi serius. Dia kembali bertanya, "Bagaimana kalau suatu hari aku berubah menjadi roh jahat?"
Julie terdiam seribu bahasa. Pertanyaan itu membuatnya harus berpikir.
"Aku akan membuat itu tidak akan pernah terjadi. Bagaimanapun caranya." Julie bertekad. Sosok June benar-benar telah membuatnya jatuh hati. Andai bunuh diri tidak membuat Julie jadi roh jahat, mungkin dia akan melakukannya sekarang. Sekuat itulah perasaan Julie untuk June. Begitu pun sebaliknya.
Satu malam berlalu. Tepat di waktu senja, Julie, June, dan Molly sudah berangkat ke tempat Elliot. Mereka menempuh waktu sekitar dua puluh menit lebih untuk sampai di tempat tujuan.
Julie merasa bergidik ngeri. Sebab dia melihat ada banyak hantu mengerikan. Terlebih memang ada banyak rumah kosong di sana.
"Tenanglah, Julie. Mereka tidak akan mengganggumu. Ada aku dan Molly bersamamu." June menenangkan Julie.
"June benar. Lagi pula beberapa dari mereka mengenalku." Molly menyahut.
Tak lama kemudian, Julie, June, dan Molly tiba di tempat Elliot. Di sana mereka dapat menyaksikan ada sosok hantu lelaki di balkon. Dari tampilannya, dia sepertinya hantu remaja.
"Apakah itu Elliot? Aku kira dia kakek tua," bisik June pada Molly.
"Apa aku pernah bilang kalau Elliot itu kakek tua?" Molly membalas sambil menatap datar.
__ADS_1
"Aku hanya membayangkan." June memutar bola mata jengah.
"Bisakah kalian tidak berdebat sekali saja?" sergah Julie.
"Molly? Kaukah itu? Oh my god! Apa manusia itu bisa melihatmu?" Elliot mendadak menegur. Dia segera turun dari balkon dengan cara melayang di udara.
"Ya, kenalkan namanya Julie. Dan ini June." Molly memperkenalkan.
Elliot mendekatkan wajah ke hadapan Julie. June sontak bergerak untuk melindungi gadis itu.
"Jangan ganggu dia!" hardik June.
Elliot tersenyum remeh. Dia melipat tangan di depan dada. Memicingkan mata penuh selidik.
"Sepertinya June menyukai Julie." Elliot menyimpulkan sembari memegangi dagu.
"Ya, kami memang saling mencintai," sahut June.
"Bisakah kita hentikan basa-basinya? Ayo bicarakan tujuan kita ke sini," seru Julie. Dia mendengus kasar. Lalu segera menanyakan Elliot perihal kecelakaan yang menimpa dirinya dan June.
"Aku dan teman-temanku banyak menyaksikan insiden kecelakaan di California. Dan--"
"Tidak! Tempat kecelakaannya sebenarnya tidak di California. Tapi di Nevada," potong Julie.
"Kalau begitu kau bertanya pada orang yang salah. Tanyalah hantu-hantu yang ada di Nevada," ucap Elliot terheran.
"Jadi kau tidak tahu?" timpal June yang merasa kesal.
"Kau juga hantu, bro. Kita juga seperti manusia yang hanya akan menetap di suatu wilayah," jawab Elliot santai. Dia segera kembali ke balkon.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Yang mau double up komen ya...
Di bab selanjutnya dipastikan fakta tentang kecelakaan terkuak ya guys...