
...༻◈༺...
June memilih pergi jauh. Ia tak sanggup lagi menyaksikan interaksi di antara Julie dan Shane. Apalagi sekarang bibir mereka sedang bersentuhan.
Shane terkesiap. Ia tidak menyangka Julie akan tiba-tiba menciumnya. Jantung Shane berdegup kencang. Dia tentu merasa senang bisa mendapat ciuman Julie. Terlebih kali ini Julie melakukannya atas kemauan sendiri.
Julie melepas tautan bibirnya sejenak. Ia menatap lekat Shane. Lalu kembali memagut bibir lelaki berkacamata tersebut.
Shane tidak membalas sama sekali. Hingga Julie memilih berhenti.
"Ma-maaf. Apa itu membuatmu kaget?" tanya Julie yang merasa tidak enak. Dia siap menjauhi Shane. Akan tetapi lelaki itu mencegah.
"Tidak. Aku hanya merasa tidak percaya. Ini seperti tidak nyata bagiku," ungkap Shane. Ia memandangi Julie lamat-lamat. Melepas kacamatanya. Kemudian memberanikan diri melanjutkan ciuman. Alhasil keduanya terbawa suasana. Terlebih mereka sama-sama sudah lama kesepian.
Shane bahkan masih perjaka. Karena terlalu introvert dan terlalu setia pada Julie, dia tidak pernah punya kesempatan dekat dengan perempuan lain.
Julie yang merasa bergairah, mulai melepas baju Shane. Dia melepas tautan bibirnya dari Shane sejenak untuk itu. Lalu barulah membuka bajunya sendiri. Tampilan Julie sekarang hanya mengenakan bra dan celana jeans.
Shane menenggak salivanya sendiri. Dia terpana menyaksikan visual Julie yang tampak menggoda. Saat itulah dirinya teringat dengan June. Shane langsung mengedarkan pandangan. Berusaha mencari keberadaan June.
"Kau kenapa? Apa kau tidak mau?" tanya Julie.
__ADS_1
"Maaf, Julie. A-aku hanya lelah." Shane memilih mundur. Ia bergegas kembali mengenakan pakaiannya. Lelaki tersebut rela membuang kesempatannya karena peduli dengan perasaan June.
Julie sangat malu. Dia bergegas memakai baju. Sungguh, dirinya sangat malu. Berada di dekat Shane membuat Julie lupa diri. Padahal tadinya dia berniat menghindari pria itu sebisa mungkin.
"Aku akan tidur di lantai saja." Shane mengambil bantal dan telentang di lantai. Dia sebenarnya merasa bersalah pada Julie. Apalagi ketika melihat perempuan tersebut enggan menatapnya.
Malam itu Shane tidak bisa tidur. Tentu dia memiliki perasaan sesal dalam dirinya.
Saat pagi tiba, Julie dan Shane langsung pergi ke bandara. Mereka kembali ke California.
Di sepanjang perjalanan June sengaja tidak menemui Shane. Dia hanya berusaha meredam amarah atas kejadian tadi malam. Padahal June juga penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya setelah Julie mencium Shane. Apa mereka melakukan lebih dari itu?
"Iya, aku akan pastikan semua kesalahan orang tuaku terkuak. Aku tidak akan membiarkan obat-obatan terlarang dikonsumsi oleh orang-orang tak bersalah," tanggap Shane. Dia dan Julie berpisah.
Dua hari terlewat. Tibalah waktunya kedok perusahaan Davison diberitakan di media. Semua itu tentu dilakukan oleh Shane. Bisnis perusahaan Davison dalam sekejap jatuh. Polisi juga langsung turun tangan untuk melakukan penyelidikan.
Ternyata semakin diselidiki, tambah banyak pula kejahatan yang ditemukan. Termasuk kecelakaan berencana yang dilakukan Paul kepada June dan Julie. Sekarang keluarga Davison sedang menjalani penyelidikan di kantor polisi. Termasuk Shane sendiri. Selaku putra dari Paul Davison.
Sementara itu, Julie sendirian di rumah. Setelah pulang ke rumah dia belum bertemu June.
"Dia kemana?" gumam Julie yang merasa gelisah. Ia tidak tahu kalau June selalu memperhatikannya sembunyi-sembunyi. Sampai akhirnya hantu tampan itu memutuskan untuk muncul.
__ADS_1
"Mencariku?" ujar June.
Julie langsung berbalik badan. "Kau kemana saja?!" timpalnya seraya mendorong June dengan kesal.
"Aku menemui Madam Sharon. Karena kejahatan keluarga Davison sudah ketahuan, kita harus bersiap dengan ritual pengikatan!" cetus June.
Julie membeku. Dia tidak tahu kenapa. Namun hatinya sama sekali tidak bersemangat. Seolah ritual pengikatan itu bukanlah sesuatu yang dirinya inginkan.
"Ayo hubungi Shane. Saatnya kau bicara mengenai ritual pengikatan kepadanya," ujar June. Entah apa yang dia rencanakan. Sebab June sendiri tahu kalau Shane telah mengetahui segalanya.
"Baiklah." Julie mengangguk dengan senyuman kecut. Dia berusaha meyakinkan diri bahwa dirinya harus memilih June. Mengingat mereka sudah memperjuangkan segalanya sejauh ini.
Julie menelepon Shane. Mengajak lelaki itu bertemu. Namun Shane menyuruh menunggu karena kebetulan Shane harus menyelesaikan urusannya di kantor polisi terlebih dahulu.
Dari belakang, June menatap Julie. Dia menatap nanar perempuan itu sambil tersenyum tipis.
..._____...
Catatan Author :
Aku usahakan hari ini up lagi ya guys...
__ADS_1