
...༻◈༺...
Mata Julie membulat. Dia tentu kaget dengan pernyataan Dokter Clarisa.
"A-apa? Amnesia?" Julie tidak tahu harus berkata apa.
"Ini masih dugaanku saja. Kita akan tahu keadaanmu setelah melakukan pemeriksaan. Apa kau setuju untuk melakukannya?" ujar Dokter Clarisa.
Julie mengangguk. Ia setuju untuk melakukan proses pemeriksaan. Butuh waktu satu jam lebih untuk melalui tahap pemeriksaan. Kini gadis itu disuruh menunggu oleh dokter.
Julie sedang duduk sambil menyesap kopi. Dia berharap keadaannya baik-baik saja.
"Jika aku menderita amnesia, kenapa keluargaku tidak bilang apapun tentang itu? Aku berharap mereka tidak seperti yang kupikirkan..." gumam Julie penuh harap.
Setelah cukup lama menunggu, Julie akhirnya menerima hasil pemeriksaan. Benar saja, Dokter Clarisa membetulkan kalau Julie memang mengalami amnesia.
Kenyataan tentang dirinya membuat Julie memecahkan tangis. Dokter Clarisa yang khawatir, segera menenangkan.
"Nona Julie? Kau baik-baik saja?" tanya Dokter Clarisa.
"Aku baik-baik saja..." isak Julie. Dokter Clarisa lantas memeluknya.
Julie benar-benar sakit hati terhadap fakta yang dirinya ketahui. Dengan begitu dia dapat menyimpulkan bahwa keluarganya memang menyembunyikan banyak hal.
Perlahan Julie menghentikan tangis. Dia melepas pelukan Dokter Clarisa.
"Dok, aku mohon rahasiakan kedatanganku ke sini. Jangan beritahu siapapun mengenai keberadaan dan kondisiku ini," ucap Julie dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Kau bisa mempercayaiku. Aku selalu mengutamakan privasi pasienku," sahut Dokter Clarisa.
Julie mengangguk. Ia segera pergi dari rumah sakit.
Dengan langkah gontai, Julie menelusuri jalanan trotoar. Di sisinya selalu ada June yang menemani. Makhluk tak kasat mata itu terus terbang di sekitar Julie.
Sekarang June sangat ingin menenangkan Julie. Tetapi tidak bisa. Karena wujudnya dalam bentuk asap jingga saat sedang malam.
Julie berhenti melangkah. Dia duduk di sebuah bangku panjang depan toko. Gadis itu lagi-lagi menangis. Julie menutupi wajah dengan dua tangan. Lalu menangis dengan leluasa.
Siapa yang tidak sakit hati kala mengetahui keluarganya sendiri bekerjasama untuk membohongi. Julie tidak menyangka keluarganya tega berbuat begitu. Bahkan jika apa yang mereka lakukan demi dirinya, namun tetap saja keterlaluan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, June..." lirih Julie. Di sela-sela tangisnya.
Bertepatan dengan itu, Axton lewat. Dia sukses melihat Julia yang duduk sendirian di pinggir jalan.
Tanpa pikir panjang, Axton segera menghampiri Julie. Memastikan keadaan sang adik.
Julie dapat mengenal jelas suara Axton. Dia segera menatap lelaki itu. Kemudian berhenti menangis.
"Siapa yang sudah membuatmu menangis, Julie? Katakan kepadaku! Aku akan memberinya pelajaran!" kata Axton sembari mengedarkan pandangan ke sekitar.
Julie hanya diam. Dia segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat.
"Hei! Kau bisa pulang bersamaku. Kenapa naik taksi?" Axton memegangi tangan Julie. Menghentikan kepergian gadis tersebut.
"Karena aku ingin kembali ke California," jawab Julie datar. Dia tidak menoleh ke arah Axton.
__ADS_1
"Kenapa? Kata ibu kau ingin merayakan thanksgiving bersama di rumah lama."
"Ada pekerjaan mendesak. Aku harus secepatnya pulang. Tolong beritahu ayah dan ibu." Julie melepaskan tangan Axton. Dia langsung masuk ke dalam taksi.
Axton mematung di tempat. Dia tidak bisa menghentikan Julie. Gadis itu akan marah jika dipaksa melakukan sesuatu. Begitulah Julie. Axton sangat mengenalnya dengan baik.
...***...
Julie memilih pergi dari Nevada dan pulang ke California. Walaupun begitu, dia tidak bisa tidur memikirkan masalah yang menimpanya.
Puluhan panggilan telepon dari keluarganya diabaikan oleh Julie. Gadis itu juga membiarkan saja ponselnya tetap aktif.
"Aku ingin marah kepada keluargaku, June. Tapi tidak bisa. Aku merasa masih banyak hal yang belum kita ketahui," ungkap Julie. Mengajak June bicara.
Julie meringkuk di ranjang dalam balutan selimut. Sampai akhirnya nama Dokter Raven terlintas dalam benaknya.
"Benar! Dokter Raven!" Julie bergegas bangkit. Dia segera mengenakan mantel, sarung tangan serta tas. Kebetulan musim dingin belumlah berakhir.
Julie melangkah dengan tergesak-gesak. Dia kaget setengah mati saat membuka pintu. Bagaimana tidak? Sosok Molly muncul dalam penampilan seramnya.
Julie membeku di tempat. Jantungnya nyaris copot akibat kehadiran Molly.
"Hai, Julie!" Molly menyapa Julie dengan lambaian tangan. Seketika wujud mengerikannya berubah. Dia tampak menggunakan tampilan normal layaknya manusia.
Julie menenggak salivanya sendiri. Dia melangkah mundur karena merasa takut.
"Tidak usah takut. Aku temannya June! Kau harus tahu, aku sering membantunya untuk dekat denganmu," ucap Molly. Ia terus melangkah maju ke hadapan Julie.
__ADS_1
"Ju-june?" Julie tergagap. Dia berhenti melangkah mundur.
"Ya, June! Hantu tampan yang malang itu. Aku cukup mengenalnya dengan baik. Kedatanganku menemuimu sekarang tidak lepas dari ulah June." Molly melipat tangan di dada. Mendelik ke arah June yang sedang dalam wujud asap jingga.