Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 44 - Bertemu Kedua Orang Tua Shane


__ADS_3

...༻◈༺...


Kini Shane sedang melakukan konsultasi dengan psikiater. Dia memberitahukan semua masalah yang dirinya alami akhir-akhir ini.


"Sepertinya kau memang menderita penyakit kepribadian ganda. Kau pasti punya pengalaman yang membuatmu trauma kan?" ujar psikiater bernama Anika tersebut.


"Trauma?" Shane mengerutkan dahi. Mencoba mengingat kejadian apa saja yang berkaitan dengan trauma.


"Kalau begitu aku akan memberikanmu obat. Kau juga harus datang rutin ke sini seminggu sekali. Aku sarankan kau harus mencari tahu siapa nama kepribadian lainmu itu," tutur Anika.


"Bagaimana caranya?" tanya Shane.


"Kau bisa berkomunikasi lewat tulisan. Pastikan kepribadianmu yang lain itu membaca pesanmu," usul Anika.


"Baiklah." Shane mengangguk. Dia segera pamit setelah mendapatkan obat.


Sejak tadi June ada bersama Shane. Dia mendengar semua pembicaraan Shane dan Anika.


"Aku tahu kau akan melakukan ini. Tapi baguslah kalau kau memeriksakannya ke psikiater dibanding paranormal. Dengan begitu, kau tidak akan tahu kalau selama ini aku merasukimu," cetus June. Berjalan di sebelah Shane dengan santainya.


Shane akan menjemput Julie ke kantor. Kebetulan mereka akan melakukan makan malam bersama keluarga Davison.


Meski terganggu dengan kondisinya, Shane selalu bahagia saat mengetahui kenyataan bahwa dirinya akan menikahi Julie. Lelaki tersebut tak henti tersenyum sambil sesekali melirik Julie.


"Kau kenapa, Shane?" tanya Julie yang sadar dengan curi-curi pandang dari Shane.


"Tidak apa-apa." Shane yang merasa tertangkap basah, merasa malu. Wajahnya memerah bak tomat matang.


"Sepertinya dandananku buruk hari ini," ujar Julie. Bermaksud bercanda.


"Julie, berhentilah memancing Shane!" seru June yang sejak tadi mengamati di kursi belakang.

__ADS_1


"Tidak! Tentu tidak!" Shane membantah tegas. "Ka-kau justru sangat cantik. Terlalu cantik malah..." sambungnya dengan lirih di akhir.


Julie terkekeh. "Terima kasih, Shane. Harusnya kau katakan saja dari awal," tanggapnya sambil melirik ke wajah June yang tampak cemberut.


Agar June tidak marah, Julie menyempatkan diri mengatakan i love you tanpa suara. June terlihat hanya memutar bola mata jengah.


Sesampainya di restoran, Julie dan Shane segera berjalan bersama. Namun ketika tiba di depan pintu masuk, Julie menghentikan langkah Shane. June sontak juga ikut berhenti.


"Ada apa?" tanya Shane.


"Kita akan menikah. Aku ingin kedua orang tuamu percaya kalau kita saling mencintai." Perlahan Julie menggenggam jari-jemari Shane. Dia sukses membuat lelaki itu terkesiap.


Jantung Shane berdegup kencang. Dia menatap lekat Julie.


"Ya, aku akan membiarkanmu menatap Julieku sepuasnya untuk sekarang. Mengingat kau akan menjadi tumbal," imbuh June.


Julie yang mendengar, langsung melirik June sebagai teguran. Perempuan tersebut segera beranjak masuk ke restoran bersama Shane.


Dari kejauhan Paul dan Hillary sudah menunggu. Kedua orang tua Shane yang sudah bercerai itu, rela datang untuk menemui calon istri putra mereka.


"Ayah, Ibu. Ini Julie. Dialah gadis yang kucintai," Shane memberitahu dengan malu-malu. Dia tak henti memperbaiki kacamatanya.


Sementara Julie, dia dan June fokus memperhatikan raut wajah yang ditunjukkan Paul dan Hillary.


"Mereka sepertinya sangat terkejut," ungkap June.


Julie hanya bisa mengangguk untuk menanggapi perkataan June.


"Ayo perkenalkan dirimu," suruh June.


Julie langsung tersenyum. "Kenalkan aku Julie Cameron," ucapnya.

__ADS_1


Paul dan Hillary masih terlihat bingung. Mereka terdiam.


Merasa suasana terlalu hening, Shane segera angkat suara. "Mereka ayah dan ibuku, Julie. Mereka sudah bercerai dan sudah punya keluarga masing-masing," katanya.


"Shane!" tegur Hillary yang merasa malu dengan keadaan keluarganya. Dia menatap Julie dan memilih membuang segala kekhawatiran yang sempat muncul.


"Hai, Julie. Namaku Hillary dan dia Paul. Aku harap hubungan kita bisa berjalan dengan baik. Ayo! Sebaiknya kita bicara sambil duduk," ujar Hillary. Julie, Shane, dan Paul lantas duduk.


"Itu tidak akan terjadi. Benarkan, Julie?" June menanggapi perkataan Hillary.


Suasana benar-benar canggung. Hingga pelayan datang membawakan makanan.


Hillary dan Paul tampak terus bertukar pandang. Keduanya seakan bicara lewat tatapan mata.


"Ekhem!" Paul yang sejak tadi diam, berdehem. Dia memandang Julie dan Shane secara bergantian. "Ngomong-ngomong sejak kapan kalian saking kenal?" tanyanya.


"Sejak SMA. Tapi sepertinya Tuhan mentakdirkan kami untuk berjodoh," jawab Shane.


"Ya, kami bertemu lagi setelah sekian lama." Julie ikut bicara.


Paul tersenyum kecut. Dia menenggak sampanye dari dalam gelas.


"Jujur, aku senang akhirnya Shane bisa membuka diri. Itulah alasan aku bersedia melakukan makan malam hari ini," ungkap Paul.


"Aku juga. Tidak peduli hubungan kami sudah berakhir, Shane tetap yang utama," ucap Hillary. Sepertinya dia dan Paul tidak punya pilihan selain menerima Julie.


"Terima kasih. Ayah, Ibu..." tutur Shane. "Tapi sebenarnya aku dan Julie punya tujuan lain mengenai pertemuan ini," tambahnya.


"Tujuan apa?" tanya Paul.


Shane menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu menghembuskannya lewat mulut. Saat dia hendak bicara, Julie mendadak menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Biar aku saja," kata Julie. Dia segera menatap Hillary dan Paul. Kemudian berucap, "Aku dan Shane ingin meminta restu. Karena kami memutuskan ingin menikah."


"Apa?!" Paul dan Hillary kaget bersamaan. Mungkin keduanya setuju dengan hubungan Shane dan Julie sekarang. Namun mereka tentu tidak menyangka Julie dan Shane berniat ingin menikah.


__ADS_2