
...༻◈༺...
Senja sudah tiba. June lantas berubah wujud. Dia segera bergabung bersama Julie dan Molly. Kebetulan mereka sedang berada di sebuah taman bermain anak-anak.
"Maaf, Molly. Aku benar-benar lupa memberitahu tentangmu kepada Julie," ungkap June.
"Lupa atau memang pura-pura lupa?" balas Molly sambil melipat tangan di depan dada.
"Tentu saja benar-benar lupa. Aku dan Julie terlalu sibuk mencari tahu masa lalu kami." June memberi alasan.
"Masa lalu?" Molly mengernyitkan kening.
"June benar, Molly. Ternyata aku dan June memiliki hubungan spesial di masa lalu. Dan ketika kami mencari tahu kebenaran sedikit demi sedikit, semua rahasia mulai terkuak. Aku yakin masih ada banyak hal yang belum kami ketahui." Julie bercerita panjang lebar.
"Oh, jadi karena alasan itu kau ingin tahu bagaimana kecelakaan June terjadi?" Molly menyimpulkan. Julie lantas menanggapi dengan anggukan.
"Kalian tenang saja. Aku pasti akan membantu kalian bicara dengan Elliot. Semoga saja dia mengetahui sesuatu," ucap Molly seraya menatap Julie dan June secara bergantian.
"Mengenai masalah Molly. Aku punya ide agar Julie bisa bicara kepada ayahnya Molly," imbuh June.
"Apa?" Julie dan Molly bertanya secara bersamaan.
"Julie harus mengaku kalau dia bisa melihat Molly. Aku pikir berkata jujur tidak ada salahnya," ujar June. Satu alisnya terangkat.
Julie dan Molly bertukar pandang. Mereka merasa ide June ada benarnya. Tanpa pikir panjang, Julie segera mendatangi rumah Anthony. Keberadaannya sekarang memang tidak jauh dari rumah Anthony.
Untuk yang ke-empat kalinya, Julie datang. Anthony yang bisa menduga, sengaja tidak membuka pintu. Hingga yang dilakukan Julie hanyalah berusaha menengok di jendela.
"Halo, Tuan William?" kata Julie. Namun Anthony tidak menjawab sedikit pun panggilannya.
__ADS_1
"Sepertinya ayahnya Molly sudah muak denganmu, Julie." June berpendapat.
"Bisakah kau memberikan komentar lebih mendukung?" sahut Molly. Menurutnya June tidak seharusnya berucap begitu.
"Aku rasa June benar Molly. Ayahmu sudah muak denganku." Julie sependapat dengan June.
"Lalu bagaimana? Apa kau tidak akan membantuku?" Molly merasa kecewa dengan tanggapan pasangan beda dunia di hadapannya sekarang.
"Ayolah, Molly. Kami berucap begitu bukan berarti tidak akan membantu," balas June.
"Kita harus mencari cara lain," usul Julie.
"Apa?" Molly menuntut jawaban. Sedangkan June memberikan tatapan penuh tanya.
Julie hanya diam. Ia beranjak dari teras rumah. Kemudian berjalan ke pekarangan. Di sana gadis itu berusaha mencari sesuatu. Menengok ke arah kanan dan kiri.
"Kau mencari apa?" tanya June.
"Seseorang yang bisa membantu kita," jawab Julie.
"Maksudmu?" Molly tak mengerti.
"Untuk berpura-pura bertamu ke rumah ayahmu. Dengan begitu, aku yakin Tuan William akan membukakan pintu," terang Julie.
"Ide bagus, Babe!" tanggap Julie. Mendengar dia menyebut nama panggilan berbeda dari biasanya, Julie sontak menoleh.
"Kenapa? Kita berpacaran kan? Apa salah memanggil kau dengan sebutan Babe?" June mendekatkan wajahnya ke hadapan Julie. Hingga jarak wajah di antara mereka kini hanya berhelat beberapa centi.
Julie terkesiap. Jantungnya berdegup lebih kencang ketika berada sangat dekat dengan June. Sejujurnya, dia cukup merindukan rayuan June seperti sekarang. Terlebih tatapan June begitu lekat. Membuat wajah Julie jadi bersemu merah.
__ADS_1
"Ekhem! Ada orang ketiga bersama kalian," tegur Molly yang merasa salah tingkah terhadap kedekatan Julie dan June. Julie otomatis menjaga jarak dari June.
Sementara June, tampa menatap malas ke arah Molly. "Ya, orang ketiga itu biasanya adalah setan," ledeknya. Lalu mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Kau juga setan." Molly membalas.
Julie tertawa mendengar perdebatan dua hantu yang sedang bersamanya. Tawanya pudar saat melihat seorang remaja lelaki dari kejauhan. Julie langsung memanggil anak itu.
Si remaja lelaki berkacamata mendekati Julie dengan perasaan bingung. Mengingat orang yang memanggilnya sekarang adalah orang asing.
Ketika sang anak lelaki berkacamata sudah di hadapan Julie, June mematung. Sekilas ingatan mendadak muncul. Kali ini dia melihat Shane dalam ingatannya. Lelaki culun tersebut tampak masih remaja. Dia merintih kesakitan di lantai. June membulatkan mata. Ingatannya hanya sampai di sana.
"Shane?" tanpa sadar June bergumam sendiri. Dia tentu heran kenapa Shane muncul dalam ingatannya. Semuanya karena penampilan remaja lelaki yang dipanggil Julie sangat mirip dengan Shane.
Julie dan Molly dapat mendengar gumaman June. Keduanya menatap hantu tampan itu secara bersamaan.
"Ya, dia memang mirip dengan Shane. Tapi dia bukan Shane!" ucap Molly.
June tidak menjawab. Dia melirik selintas ke arah Julie. Lalu berusaha bersikap tenang. June akan membiarkan Julie mengurus masalah Molly terlebih dahulu.
Julie memilih diam. Mengingat dia sedang berhadapan dengan seseorang.
"Kenalkan aku Julie." Julie menyapa lelaki remaja yang kini sudah ada di depannya.
"Aku Lucas." Remaja lelaki itu menjawab singkat.
Julie tersenyum ramah. "Begini Lucas. Aku ingin bertemu dengan Tuan William. Tapi dia tidak mau membuka pintu saat mendengar suaraku. Jadi aku butuh bantuanmu untuk berpura-pura bertamu ke rumahnya. Apa kau bersedia?" pungkasnya.
Lucas mengangguk. Dia segera berjalan ke depan pintu rumah Anthony. Menekan bel pintu di sana.
__ADS_1