
...༻◈༺...
Satu hari berlalu. Julie merasa suntuk. Mengingat Shane kemarin sudah bersikap sangat dingin kepadanya. Selain itu, June juga tidak memunculkan dirinya saat senja terakhir.
Julie keluar dari kamar. Atensinya segera tertuju ke arah pintu kamar Shane. Lelaki itu masih belum terdengar membuka pintu. Padahal biasanya Shane lebih dulu berada di dapur untuk memasak.
"Mungkin sekarang aku yang akan memasak untuknya," gumam Julie. Dia segera pergi ke dapur. Mengambil bahan-bahan untuk memasak.
Bersamaan dengan itu, June sedang ada di kamar Shane. Dia sibuk menuliskan sesuatu di sebuah buku. Ternyata itulah alasan kenapa Shane tidak kunjung keluar dari kamar. Ternyata June diam-diam mengambil alih tubuhnya.
Setelah menuliskan apa yang di inginkan di buku, June langsung keluar dari badan Shane. Lelaki itu sontak tersadar. Penglihatannya disambut dengan buku yang terbuka di atas nakas.
Shane membaca catatan June. Di sana hantu tampan tersebut memberitahukan keterkaitan keluarga Davison dengan kecelakaan yang menimpa Julie dan June.
Pupil mata Shane membesar. Ia sekarang baru tahu kalau keluarganya terlibat dengan kecelakaan berencana.
"Bagaimana bisa?" gumam Shane dengan dahi yang berkerut. "Apakah itu alasan Julie dan June menjadikanku tumbal?" sambungnya.
Shane melanjutkan catatan yang ditulis June. Dari sana hantu itu juga menyebutkan kalau Shane harus bekerjasama dengan Julie untuk menemukan bukti. Selain itu, June juga tidak mau Shane memberitahu bahwa dirinya sudah mengatakan semuanya. June ingin Julie tetap tidak tahu mengenai hubungannya dan Shane sekarang.
Di akhir June menuliskan, 'Kau tidak perlu membuat video untuk bicara denganku. Langsung bicara saja, karena aku selalu ada di sekitarmu. Kau memang tidak bisa melihat dan mendengarku. Tapi aku bisa melihat dan mendengarmu. Setidaknya dalam wujudku saat senja.'
Bulu kuduk Shane seketika berdiri. Dia reflek memegangi tengkuk. Merasa ngeri sendiri. Shane bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
June memanfaatkan kesibukan Shane untuk menemui Julie. Dia melihat perempuan itu sibuk memasak di dapur.
Menyaksikan kehadiran June, mata Julie mendelik. Giginya menggertak kesal.
"Kemana saja kau?! Kenapa baru muncul sekarang?" timpal Julie.
June tentu tidak bisa menjawab. Dia hanya terbang mengitari Julie. Perempuan tersebut lantas memutar bola mata jengah.
Julie lanjut memasak. Dia sepenuhnya sudah selesai membuat sarapan.
Selang sekian menit, Shane muncul. Dia terpaku melihat semua hidangan yang telah ada di meja. Senyuman lantas mengembang di wajahnya. Julie membuat sarapan yang terbilang spesial.
"Kau kah yang membuat ini?" tanya Shane merasa terenyuh.
"Tentu saja. Maaf soal kemarin. Aku kelelahan," ucap Shane.
"Kau pasti sangat sibuk dengan perusahaan ayahmu yang harus dikelola. Perusahaan itu cukup besar setahuku," sahut Julie. Dia dan Shane segera duduk saling berhadapan.
"Begitulah." Shane menjawab singkat. Dia segera menikmati hidangan yang ada. Sambil memikirkan pesan yang ditulis oleh June.
"Aku punya alasan jelas dibalik sikapku kemarin," celetuk Shane.
"Maksudmu?" Julie menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Aku baru saja mengetahui kalau keluargaku terlibat dengan kecelakaan yang menimpamu dan June!" jelas Shane.
Deg!
Mata Julie terbelalak. Dia tentu kaget. Bagaimana bisa Shane tahu tentang hal itu? Terlebih dirinya tahu bahwa kedua orang tua Shane enggan membicarakan hal tersebut sedikit pun.
"Bagaimana kau tahu? Siapa yang memberitahumu?" tanya Julie.
"Aku tahu sendiri. Jika itu benar, aku minta maaf atas nama keluargaku, Julie... Kau seharusnya tidak menikah denganku," ungkap Shane. Dalam hatinya meneruskan, 'Jika benar kedua orang tuaku terlibat dengan kecelakaan Julie dan June, maka tekadku akan semakin bulat untuk menjadi tumbal cinta kalian. Aku akan membayarnya untukmu, Julie...'
Shane menata Julie dengan penuh cinta dan ketulusan. Setidaknya dia tahu motif utama kenapa June dan Julie tega menjadikannya tumbal. Ternyata semuanya berkaitan erat dengan kesalahan kedua orang tua Shane.
"Shane... Jangan bicara begitu." Julie memancarkan tatapan nanar. Dia jadi merasa tidak enak.
"Kau tidak marah kepadaku? Andai aku jadi kau, aku pasti akan marah. Kemungkinan besar aku langsung mengurus surat perceraian," kata Shane sembari memperbaiki kacamatanya.
"Tentu tidak. Kau tidak salah. Ayah dan ibumu yang salah." Julie memegangi jari-jemari Shane. Dia jadi merasa bersalah karena sudah membohongi lelaki berhati putih tersebut.
Rasa tidak tega kembali muncul di hati Julie. Ia merasa tidak bisa membiarkan Shane jadi tumbal untuk cintanya dan June. Meskipun begitu, Julie juga tidak bisa melupakan janjinya dengan June serta Madam Sharon. Bahwasanya mereka sudah sepakat akan melakukan ritual pengikatan dalam waktu dekat.
"Shane... Lagi pula semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang bisa dilakukan. June juga telah pergi," ucap Julie berempati.
"Ada yang bisa kita lakukan." Shane menggenggam tangan. "Kita harus mencari buktinya bersama!" sambungnya bertekad.
__ADS_1