
...༻◈༺...
Usai mengatakan apa yang harus dikatakan, June keluar dari badan Shane. Kini dia terlihat kembali berwujud sebagai asap jingga.
Shane merasakan sensasi kejut. Matanya seketika membola.
"Ada apa, Shane?" Julie langsung menegur. Berpura-pura tidak ada yang terjadi.
"A-aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa aneh saja dengan diriku akhir-akhir ini," ungkap Shane seraya memegangi tengkuk.
"Aneh? Maksudmu?" Julie mencari tahu. Takut kalau Shane sadar perihal kerasukan yang dialaminya.
Shane berpikir sejenak. Karena merasa sulit memberi penjelasan kepada Julie, dia memilih untuk tidak menjelaskan.
"Lupakan. Menurutku itu bukanlah hal serius," ucap Shane yang direspon Julie dengan anggukan kepala.
Shane dan Julie menelusuri lokasi-lokasi yang ada di sekolah. Shane banyak bercerita tentang Julie. Ia bahkan terbuai untuk terus bercerita. Julie bahkan sampai tidak tahu harus menjawab apa.
"Perpustakaan adalah tempat dimana aku sering melihatmu. Kau biasanya menjadi satu-satunya orang yang serius membaca buku dibanding teman-temanmu," kata Shane. Ketika dia dan Julie sedang berada di perpustakaan. Selanjutnya, mereka berjalan ke lorong yang dimana samping kanannya terdapat jendela. Memperlihatkan lapangan olahraga yang berlapis rumput hijau. Di sana juga ada kursi penonton yang berjejer di pinggir lapangan.
"Kau biasanya duduk paling depan saat pertandingan footbal berlangsung. Kau menjadi pendukung nomor satu June saat itu. Kau bahkan terus memberikan semangat walau June kalah bertanding," sambung Shane sambil mengingat kenangan di masa lalu. Sebagai pengagum rahasia, dia tentu sering memperhatikan Julie secara diam-diam.
"Kau sepertinya tahu tentangku lebih banyak dibanding diriku sendiri. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa," tanggap Julie. Langkahnya terhenti saat melihat jalan menuju tangga. Kilas ingatan mendadak muncul.
Julie melihat dirinya bertengkar dengan June di dekat tangga. June tampak meminta maaf dan berusaha memberi penjelasan.
"Aku tidak suka kau begini! Apa yang salah denganmu, June?"
"Maafkan aku, Julie. Aku dan teman-temanku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Oke?"
__ADS_1
"Kau berjanji?"
"Ya, aku berjanji. Sekarang bisakah kita pulang sekarang dan pergi ke tempat favorit kita?"
Begitulah percakapan yang di ingat Julie. Dia ingat dirinya tersenyum dan berakhir pergi bergandengan tangan bersama June.
"Tempat favorit?" gumam Julie.
Shane yang berjalan di depan, baru sadar kalau Julie tertinggal. Dia segera menoleh ke belakang. Shane juga berhenti bercerita perihal Julie.
"Julie?" panggil Shane. Membuat lamunan Julie seketika pudar.
"Maaf, aku tiba-tiba teringat sesuatu." Julie berlari kecil untuk menghampiri Shane.
"Benarkah? Apa yang kau ingat?" tanya Shane dengan kelopak mata yang melebar.
"Aku dan June bertengkar di dekat tangga. Dan kami berakhir pergi ke tempat favorit. Tapi aku tidak ingat dimana tempat itu," jelas Julie sembari menunjuk ke arah tangga.
Julie mengangguk dan membenarkan. Dia dan Shane kembali lanjut melangkah. Sampai akhirnya mereka selesai menjelajahi seluruh lokasi di sekolah.
"Ceritakan kepadaku tentang prom kelulusan kita. Apa kau mengajak seorang gadis saat itu?" celetuk Julie. Dia dan Shane sudah beranjak dari sekolah. Berjalan bersama menyusuri pinggiran jalan.
"Aku tidak pergi saat itu," jawab Shane singkat. Raut wajahnya tampak datar.
"Apa? Kenapa?" Julie menuntut jawaban.
"Ada masalah yang membuatku tidak bisa pergi," jelas Shane ambigu. Dia sepertinya enggan memberitahu masalah yang sebenarnya.
"Sayang sekali, padahal pesta prom adalah momen penting untuk kelulusan," ujar Julie.
__ADS_1
"Itu untuk sebagian orang. Tapi untuk orang sepertiku, prom bukanlah sesuatu hal besar." Shane mengatup rapat mulutnya. Dia berjalan sambil memasukkan tangan ke saku mantel. Dirinya dan Julie menghentikan taksi yang lewat. Lalu langsung pergi menuju bandara untuk kembali ke California.
...***...
Perjalanan berjalan lancar. Julie dan Shane akhirnya tiba di California. Shane mengantarkan Julie pulang lebih dulu. Saat itulah Julie melihat ke kursi belakang. Di sana ada tas hadiah yang diceritakan June.
"Mau merayakan natal bersama? Sekarang sudah 11.30 malam. Sebentar lagi jam 12," celetuk Julie.
"Kau tidak lelah?" Shane memastikan.
"Apa aku terlihat lelah. Atau kau yang sudah lelah. Kalau kau lelah, sebaiknya--"
"Tidak! Tentu saja tidak. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan karena menghabiskan waktu bersama orang yang membosankan sepertiku." Shane memotong perkataan Julie. Ia memberi penjelasan. Shane tidak akan melewatkan kesempatan agar bisa terus bersama Julie.
"Kalau begitu, bisakah kau singgah di toko kue? Aku ingin membeli hadiah untukmu," ucap Julie.
"Bisakah orang membicarakan hadiah seperti itu," balas Shane sambil memegangi tengkuk. Dia yang mulai nyaman dengan Julie, mencoba bercanda.
Julie terkekeh. "Tentu saja bisa. Itu karena aku bukan sinterklas yang diam-diam memberikan hadiah ke rumah semua orang," katanya.
Shane tergelak kecil. Dia menghentikan mobil ke depan toko kue. Shane menunggu Julie di depan mobil. Ia memanfaatkan waktu untuk mengambil hadiah yang sudah dirinya siapkan. Ketika Julie datang, Shane menyerahkan hadiah tersebut.
"Ini hadiah dariku," kata Shane.
"Kau sudah menyiapkannya? Terima kasih, Shane." Julie menanggapi dengan antusias. Dia mengambil hadiah pemberian Shane. Lalu membuka isi tas itu.
Julie menemukan kotak perhiasan yang disebutkan June. Awalnya dia ragu. Namun Julie tetap akan melakukan percobaan.
"Apa ini?" tanya Julie seraya mengeluarkan kotak perhiasan dari tas hadiah Shane.
__ADS_1
Dahi Shane berkerut dalam. Dia yang merasa tidak membeli perhiasan tersebut tentu bingung.