Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 56 - Degup Jantung


__ADS_3

...༻◈༺...


Julie melepaskan pelukan dari June. Dia menatap wajah hantu tampan tersebut. Ada sedikit perasaan aneh yang Julie rasakan.


Meski merasa terharu dengan keajaiban yang terjadi, Julie merasa ada yang berbeda. Dia merasa jantungnya tidak berdebar lagi untuk June.


Julie membuang keraguan yang sempat terlintas. Dia memegangi wajah June dan mencium bibir hantu tampan itu. Berharap merasakan percikan yang sama seperti di masa lalu. Sayangnya itu tidak terjadi. Julie sendiri bahkan tak mengerti. Padahal salah satu keinginan terbesarnya adalah menyentuh June.


Saat June baru saja membalas ciuman, Julie langsung melepas tautan bibirnya.


"Aku lupa memberitahu. Aku dan Shane akan pergi ke Kanada hari ini," ungkap Julie.


"Aku tahu. Berhati-hatilah," sahut June.


"Kau tidak ikut?" Julie menyelidik. Padahal biasanya June selalu over protective terhadapnya.


"Aku akan menunggu saja. Aku yakin kau dan Shane tidak akan saling jatuh cinta kan?" tanggap June sembari tersenyum. Dia sebenarnya kecewa dengan tindakan Julie yang tiba-tiba berhenti mencium bibirnya.


"Tentu saja tidak." Julie menjawab sambil mengalihkan bola matanya ke arah lain. Seakan dia tak berani membalas tatapan June.


"Aku akan mempercayaimu, Julie. Kau juga harus mempercayaiku." June membelai lembut kepala Julie. Dia memandangi wajah cantik tersebut lamat-lamat.


Julie hanya tersenyum. Setelah puas bicara dengan June, dia segera bersiap untuk pergi ke Kanada.


Kini Shane tengah berdiri di depan cermin. Saat itulah dia terkejut dengan kedatangan June. Bagaimana tidak? Hantu itu mendadak muncul dari cermin.


"Holy sh*it !" Shane reflek mengumpat. Namun hal itu justru membuat June tergelak.


"Ternyata seorang kutu buku juga bisa mengumpat. Senang rasanya mengetahui seorang Shane tidak semurni itu," tukas June.


"Kau muncul di cermin. Tentu saja aku kaget," tanggap Shane.

__ADS_1


"Maaf. Aku tak bermaksud begitu." June berucap sambil melipat tangan di dada. Ia melanjutkan, "kedatanganku ke sini ingin memberitahu tahap pertama ritual pengikatan."


"Apa itu?" tanya Shane. Siap mendengarkan.


"Kau harus bisa dekat dengan Julie. Membuat gadis itu merasa nyaman denganmu. Karena aku lihat interaksi kalian agak masih canggung. Dan menurutku alasannya ada padamu. Kau sangat kaku, Shane. Bahkan lebih kaku dari robocop," ujar June panjang lebar.


"Kau tahu begitulah kepribadianku." Shane menundukkan wajah. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan kritikan June. Shane justru kecewa pada dirinya sendiri.


"Lupakan. Aku akan membantumu. Karena itulah aku harus ikut tanpa sepengetahuan Julie."


"Oke." Shane mengangguk patuh.


"Ngomong-ngomong, mulai sekarang kau harus mendominasi pembicaraan. Kau selalu membuat Julie memulai obrolan." June memegang pundak Shane. Dia bicara serius.


"Haruskah?" Shane mengernyitkan kening.


"Ya, itu juga menandakan kalau kau lebih jantan."


...***...


Julie dan Shane sudah ada di mobil. Mereka dalam perjalanan menuju bandara.


Tanpa sepengetahuan Julie, June ikut di mobil orang asing yang berjalan. Ia mengawasi mobil Shane dari sana.


"Musim dingin sebentar lagi akan berakhir," celetuk Shane. Mencoba memulai pembicaraan.


"Ya, aku tidak sabar menanti musim semi," tanggap Julie.


"Tentu saja. Aku tahu kau menyukai bunga."


"Oh my god, Shane. Apa kau menguntitku? Kau lebih tahu tentangku dibanding diriku sendiri."

__ADS_1


"Saat SMA kau ikut ke klub pencinta tanaman. Kau juga merawat bunga kesayangan kepala sekolah dengan baik. Aku sampai berpikir kau bisa mendapat nilai baik karena itu."


"Benarkah? Aku dulu melakukan itu?" Julie terkekeh. Hal serupa lantas dilakukan Shane. Pembicaraan mereka mengalir dengan baik.


"Ya, kau adalah favorit semua guru." Shane berusaha membuat dirinya nyaman bicara kepada Julie. Tak lama kemudian mereka sampai di bandara. Begitu pun June. Hantu tampan tersebut berusaha keras bersembunyi dari penglihatan Julie.


Ketika masuk ke pesawat, Julie tidak sengaja tersandung. Perempuan itu terjatuh saat hampir tiba di tempat duduknya.


Shane bergegas membantu. Dia membawa Julie duduk ke kursi pesawat. Setelah itu, barulah Shane memeriksa keadaan Julie.


Melihat Julie jatuh, June hampir menampakkan diri. Dia urung melakukannya karena Shane lebih dulu membantu Julie.


"Kau baik-baik saja?" tanya Shane cemas. "Beritahu aku bagian mana yang sakit?" lanjutnya.


"Kakiku..." lirih Julie sambil menahan sakit.


Shane lantas memeriksa kaki Julie. Dia memberikan pijatan dengan pelan.


"Aa!" erang Julie reflek. Terutama saat Shane menekan titik yang sakit.


"Maaf, aku akan carikan salep untukmu. Aku yakin awak pesawat memilikinya." Shane hendak beranjak menemui salah satu pramugari. Namun Julie mencegah.


"Lupakan! Aku baik-baik saja. Ini akan pulih saat kita sampai di Kanada," ucap Julie.


"Tidak! Kau harus di obati. Aku takut sakitmu akan tambah parah." Shane tak mendengarkan. Dia benci melihat Julie kesakitan.


Selang sekian menit Shane kembali membawa salep untuk kaki Julie. Dia mengoleskan salep tersebut dengan hati-hati serta penuh perhatian.


Julie terpaku memperhatikan Shane. Dia merasakan debaran jantung yang seharusnya tidak terjadi.


'Apa ini? Apa yang aku rasakan? Kenapa jantungku berdegup kencang untuk Shane?' batin Julie.

__ADS_1


__ADS_2