Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 18 - Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

...༻◈༺...


Senja yang ditunggu akhirnya tiba. June segera berubah wujud. Dia langsung menghampiri Julie. Memastikan keadaan gadis itu.


"Kau baik-baik saja bukan? Aku sangat mencemaskanmu, Julie..." ungkap June.


Julie menatap wajah June yang begitu dekat. Debaran itu kembali lagi. Sungguh, dia sudah lelah menahan perasaan. Seberapa keras Julie menjauh, June terus ada. Bahkan ketika hantu tampan tersebut tidak ada.


Air mata mengalir di wajah Julie. Ia benar-benar frustasi. Bukan saja karena kejadian mengerikan di pesawat tadi, atau keadaan Shane yang belum pulih. Tetapi juga karena perasaannya terhadap June.


"Kenapa kau selalu ada di sisiku, June? Kenapa?!" timpal Julie.


June terhenyak. Dia tentu bingung melihat reaksi Julie. Dirinya tentu khawatir saat menyaksikan tangisan gadis itu.


"Julie..." lirih June. Dia tidak bisa berkata-kata. Menatap nanar gadis di hadapannya sekarang.


Tangan June mencoba menghapus air mata di pipi Julie. Namun dia tentu tidak bisa melakukannya. Menyentuh Julie saja June tidak mampu.


"Julie, maafkan aku... Kalau kau ingin aku pergi, maka aku akan pergi sekarang..." ujar June. Berharap Julie segera berhenti menangis.


June hampir menghilangkan dirinya. Tetapi urung dilakukan ketika mendengar perkataan Julie.


"Jantungku berdebar untukmu, June! Saat kau tidak ada aku bahkan memikirkanmu. Bahkan saat dirimu merasuki Shane dan memelukku, aku merasa sangat nyaman. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tepat sebelum kau muncul..." Julie menutup wajah dengan dua tangan. Dia benar-benar kecewa kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa manusia normal sepertinya jatuh cinta kepada hantu?


June tertegun. Bagaimana tidak? Selama ini dia tidak pernah berharap perasaannya dapat terbalas. Namun sekarang? Pernyataan Julie bak sebuah keajaiban baginya.


June duduk ke bangku yang ada di sebelah Julie. Dia terdiam sambil memandangi Julie yang masih sibuk menangis tergugu.


"Apa perasaan yang kau rasakan untukku membuatmu tersiksa? Jika begitu, maka aku benar-benar akan memilih menghindarimu selamanya. Aku tidak mau menghancurkan hidupmu yang berharga, Julie. Aku minta maaf..." tutur June.


"Kalau begitu pergilah mulai sekarang... Jangan pernah muncul lagi di hadapanku," ujar Julie. Dia masih membenamkan wajah di balik telapak tangan.

__ADS_1


"Baiklah... Selamat tinggal, Julie. Aku harap kau menemukan kebahagiaanmu," ungkap June. Dia benar-benar beranjak meninggalkan Julie.


Kali ini June langsung pergi. Padahal senja masih belum berakhir. Julie membuka mata. Dia mengedarkan pandangan sembari membersihkan wajah dari air mata.


Julie tidak tahu harus lega atau apa. Yang jelas dia akan menjalani kehidupannya tanpa June.


"Julie!" suara panggilan Axton terdengar.


Julie lantas menoleh. Ia melihat tidak hanya Axton yang datang. Tetapi juga Zac dan juga Sasya. Keluarga Julie lagi-lagi bersikap berlebihan. Mereka sangat mencemaskan keadaaan Julie.


Setelah memastikan keadaan Julie baik-baik saja, Zac dan Sasya pulang lebih dulu. Keduanya membiarkan Axton untuk menjaga Julie. Mengingat gadis itu harus tetap tinggal karena harus menemani Shane.


Julie sebenarnya sudah menolak untuk ditemani, namun keluarganya memaksa. Axton bahkan sampai membatalkan pertemuan penting terkait pekerjaan. Lelaki itu melakukannya demi sang adik.


"Dia sekretarismu?" tanya Axton. Dia dan Julie sedang berada di ruang dimana Shane dirawat.


"Iya." Julie menjawab singkat. Ia tampak murung.


'Bukan dia. Tapi June.' Julie menjawab dari dalam hati. Ia tentu tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.


Saat di rumah sakit, Julie melihat banyak sekali hantu. Tetapi seperti biasa, dia memang selalu tahu cara berpura-pura tidak melihat. Julie sudah terbiasa dan dapat melewatinya dengan baik. Terlebih hatinya sedang begitu kalut.


Tak lama kemudian, Paul Davison datang. Lelaki yang tidak lain adalah ayah kandung Shane. Karena dialah juga Shane menjadi incaran para penjahat.


"Shane!" Paul langsung menghampiri Shane. Dia menanyakan keadaan Shane kepada Julie dan Axton.


"Operasi Shane berjalan lancar. Aku yakin sebentar lagi dia akan sadar," kata Julie.


"Terima kasih sudah menjaga Shane. Kalau kau ada urusan mendesak, kau bisa pergi saja. Aku yakin kau pasti juga kelelahan," saran Paul.


"Iya, Tuan Davison. Aku dan Julie memang berniat akan pergi jika sudah ada seseorang yang datang untuk Shane," ucap Axton yang langsung direspon Julie dengan anggukan. "Dan kalau Shane siuman, tolong sampaikan terima kasih kami," sambungnya. Dia segera pamit dan meninggalkan rumah sakit bersama Julie.

__ADS_1


Karena insiden tak terduga, pertemuan bisnis penting Julie di Los Angeles jadi batal. Dia juga memilih kembali ke California.


Semenjak mengungkapkan perasaan dan menyuruh June pergi, Julie semakin muram. Dia lebih pendiam dan jarang tersenyum. Axton dan kedua orang tuanya merasa cemas. Mereka bahkan terpikir untuk membawa Julie ke psikiater. Namun mereka masih belum berani membicarakan hal itu kepada Julie. Sebab Axton dan Sasya tahu kalau Julie akan marah jika harus mendengar perihal psikiater.


Hari demi hari berlalu. Shane mengundurkan diri dari perusahaan Julie. Dia bahkan hanya memberitahukan lewat email dan surat resmi. Sekarang Julie sedang mencari sekretaris baru untuk mengganti posisi Shane.


Kesepian, itulah yang dirasakan Julie. Dia terkadang menangis sendirian di toilet. Ternyata kehilangan June lebih sakit dibanding harus mendengar celotehannya.


Kini Julie sedang berada di toilet. Ia berhenti menangis karena terpikirkan sesuatu hal.


"Aku harus mencari June! Aku sudah tidak kuat. Rasanya rasa kesepian ini sangat mencekikku!" gumam Julie bertekad. Dia bergegas pergi dari toilet.


Julie masuk ke kantor untuk mengambil tas. Dia menatap ke jendela dan melihat senja baru saja tiba.


June memang satu-satunya sosok yang akhir-akhir ini membuatnya tertawa dan tersenyum. Julie sekarang ingin perasaan itu kembali. Ia sudah tidak peduli dengan fakta bahwa June adalah hantu.


Tanpa pikir panjang, Julie segera pergi dari perusahaan. Dia mendatangi tempat-tempat dirinya sering melihat June.


"June!" panggil Julie dengan suara lantang. Beberapa orang yang lewat bahkan menoleh ke arahnya.


"June! Aku mencarimu! Kumohon muncullah! Maafkan perkataanku tempo hari," seru Julie. Dia sudah tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang di sekeliling.


Tanpa sepengetahuan Julie, June mengamati dari jauh. Hantu tersebut memang diam-diam melakukannya setiap hari. Bahkan ketika Julie sudah mengusirnya. Dari jauh, June dapat mendengar Julie memanggil namanya. Ia ingin memastikan terlebih dahulu apakah yang didengarnya nyata atau bukan.


Julie berlari sambil terus melihat ke sekitar. Berharap dia bisa melihat sosok June.


'Jangan bilang dia ada di Los Angeles? Apa hantu tidak bisa kembali semudah itu?' batin Julie bertanya-tanya. Saat itulah June muncul dari belakang.


"Kau benar-benar mencariku?" tanya June.


Julie langsung memutar tubuhnya menghadap June. Dia tersenyum dan berkata, "Aku merindukanmu! Aku sudah tak peduli kau itu apa. Aku hanya ingin bahagia!"

__ADS_1


June tersenyum lebar mendengarnya. Dia segera memeluk Julie. Hal serupa juga dilakukan gadis tersebut. Akan tetapi tubuh June menembus badan Julie begitu saja. Akibat hal itu, Julie hampir terjatuh. Keduanya lupa kalau mereka tidak bisa saling bersentuhan.


__ADS_2