
...༻◈༺...
Julie tak punya pilihan selain mengangguk. Lagi pula salah satu tujuannya menikahi Shane karena ingin menemukan bukti keterkaitan keluarga Davison dengan kecelakaannya.
Hari itu Shane berusaha mencari tahu. Dia mencari nama orang terdekat ayah dan ibunya dulu. Sampai akhirnya dia menemukan seorang lelaki bernama Wilson. Shane langsung berusaha mencari keberadaan lelaki tersebut.
Sementara Julie, dia ada di kantor sekarang. Dirinya sebenarnya merasa aneh terhadap Shane yang tiba-tiba tahu perihal keterlibatan keluarga Davison.
"Apa ini karena June? Senja ini dia harus jelaskan padaku semuanya," ujar Julie. Dia berniat akan bicara serius dengan June nanti sore.
Julie menyelesaikan pekerjaan saat sore. Dia sekarang dalam perjalanan pulang.
Dering ponsel berbunyi. Julie segera menjawab telepon dari Shane itu.
"Yes, Shane?" sambut Julie.
"Aku menemukan seseorang yang kemungkinan besar mengetahui tentang kecelakaanmu dan June. Bagaimana kalau kita temui dia bersama? Kebetulan orang ini tinggal di Kanada," ujar Shane dari seberang telepon.
"Tentu saja, Shane. Kapan kita bisa pergi menemuinya?" kelopak mata Julie melebar. Dia merasa antusias karena mendengar Shane menemukan sesuatu.
"Besok pagi. Aku harus mengurus pekerjaanku lebih dulu."
"Baiklah." Pembicaraan berakhir di situ.
Tak terasa senja tiba. Julie juga sudah tiba di rumah. Penglihatannya disambut dengan kehadiran June yang tampak berdiri di depan pintu.
Julie menatap tajam dan berjalan cepat. Dia berhenti tepat di hadapan June.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" timpal Julie.
__ADS_1
June menggeleng. "Kau bicara apa? Tentu saja tidak," jawabnya berkilah. Dia sengaja menunjukkan ekspresi wajah tenang.
"Kau yakin?" selidik Julie.
"Ya. Memangnya kenapa? Ini pasti karena Shane sudah tahu semuanya. Bukankah itu bagus? Kita bisa menemukan bukti lebih cepat bukan?" June memancarkan senyuman cerah.
Julie tetap menunjukkan raut wajah serius. Dia mendengus dan memilih mempercayai June. Keduanya segera masuk ke rumah.
"Kau semakin cantik," puji June.
"Berhentilah menggoda. Jangan membuatku jadi ingin menciummu," balas Julie.
"Kau ingin menciumku?" June memastikan.
Julie menatap dengan sudut matanya. Dia terkekeh dan mendekat. Lalu bersikap seperti mencium June. Ia bahkan memperdengarkan suara kecupan.
June lantas membalas. Dia meniru apa yang dilakukan Julie. Keduanya berakhir tergelak bersama.
Namun June tampak sendu. Dia terdiam dan tidak berucap apapun untuk menanggapi perkataan Julie.
"Apa kau juga merasa begitu?" tanya Julie.
Mata June membulat. Dia yang awalnya terlihat kaget, segera mengangguk. "Tentu saja! Aku mencintaimu," ujarnya.
Julie terus bicara bersama June. Dia menceritakan semuanya tentang rencana Shane yang akan pergi ke Kanada untuk mencari lelaki bernama Wilson.
"Wilson?" June mengerutkan dahi. Dia ingat kalau dalam memorinya pernah menyebut nama lelaki itu.
"Ya, katanya Wilson dahulu adalah orang yang sangat dekat dengan Paul dan istrinya," sahut Julie.
__ADS_1
Setelah itu, Julie beranjak masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan diri terlebih dahulu.
June merenung di depan jendela. Dia merasa gundah. Dirinya termangu cukup lama. Sampai sosok tidak asing muncul dari kejauhan. Sosok tersebut melambaikan tangan ke arah June.
"Madam Sharon?" ucap June. Dia bergegas menghilang dan muncul ke hadapan Madam Sharon. Wanita itu tersenyum tipis tatkala June mendadak muncul.
"Kau yakin dengan pilihanmu?" tanya Madam Sharon.
"Ya. Kalau tidak yakin, maka aku tidak akan pernah menemuimu," jawab June.
"Baiklah. Aku hanya berusaha membantu. Apalagi kau sudah menjanjikan uang yang cukup banyak." Madam Sharon menatap serius. "Tapi apa kau benar-benar siap menghadapi resikonya?" tanyanya.
"Sudah berapa kali kau bertanya begitu? Tentu saja aku yakin. Aku sudah lelah terus-terusan menunggu senja. Aku lelah dengan wujud asap jinggaku," jelas June.
"Ya sudah. Aku akan meletakkan ramuannya." Madam Sharon berjalan memasuki rumah Shane dan Julie. Dia meletakkan botol kecil yang berisi ramuan misterius. Madam Sharon memilih meletakkan botol itu di kamar Shane.
"Terima kasih," ucap June.
Madam Sharon berbalik. Dia menatap June. "Kau hanya punya waktu dua minggu. Setelah itu kau akan mendapat resikonya. Karena yang akan kau lakukan ini bisa dibilang menentang takdir. Mengerti?" ujarnya.
"Aku mengerti." June mengangguk.
Madam Sharon segera pergi. Kini June kembali melamun menatap langit senja. Tak lama kemudian wujudnya berubah jadi asap jingga.
Ketika waktu menunjukkan jam tujuh malam, Shane datang. June langsung merasuki lelaki berkacamata itu.
Tanpa pikir panjang, June segera meminum ramuan pemberian Madam Sharon. Selanjutnya, dia langsung keluar dari tubuh Shane. Lelaki tersebut sigap memegangi kepala.
"Aaarkkh!" Shane reflek berteriak tatkala menyaksikan sosok June. Dia dengan cepat melangkah mundur. Bahkan sampai terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Ya, sosok June. Ramuan yang telah diminumnya berguna untuk membuat June memiliki kemampuan menyentuh dan merubah wujud sesuka hati. Jadi dia tidak perlu lagi menunggu senja. Selain itu, efek lain dari ramuan tersebut adalah bisa memberi Shane kemampuan melihat June. Mengingat Shane adalah tubuh yang digunakan June untuk meminum ramuan.
"Hai, Shane!" sapa June dengan senyuman lebar.