Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 7 - Membuka Diri


__ADS_3

...༻◈༺...


Hantu berwajah hancur mendekat secara tiba-tiba. Julie tentu tidak menduga dengan kedatangan hantu tersebut.


"Aaaarkkhhh!!!" Julie sontak berteriak. Terlebih hantu berwajah hancur itu berada tepat di hadapannya. Memandangi Julie dengan bola mata yang melotot.


Karena takut, Julie melarikan diri. Dia juga sudah tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang di sekitar.


Melihat Julie lari ketakutan, hantu berwajah hancur itu justru tertawa. Namun tidak untuk June. Dia mencengkeram leher hantu wanita berwajah hancur tersebut.


Aura kegelapan muncul mengelilingi June. Matanya memerah marah. Kulit June tampak memunculkan urat berwarna hitam. Urat-urat itu menghiasi seluruh badan June. Hantu tampan tersebut menjadi sangat mengerikan jika sedang marah.


"Ampun... Aku berjanji tidak akan mengganggu gadis itu lagi... Tapi aku sebenarnya butuh bantuannya..." mohon si hantu berwajah hancur. Dia menciut saat mendapat tatapan penuh ancaman dari June.


Perlahan June akhirnya melepaskan hantu berwajah hancur tersebut. "Tidak! Pokoknya kau tidak boleh mendekati Julie-ku satu jengkal pun! Enyahlah!" tegasnya.


Sang hantu wanita berwajah hancur mengangguk. Dia segera menghilang dari hadapan June.


Perlahan June kembali dengan tampilan normalnya. Ia bergegas menemui Julie sebelum senja berakhir.


Sekarang Julie tengah menenangkan diri di cafe favoritnya. Dia duduk memegangi dada sambil mengatur nafas. Sungguh, kemunculan hantu berwajah mengerikan tadi membuat jantung Julie hampir copot.


"Sudah kuduga kau di sini," cetus June. Kemunculannya membuat Julie kaget untuk yang kesekian kali.


"Bisakah kau pergi?!!!" pekik Julie sembari memegangi kepala dengan dua tangan. Dia benar-benar muak terhadap segala gangguan para hantu. Itulah salah satu alasan Julie selalu berpura-pura tidak melihat keberadaan mereka.


Teriakan Julie membuat seluruh orang di cafe menoleh. Mereka tentu bingung kenapa Julie berteriak. Mengingat gadis itu sedang duduk sendirian.


"Maaf..." ungkap June yang merasa bersalah. Ia duduk ke kursi yang ada di seberang meja Julie. "Tapi aku sudah memastikan hantu jelek itu tidak mengganggumu! Kau tidak usah khawatir," sambungnya. Mengembangkan senyuman manis tak bersalah.


Julie mendengus kasar. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Sadar merasa diperhatikan, Julie beranjak keluar dari cafe.


"Miss, kau melupakan pesananmu!" seru pelayan yang baru saja ingin mengantarkan pesanan Julie.

__ADS_1


"Berikan saja kepada siapapun!" jawab Julie seraya merogoh ke dalam tas bahu. Dia mengambil uang dari dalam dompet. Lalu memberikan uang sepuluh dollar kepada pelayan. "Ambil saja kembaliannya," ujarnya. Julie lantas benar-benar beranjak pergi.


"Julie!" panggil June yang bergegas mengejar.


Julie berhenti di tempat yang sepi. Tepatnya di sebuah lokasi yang sepi dari manusia maupun hantu. Dia hendak bicara serius dengan June.


"Taman tidak terlihat begitu bagus saat tertutupi salju," kata Juni. Dia berdiri di depan Julie. Mengamati keadaan sekitar selintas.


"Semuanya gara-gara kau!" timpal Julie.


"Aku?" June terheran seraya menunjukkan tangan ke dadanya sendiri.


"Ya! Karena aku bicara kepadamu, hantu lain jadi sadar kalau aku memiliki kemampuan khusus!"


"Kau tenang saja. Jika ada hantu yang mengganggumu, bilang saja kepadaku. Aku pasti akan membuat mereka menjauh darimu." June tampak tenang. Di akhir, dia menambahkan senyuman yang biasa dirinya berikan kepada Julie


"Apa maumu? Bisakah aku mengetahui alasan kau terus mengejarku? Apa kau membutuhkan sesuatu dariku?! Apa kau butuh darah seperti vampir di film-film?" tukas Julie sambil berkacak pinggang.


"Hahaha! Julie kau sangat lucu. Mana mungkin aku ingin melihatmu terluka. Aku bahkan tidak mau melihat sedikit pun darah yang keluar dari tubuhmu."


"Aku rasa kau sudah tahu sejak awal. Alasannya hanya satu! Itu karena aku menyukaimu! Maksudku, aku jatuh cinta kepadamu..." June lagi-lagi memasang tatapan lekat. Tatapan tersebut seolah membuktikan bahwa apa yang diucapkannya bukanlah kebohongan.


Deg!


Jantung Julie berdegup kencang. Dia sempat bertukar tatapan dalam dengan hantu tampan di depannya. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena Julie sadar kalau perasaannya untuk June adalah kesalahan besar.


Tanpa sepatah kata pun, Julie pergi menjauh dari June. Dia beberapa kali memegang pipinya yang memerah akibat pernyataan cinta June.


"Julie! Kau tidak masalah dengan perasaanku bukan? Jujur, aku tidak masalah jika kau tidak memiliki perasaan yang sama. Tapi izinkan aku terus menemuimu di setiap senja." Untuk hantu seperti June, mengejar Julie dengan cepat tentu adalah hal mudah. Dia hanya perlu menghilang dan melayang di udara sesuka hati.


Tetapi June seringkali ikut berjalan seperti Julie. Karena dengan begitu, dia bisa terus memandangi Julie.


Hanya membisu. Itulah yang dilakukan Julie. Ia memilih fokus berjalan menuju stasiun. Sekarang Julie berniat ingin kembali mengabaikan June seperti sebelumnya. Bahkan saat hantu tampan itu tahu kalau dia bisa melihatnya.

__ADS_1


Kini Julie baru saja masuk ke dalam kereta. Kemudian duduk sambil mengambil ponsel dari dalam tas.


June tersenyum. Dia masih tampak ceria seperti biasa. "Kau pasti ingin mendengarkan musik bukan?" terkanya.


Julie terdiam. Ia terlihat sibuk dengan layar ponsel. Gadis itu menghubungi Axton.


"Ada apa? Aku pikir kau akan marah berkepanjangan kepadaku," ujar Axton dari seberang telepon.


"Berikan saja nomorku kepada Fred. Kau sepertinya benar, mungkin aku butuh seorang teman," imbuh Julie.


"Kau yakin? Apa yang membuatmu jadi berubah pikiran?" Axton yang tadinya terdengar lesu, langsung menjadi antusias.


"Apa kau bilang? Kau mau berteman dengan Fred?" June yang mendengar sontak cemas. Senyuman cerahnya seketika pudar. June tertunduk lesu.


Julie tidak hirau. Dia menanggapi ucapan Axton dari telepon. "Bisakah kau bersikap biasa saja? Atau aku sebaiknya tidak usah saja melakukan--"


"Oke, oke. Jangan berubah pikiran lagi. Aku akan secepatnya memberikan nomormu kepada Fred. Aku harap dia adalah orang yang cocok untukmu."


"Aku harap begitu," tanggap Julie. Dia segera mematikan telepon lebih dulu.


"Kau tidak menganggapku teman?" tanya June sembari melayangkan tatapan nanar.


Julie hanya diam dan mendengus kasar. Ia membuang muka dari June.


June mengangguk beberapa kali. Melihat sikap Julie sekarang, dia bisa menyimpulkan sesuatu.


"Pasti tidak bukan?" June menatap penuh tanya. "Ya... Aku memang bukan siapa-siapamu. Aku hanya hantu yang tiba-tiba tertarik dan terus mengikutimu," ungkapnya kecewa. Namun Julie masih saja diam.


"Apa kau sudah bisa melihat saat aku pertama kali muncul?" tanya June. Akan tetapi Julie lagi-lagi tidak menjawab. Gadis itu kembali berlagak seperti dulu.


"Aku yakin kau bisa melihatku sejak awal." June semakin yakin dengan kesimpulannya.


Julie meletakkan ponsel ke telinga. Dia sedang tidak menelepon siapapun. Julie bertindak begitu agar tidak dikira orang gila oleh orang-orang.

__ADS_1


"Kehadiranmu yang terus mengikutiku, jelas membuatku sangat terganggu!" kata Julie. Kalimat itu jelas ditujukan untuk June.


Walau mempunyai perasaan khusus kepada June, Julie tetap mengutamakan logika. Itulah alasan dia tiba-tiba mengizinkan Axton memberikan nomor teleponnya kepada Fred. Julie akan mencoba membuka diri. Dengan tujuan agar dirinya dapat menghilangkan ketertarikan kepada June.


__ADS_2