Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 58 - Lelucon Shane


__ADS_3

...༻◈༺...


Perlahan Julie memeluk Shane. Dia melakukan itu agar lelaki tersebut bisa lebih tenang.


"Ayo kita beristirahat ke penginapan terdekat," ajak Julie. Dia dan Shane menghentikan sebuah taksi. Tujuan mereka adalah pergi ke tempat peristirahatan terdekat.


"Aku akan memesan dua kamar," ujar Julie. Saat telah tiba di tempat penginapan. Dia ingin membiarkan Shane sendiri. Selain itu Julie juga merasa harus menjaga jarak dari lelaki tersebut. Sungguh, Julie tidak mau sampai jatuh cinta kepada Shane.


"Maaf, Nona. Tapi kebetulan di motel ini hanya tersisa satu kamar. Apakah tidak apa-apa?" ucap resepsionis yang bernama Dustin tersebut.


Julie dan Shane reflek bertukar pandang. Bertepatan dengan itu, hujan yang deras mendadak turun.


"Tidak apa-apa. Aku akan tidur di sofa," kata Shane. Dia sudah kelelahan. Fakta yang dirinya temukan juga membuat pikiran lelah. Alhasil Shane tidak masalah jika harus tidur satu kamar dengan Julie.


"Maaf lagi sebelumnya, Tuan. Tempat ini bukan hotel, tapi motel. Aku yakin kalian sudah membaca papan nama yang ada di halaman," ungkap Dustin dengan senyuman canggung.


"Ya, kami tahu." Julie tidak masalah.


Dustin menunjukkan ekspresi bingung. Meskipun begitu, dia tidak mau memperpanjang pembicaraan. Dustin menganggap Julie dan Shane mengerti. Terlebih Julie dan Shane menampakkan raut wajah lelah yang jelas. Dustin bergegas mengurus administrasi dan memberikan kunci kamar.


Shane memimpin jalan lebih dulu. Sebenarnya ini pertama kalinya dia menginap di sebuah motel. Hal serupa ternyata juga berlaku pada Julie. Keduanya bisa dibilang sama-sama anak rumahan. Bahkan saat berpacaran dengan June, Julie lebih senang menghabiskan waktu di rumah.


Pintu terbuka. Shane dan Julie mematung tatkala melihat bagaimana wujud kamar di motel. Tidak ada sofa di sana. Hanya ada dua buah kursi kecil dan ranjang dengan ukuran kamar kecil.


"Aku akan mencari tempat lain. Kau bisa tidur di sini, Julie." Shane mengalah. Dia tak mau keberadaannya membuat Julie tidak nyaman.

__ADS_1


Julie sigap memegang lengan Shane. Mencegah kepergian lelaki itu. Ia merasa takut jika harus tidur sendirian. "Kita ada di tempat asing. Lebih baik tetap bersama dari pada harus berpisah," ujarnya.


Shane mengangguk lemah. Orang yang sudah lama jatuh cinta pada Julie, tentu tidak akan menolak.


Shane dan Julie akhirnya masuk ke kamar. Sementara sejak tadi, June mengamati dari atap pelafon. Ia bisa melihat segalanya dengan jelas dari sana. Mimik wajah June tampak kecewa. Apalagi ketika melihat Julie membiarkan Shane tidur satu kamar dengannya.


"Beristirahatlah. Aku mau mandi." Julie melangkah memasuki kamar mandi.


Sementara Shane memilih duduk ke sebuah kursi. Suasana terasa begitu canggung. Saat itulah June mendadak muncul dari atap. Dia seperti benda yang jatuh, lalu berdiri tegak sendiri.


Shane tersentak. Dia tentu bisa menduga siapa sosok yang muncul. Namun dirinya justru menampakkan ekspresi sedih.


"Lihatlah. Kau membuat Julie merasa canggung lagi," tukas June sembari melipat tangan ke depan dada.


Shane menundukkan kepala. "Maafkan aku, June... Kau harus meninggal karena--"


"Aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya ingin menebus kesalahan keluargaku terhadapmu dan Julie. Aku akan melakukan apapun jika memang itu yang membuat Julie jadi lebih baik," sahut Shane. Dia terlihat serius. Tidak main-main dengan ucapannya sendiri.


June terkesiap. Dia terdiam dalam beberapa saat. Andai dirinya di posisi Shane, June pasti akan butuh waktu untuk berpikir. Mengingat nama yang akan tercoreng adalah nama keluarga sendiri. Namun Shane sama sekali tak keberatan.


"Sebesar itukah cintamu pada Julie?" tanya June.


"Ini bukan tentang cinta, June. Tapi keadilan dan kedamaian. Tak masalah jika aku harus di penjara, asal pikiranku bisa lebih damai dibanding sebelumnya," jawab Shane.


June mendengus. Dia berbalik membelakangi Shane. Berusaha menyembunyikan ekspresinya. June mencoba membuang segala perkataan Shane tadi. Lalu kembali memutar tubuh menghadap lelaki tersebut.

__ADS_1


"Oke, kau bisa lakukan itu nanti saat kembali. Tapi untuk sekarang, hilangkanlah rasa canggung Julie terhadapmu," saran June.


"Bagaimana? Kau tahu aku tidak ahli dalam hal begitu," sahut Shane.


"Apa kau punya selera humor?" June mematikan.


"Ya." Shane mengangguk.


"Coba berikan salah satu lelucon terbaikmu," tantang June.


Shane menggaruk kepalanya. Dia berpikir sejenak. Dirinya segera berucap saat menemukan lelucon terbaiknya.


"Oke. Aku punya satu." Shane berdiri. Siap membeberkan lelucon terbaiknya. "Hidup itu singkat bukan?" tanyanya.


"Ya..." June mengerutkan dahi dengan rasa ragu.


"Maka tersenyumlah selama kau masih hidup," lanjut Shane. Ia tergelak kecil sendiri.


Sementara June, dia membeku. Matanya sampai berkedut karena heran dengan lelucon Shane yang tak lucu sama sekali. Malah June merasa tersinggung dengan lelucon Shane. Mengingat dia sudah tak hidup lagi.


"Apa kau sengaja memilih lelucon itu untuk menyindirku?" timpal June.


..._____...


Catatan Author :

__ADS_1


Aku mau tamatin novel ini belum tercapai juga. Itu sebenarnya karena aku nggak mau endingnya terkesan kayak tergesak-gesak. Mengingat aku bersungguh-sungguh bikin novel ini jadi novel yang mengusung isi cerita dan karakter dibanding sekedar adegan buat hiburan. Pokoknya makasih buat yang masih setia 😘


__ADS_2