
...༻◈༺...
Karena tergiur dengan uang, Jacob bersedia membantu Julie. Dia segera menunjukkan jalan ke ruang dimana data informasi siswa disimpan.
"Carilah data yang kau inginkan. Kau punya waktu sampai aku selesai membersihkan tempat ini," ujar Jacob.
Julie mengangguk. Dia bergegas mencari data informasi tentang June.
"Kau sebenarnya tidak perlu repot-repot melakukan ini. Kita bisa bertanya kepada Shane atau Axton," imbuh June.
"Kan tahu sendiri kalau aku tidak mau pencarian kita terlalu kentara. Karena aku yakin, keluargaku pasti menyembunyikan sesuatu. Terutama tentangmu. Dan mengenai Shane, aku hanya tidak mau dia ikut terlibat terlalu jauh," tanggap Julie. Dia tampak mulai memeriksa berkas yang ada di dalam lemari.
Setiap map diperiksa Julie. Dia berusaha menemukan data mengenai June.
"Hah... Ini menyebalkan. Yang aku lakukan hanyalah memperhatikan. Aku sangat ingin membantumu!" ungkap June. Dia merasa tidak enak membiarkan Julie melakukan segalanya.
"Diamlah! Itu cukup membantuku," sahut Julie.
June lantas menurut. Dia akan menutup mulutnya dan berusaha tidak bicara.
Julie memeriksa data alumni orang-orang yang satu angkatan dengannya. Namun dia tidak menemukan data tentang June sama sekali.
"Aneh, kenapa namamu tidak ada?" Julie mendengus kasar. Dia mulai merasa putus asa.
"Coba angkatan satu tahun ke atas. Mungkin saja aku dulu kakak kelasmu," usul June.
Julie menurut. Dia kembali melakukan pencarian.
Bersamaan dengan itu, Jacob muncul. Ia menyuruh Julie untuk berhenti.
"Sebentar lagi, kumohon..." ucap Julie sembari terus mencari.
"Aku memberimu sepuluh menit lagi." Jacob mendesak. Menyebabkan Julie mempercepat pergerakannya.
"Masih tidak ada juga?" tanya June. "Kalau tidak ketemu, mungkin sebaiknya kita tanya saja kepada Shane atau Axton," tambahnya.
__ADS_1
Julie tidak menggubris ucapan June. Pupil matanya membesar karena berhasil menemukan data informasi tentang June.
"Dapat!" seru Julie. Dia langsung mengambil foto berkas yang didapatnya.
"Kalau sudah, kau bisa pergi sekarang!" kata Jacob.
"Terima kasih, Tuan Jacob. Aku tidak tahu bagaimana kalau kau tidak ada," ujar Julie. Dia buru-buru pergi. Dirinya dan June sudah tidak sabar membaca data informasi yang didapat.
Julie dan June memilih duduk di bangku depan sekolah. Di sana keduanya membaca data informasi yang telah difoto.
Dari data informasi, Julie dapat mengetahui alamat rumah June. Serta nama orang tua lelaki tersebut.
"Tunggu. Ini bukankah alamat rumah yang kita datangi tadi?" kata Julie.
"Kau benar." June tidak membantah.
"Kalau begitu, kita seharusnya menemui ayahmu. Cole Stevens!"
"Dimana kita harus mencarinya?"
"Julie!" seru June cemas.
Sebuah ingatan kembali muncul di kepala Julie. Dia melihat June duduk berlutut di hadapannya. Julie melihat June menyodorkan sebuah cincin kepadanya.
Rasa pusing semakin menyengat. Walaupun begitu, dia tidak pingsan seperti sebelumnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya June.
Julie mencoba menenangkan diri. Mengatur nafas, lalu memulihkan diri. Sampai rasa pusing perlahan memudar.
"Aku kembali teringat sesuatu..." ungkap Julie.
"Kau mengingat apa?" June menanti jawaban.
"Aku melihatmu melamarku, June..." lirih Julie. Dia mengerutkan dahi sambil memegangi kepala.
__ADS_1
Menyaksikan kondisi Julie, June mulai mencurigai sesuatu. Dia lantas berucap, "Julie, aku pikir kau harus memeriksakan diri ke dokter. Pasti ada alasan kenapa kau bisa begini!"
"Tapi aku sudah beberapa kali memeriksa keadaanku ke dokter Raven. Katanya aku baik-baik saja," ujar Julie yakin.
"Dokter Raven?"
"Ya. Dia adalah tanteku yang kebetulan bekerja sebagai dokter."
"Dia keluargamu? Apa kau pernah memeriksakan diri ke dokter lain?" June menyelidik.
"Tidak. Kecuali beberapa luka kecil yang pernah aku alami tempo hari." Julie menjelaskan. Menyadari hal itu, dia juga menyadari satu hal. Bahwasanya Dokter Raven bisa saja juga ikut menyembunyikan sesuatu dari Julie.
"Kalau begitu..." June memiringkan kepala.
"Aku harus coba memeriksakan keadaanku ke dokter lain. Ayo kita pergi, June." Julie perlahan berdiri.
"Apa kau yakin ingin pergi sekarang? Pusingmu sudah reda kan?" June memastikan.
"Lumayan. Aku tidak mau membuang waktu," sahut Julie. Dia mulai melangkah menyusuri pinggiran jalan. Julie mencari rumah sakit terdekat melalui informasi yang didapat dari internet.
Karena jauh, Julie harus menaiki taksi. Dia singgah di sebuah rumah sakit. Lalu segera memeriksakan dirinya.
Senja kebetulan sudah berakhir. June berubah wujud menjadi asap jingga. Dia tetap berada di sekitar Julie seperti biasa. Mendengarkan segala hal yang terjadi.
"Jadi kau merasa dirimu melupakan banyak hal tentang masa lalu?" kata Dokter yang memiliki nama Clarisa.
"Ya, aku bahkan tidak ingat beberapa momen SMA-ku dulu," jawab Julie.
"Apa kau pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?" Dokter Clarisa kembali bertanya.
"Ya. Itu terjadi satu tahun lalu."
"Lalu, apa dokter yang memeriksamu tidak menjelaskan keadaanmu?"
"Dia menjelaskan. Dia bilang aku baik-baik saja. Tapi aku merasa tidak baik-baik saja," ungkap Julie.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku menyarankanmu untuk melakukan pemeriksaan. Terutama terkait kondisi otakmu. Aku khawatir kau mengalami amnesia," ujar Dokter Clarisa.