Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 19 - Berpacaran Dengan Hantu


__ADS_3

...༻◈༺...


Julie dan June sedang duduk bersama di bangku taman. Keduanya menatap ke arah langit yang sama. Dimana cahaya jingga tampak berkilau menghiasi angkasa.


"Aku sangat ingin menggenggam tanganmu," ungkap June sembari menatap ke arah tangan Julie.


"Aku juga. Tapi mau bagaimana lagi. Jika bersentuhan saja terasa mustahil, apalagi menikah. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan nasib hubungan kita," imbuh Julie sembari mendengus kasar. Dia terdiam cukup lama.


"Andai aku masih hidup..." harap June. Dia mendadak teringat dengan kilas balik ingatannya tempo hari. June langsung memberitahu Julie mengenai hal itu.


"Aku ada di ingatanmu? Mungkin kau hanya berkhayal," tanggap Julie yang terkesan tenang.


"Tidak! Kau sangat berbeda. Entah kenapa aku merasa kalau kau lebih muda. Tidak seperti dirimu sekarang. Rambutmu bahkan berponi," jelas June panjang lebar.


Dahi Julie berkerut. "Jika kita memiliki hubungan di masa lalu, lantas kenapa aku sama sekali tidak mengingatmu? Aku bahkan tidak mengenalimu," ujarnya. Julie tentu tidak langsung percaya begitu saja.


Mendengar perkataan Julie, June menundukkan kepala. "Andai aku bisa mengingat semua tentang masa laluku... Aku bahkan tidak ingat mati karena apa?" ucapnya.


"Lupakan tentang masa lalu. Kita jalani apa yang ada saja sekarang," tutur Julie. Ia mengembangkan senyuman sampai menular kepada June. Keduanya saling bertukar tatapan lekat.


Julie mengajak June pulang bersamanya. Kini mereka sedang berada di dapur. Julie tengah menyiapkan makan malam. Gadis itu menanyakan banyak hal tentang hantu.


"Apa hantu bisa makan?" tanya Julie.


"Tentu bisa. Makanan yang biasanya kami makan akan cepat basi," jawab June. "Makanya, aku sarankan kau untuk menyimpan makanan di tempat tertutup," sarannya.


"Kalian curang sekali," komentar Julie. Dia baru selesai membuat spageti. Julie tentu tidak lupa menyediakan makanan untuk June.


"Apa sekarang kita berkencan?" tanya June. Ia sudah duduk di kursi dekat meja makan.


"Terserah kau mau menganggapnya apa." Julie menyodorkan sepiring spageti untuk June. Dia tentu tidak lupa menyediakan satu piring untuk dirinya sendiri.


"Ibumu tidak ke sini hari ini," ucap June seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.

__ADS_1


"Dia sepertinya sibuk. Atau mungkin akan datang terlambat," sahut Julie. Dia mulai menikmati spageti buatannya.


Dua minggu terlewat. Hubungan Julie dan June semakin dalam. Keduanya selalu bertemu setiap senja. Itu terjadi setiap hari. June tidak pernah absen menemani Julie. Bahkan saat hantu tersebut sedang berwujud asap jingga.


Sekarang June dan Julie ada di apartemen. Mereka menari dalam alunan musik. Lagu dari band favorit mereka diputar. Julie tidak berhenti tersenyum dan tertawa saat bersama June.


Tanpa diduga, kaki Julie tersandung. Meskipun begitu dia mampu menyeimbangkan diri agar tidak terjatuh. Akan tetapi insiden tersebut membuatnya berada lebih dekat dengan June.


Walau June dan Julie tak bisa bersentuhan, namun keduanya tetap bisa saling bertukar pandang. Jarak wajah mereka sekarang begitu dekat. Hanya helat beberapa senti.


Jantung Julie berdebar lebih cepat. Dia sempat lupa kalau sosok di hadapannya sekarang adalah hantu.


June sangat ingin mencium bibir Julie. Dia lantas mencobanya. Akan tetapi tubuhnya menembus badan Julie. Karena keadaan itu, June dan Julie menjaga jarak. Mereka sama-sama kecewa.


"Ayo kita makan malam saja," ajak Julie. Kali ini dia membuat steak untuk dirinya dan June.


Ketika hendak makan malam, pintu tiba-tiba terbuka. Axton muncul dari balik pintu. Lelaki tersebut berhasil memergoki Julie yang terlihat sedang bicara sendiri.


"Julie?" Axton mengerutkan dahi. Atensinya segera teralih ke arah satu piring steak utuh.


"Aku sengaja membuat dua." Julie memberi alasan.


"Apa kau bersama seseorang di sini? Aku tadi mendengarmu--"


"Aku bicara di telepon!" Julie lekas-lekas menjawab. Ia tidak mau Axton tambah curiga. Kakak lelakinya tersebut memasang tatapan menyelidik.


"Mana ponselmu?" tanya Axton. Sebab dia tidak melihat ada ponsel di sekitaran Julie.


"A-ada di kantong celanaku." Julie memberikan alasan dengan tergagap.


Axton mendengus kasar. Dia duduk ke kursi yang ada di sebelah Julie.


"Julie, aku tahu kejadian di pesawat itu membuat pikiranmu terganggu. Aku, Mom, dan Daddy, hanya ingin keadaanmu membaik." Axton menenggak salivanya sendiri untuk sejenak. Dia meneruskan, "bagaimana kalau kita pergi ke psikiater? Mungkin--"

__ADS_1


"Axton!" Julie menatap tajam. "Aku baik-baik saja! Tidak ada yang salah denganku! Apa kau sudah menganggap adikmu ini gila?!" tukasnya dengan dahi yang berkerut dalam.


"Julie! Psikiater tidak selalu menangani orang yang kena gangguan jiwa! Tapi juga bisa dijadikan sebagai bantuan terhadap segala masalah yang kita hadapi. Terutama tentang segala hal yang mengganggu pikiran kita!"


"Pikiranku sedang tidak terganggu! Enyahlah!" Julie terlanjur marah. Dia langsung masuk ke kamar dengan bantingan pintu.


June yang dapat menyaksikan pertengkaran sengit di antara Julie dan kakaknya, menatap Axton dengan perasaan kesal.


"Harusnya kau tidak bicara tentang psikiater, Ax!" timpal June sinis. Dia segera menyusul Julie.


Saat masuk ke kamar, June dapat melihat Julie meringkuk di atas ranjang. Gadis tersebut menangis tersedu-sedu.


"Tidak apa-apa, Julie... Axton mengatakan itu karena dia khawatir kepadamu," ujar June. Dia sangat ingin membelai kepala Julie. Namun tidak bisa.


Julie tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menangis.


June berusaha menghibur. Karena tidak bisa menyentuh, dia mencoba memberikan sentuhan dengan cara meniup Julie.


Hembusan angin dari mulut June dapat dirasakan Julie. Gadis itu segera merubah posisi menjadi duduk.


"June! Apa itu ulahmu?" tanya Julie.


"Apa itu berhasil?" June justru berbalik tanya. Ia mendekatkan wajah ke hadapan Julie.


Julie terkekeh. Dia berhenti menangis karena June berhasil menghiburnya.


Tanpa sepengetahuan Julie, Axton menguping dari depan pintu. Dia dapat mendengar suara tawa Julie.


"Julie... Kau membuatku khawatir..." ungkap Axton dengan semburat wajah sedih. Dia lantas memilih untuk tidak pergi. Axton duduk ke sofa dan akan menunggu Julie keluar.


Senja telah berakhir. Hari sudah sepenuhnya gelap. June otomatis berubah wujud. Membuat Julie merasa sedih. Hal paling dibenci gadis itu adalah kala melihat June menghilang.


Saat itulah Julie mendadak terpikirkan sesuatu. Dia menyalakan laptop. Lalu mencoba mencari sesuatu terkait hubungan percintaan di antara manusia dan hantu di internet. Mungkin saja ada informasi yang bisa membuat cintanya dan June bersatu.

__ADS_1


"Haruskah aku mati saja?" gumam Julie. Dia sudah mencari-cari informasi di internet. Namun hasilnya nihil.


Tanpa sengaja, Julie justru menemukan iklan paranormal terkenal. Paranormal tersebut menyebut dirinya dengan panggilan Madam Sharon. Hal yang membuat Julie tertarik adalah pesan dari iklan tersebut. Pesan itu berbunyi, 'Segalanya tidak ada yang mustahil. Namun di setiap keajaiban harus ada harga yang harus dibayar.'


__ADS_2