Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 46 - Ciuman Di Altar


__ADS_3

...-༻◈༺...


Julie malayangkan tatapan malas kepada Axton. Dia berucap, "Bukan salahku menikah lebih dulu darimu. Kau sendiri tidak kunjung melamar Agnes."


Axton memutar bola mata jengah. Dia tidak bisa membantah perkataan Julie.


"Julie! Ayo keluar. Shane sudah menunggu di altar," seru Sasya. Dia segera menghampiri Julie. Memberi pelukan tulus penuh kasih sayang. "You are so beautiful," pujinya seraya tersenyum penuh haru.


"Thanks, Mom." Julie balas tersenyum.


"Aku harap hidupmu akan bahagia bersama Shane," tutur Sasya.


Mata Julie berkaca-kaca. Ada sepercik rasa bersalah yang dia rasakan. Mengingat tujuan utamanya menikah adalah untuk memanfaatkan Shane. Sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Pemikiran tersebut tentu terlintas dalam benaknya.


Dengan dituntun oleh Axton dan Sasya, Julie melangkah pelan menuju altar. Dia langsung menjadi pusat perhatian semua orang.


Bersamaan dengan itu, senja tiba. Sosok June muncul di antara Shane dan pendeta yang bernama Isac.


Ketika Julie tersenyum, maka June dan Shane ikut tersenyum. Kedua lelaki itu sama-sama mengira kalau Julie tersenyum untuk mereka.


Saat tiba di altar, Axton dan Sasya beranjak. Di sana Julie dan Shane saling mengucap janji. Melakukan pernyataan satu sama lain.


Julie dan Shane berdiri saling berhadapan. Sedangkan June sengaja mengambil posisi di belakang Shane agar Julie bisa melihat.

__ADS_1


Setelah selesai melantunkan janji, Julie dan Shane dipersilahkan untuk berciuman. Akan tetapi mereka terlihat canggung. Julie dan Shane merasa malu.


"Ayo, Shane! Cium Julie!" seru Axton. Membuat June langsung mendelik.


"Ya, kalian sudah menikah. Kenapa malu?" Hillary ikut menimpali.


Sebenarnya Shane sangat ingin mencium Julie. Namun dia takut gadis itu akan menolak. Karena naif, Shane masih saja berpikir begitu. Padahal Julie telah resmi menjadi istrinya.


Sementara itu, Julie merasa tidak enak jika dirinya tidak mencium Shane. Dia takut orang-orang akan curiga.


"Maaf, June!" ujar Julie. Mata Isac dan Shane terbelalak saat mendengarnya berkata begitu. Hal serupa juga dirasakan June.


Tanpa disangka, Julie menarik kerah baju Shane. Lalu mencium bibir Shane.


Semua tamu langsung berseru dan bertepuk tangan. Kecuali June. Hantu tampan itu langsung menghilangkan diri.


Julie juga terlihat malu. Sebab orang yang diciumnya bukanlah June. Wajah Julie sama merahnya seperti Shane.


Setelah acara sakral selesai, Julie dan Shane segera berbaur dengan tamu. Mereka bicara pada teman-teman dan keluarga jauh.


Semua teman-teman SMA Julie tidak menyangka perempuan itu akan menikah dengan Shane. Julie sendiri sama sekali tak peduli. Hal yang paling dipedulikannya sekarang adalah June. Sebab keberadaan hantu tampan itu tidak terlihat sejak dirinya nekat mencium Shane.


'June kau dimana?' Julie memanggil dalam hati seraya mengedarkan pandangan.

__ADS_1


Tangan seseorang menyentuh lengan Julie. Perempuan itu lantas menoleh. Dia menyaksikan pemilik tangannya adalah Shane.


"Maukah kau berdansa denganku? Semua orang ingin melihat kita berdua melakukannya. Ta-tapi bukan berarti aku melakukan ini karena suruhan orang. Ini juga atas kemauanku. Aku..."


"Shane." Julie tidak bisa menahan tawa saat mendengar Shane bicara dengan terbelit-belit. "Ayo kita lakukan," ujarnya.


Julie dan Shane lantas berdansa. Semua pasang mata tertuju kepada mereka. Bertepatan dengan itu, June muncul di tengah-tengah banyaknya orang yang menonton. Menatap dengan penuh kecewa.


June mengepalkan tinju di kedua tangan. Dia sangat marah saat melihat bagaiman cara Shane menatap Julie. Apalagi saat lelaki berkacamata itu tersenyum.


Aura hitam seketika mengelilingi June. Angin kencang mendadak berhembus. Mengharuskan Julie dan Shane berhenti berdansa.


Dari samping June, Madam Sharon muncul. "Tenanglah. Ini memang resiko yang harus kau hadapi. Tapi kau harus ingat, diakhir nanti kau yang bahagia. Jika Shane memang benar-benar bersedia melakukan ritual pengikatan," ujarnya.


"Aku pastikan dia akan bersedia." June menyahut dengan raut wajah serius. Masih menatap Shane yang disertai perasaan kesal. Madam Sharon tersenyum. Dia segera pergi entah kemana.


Tak lama kemudian, Julie akhirnya menyadari kehadiran June. Perempuan itu segera pamit dari Shane. Lalu bergegas mengajak June bicara.


"Ikut aku, June." Julie bicara tenang sambil melewati June. Dia mengajak hantu tampan itu ke tempat sepi.


"Maafkan aku. Semua orang akan curiga kalau aku tidak mencium Shane," ungkap Julie. Membahas ciuman saat di altar tadi.


"Aku mengerti." June mengangguk. Dia merasa lebih baik setelah mendengar ucapan Madam Sharon tadi. Namun bukan berarti kemarahannya terhadap Shane hilang begitu saja.

__ADS_1


"Aku memikirkan apa yang terjadi setelah ini. Kau dan Shane tidak akan melakukannya kan?" cetus June. Dia bermaksud menyindir perihal kewajiban yang dilakukan oleh pasangan suami istri secara umum.


Julie membulatkan mata. Dia gigit jari. "Kau benar. Aku lupa tentang itu," ucapnya.


__ADS_2