
...༻◈༺...
Julie mengamati foto yang didapatkannya. Dalam foto itu, dia melihat dirinya dan June masih muda.
"Aku masih berponi saat itu. Apa fotonya diambil ketika aku dan June SMA? Bukankah itu berarti kami bersekolah di tempat yang sama?" Julie menyimpulkan satu-satunya petunjuk yang dia dapat.
Langsung terlintas nama Shane di kepala Julie. Dia segera keluar dari ruang atap. Kemudian mengambil ponsel dan menghubungi Shane. Mengingat posisinya sekarang cukup jauh dari California.
Jantung Julie berdebar-debar. Dia sudah tidak sabar ingin menghubungkan semua benang merah yang telah terputus.
Telepon pertama tidak diangkat oleh Shane. Julie lantas melakukan panggilan kedua. Saat itulah Shane mengangkat telepon.
"Shane!" seru Julie.
"Ya? Ada apa, Julie?" tanggap Shane dari seberang telepon.
"Ada yang ingin aku tanyakan. Ini mengenai masa SMA-ku! Apa dahulu aku punya kekasih?" tanya Julie. Dia menenggak salivanya sendiri.
Shane terdiam. Membuat dahi Julie berkerut. Dia memanggil, "Shane?"
"Ma-maaf. Aku hanya bingung kenapa kau tiba-tiba bertanya," ujar Shane.
"Aku pernah bilang kepadamu. Akhir-akhir ini banyak sesuatu yang tidak aku ingat. Aku hanya memastikan tidak melupakan orang penting dalam hidupku," jelas Julie.
"Begitu..." Shane mencoba memahami. Dia meneruskan, "orang sepopuler dirimu tentu punya pacar. Dia juga sangat populer saat sekolah. Tidak mungkin kau melupakan June bukan?"
"Ju-june? Dia juga satu SMA dengan kita?" mata Julie membulat sempurna. Bagaimana bisa dia melupakan sosok penting seperti June? Gadis itu sekarang tidak hanya mencurigai keluarganya, tetapi juga diri sendiri.
"Jadi kau juga lupa tentang June?" pertanyaan Shane berhasil memudarkan lamunan Julie.
"Ti-tidak! Tentu tidak. Aku hanya tiba-tiba teringat kenangan saat bersamanya," kilah Julie. Dia memutuskan menyembunyikan masalahnya terlebih dahulu. Julie merasa masalah yang sekarang dirinya hadapi adalah sesuatu hal besar.
"Aku turut berduka. Maaf baru mengatakannya sekarang, aku takut itu akan mengganggumu," ungkap Shane. Dari perkataannya itu Julie bisa menyimpulkan kalau Shane tahu June sudah meninggal.
Julie tidak mau terlalu kentara bahwa benar-benar melupakan June. Dia lantas mencoba membuat pembicaraan yang akan mendorong Shane memberitahu banyak hal tentang June.
"Terima kasih, Shane. Aku tidak menyangka dia pergi begitu cepat. Aku benar-benar kaget saat mendengar berita tentang kecelakaan June," ujar Julie. Dia tidak sabar menunggu tanggapan Shane.
__ADS_1
"Ya, aku tahu. Maaf, sekali lagi." Sayangnya Shane tidak terpancing. Julie segera mengakhiri pembicaraannya dan Shane di telepon.
Julie merebahkan diri ke kasur. Dia berusaha menenangkan pikiran. Rasa pusing kembali menekan kepalanya. Hingga tak terasa senja akhirnya tiba. Sosok June langsung duduk ke tepi ranjang. Tepat di sebelah Julie.
"Jadi kita pernah berpacaran saat SMA? Julie, Aku benar-benar penasaran sekarang! Aku ingin mengetahui segala hal tentang hubungan kita," ungkap June sambil menepuk dada.
"Kau pikir aku tidak?" balas Julie. Dia merubah posisi menjadi duduk. "Petunjuk kita hanya sedikit. Aku merasa masalah yang kita hadapi sekarang adalah sesuatu hal besar," sambungnya.
June membisu. Sampai dia terpikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau kita mencari tahu tentang diriku terlebih dahulu?" usulnya.
Pupil mata Julie membesar. "Kau benar. Tapi kita harus memulai dari mana?" sahutnya dengan kening yang mengernyit.
June berpikir sejenak. Ketika sudah menemukan jawaban, dia berkata, "Kita datangi SMA kita dahulu. Kita bersekolah di kota ini bukan?"
Julie meliarkan bola matanya. Dia segera mengambil tas dan pergi dari rumah. Kebetulan sekali Julie sedang berada di kampung halamannya. Jadi dia tidak akan menempuh jarak jauh untuk mendatangi sekolahnya dulu.
"Ternyata rasa ketertarikanku kepadamu memiliki alasan yang jelas. Aku harusnya tahu sejak awal," imbuh June. Dia berjalan bersama Julie.
"Sepertinya di sini aku yang salah. Ada sesuatu yang salah denganku, June. Tapi pertama-tama kita cari tahu segala hal tentangmu terlebih dahulu," sahut Julie.
Merasa June tidak mengikuti, Julie lantas menoleh ke belakang. Dia segera menghampiri June.
"Kenapa?" tanya Julie.
"Aku merasa rumah ini tidak asing bagiku," jawab June.
"Jangan-jangan ini rumahmu." Julie menduga. Dia saling bertukar pandang dengan June.
Tanpa pikir panjang, Julie berjalan ke depan pintu rumah yang menarik perhatian June. Dia menekan bel pintu, sampai seseorang akhirnya menyambut.
"Halo?" seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Dia terlihat bingung.
"Aku Julie. Apa benar ini rumah June?" tanya Julie tanpa basa-basi.
"June?" sang wanita paruh baya semakin kebingungan. "Aku rasa kau salah orang. Aku tidak tahu siapa itu June," tambahnya.
Julie dan June merasa kecewa. Julie lantas meminta maaf dan bergegas pergi.
__ADS_1
"Jika itu benar rumahku, aku pikir orang yang mengenalku sudah pindah dari sana," cetus June.
"Aku juga berpikir begitu. Andai memiliki keluarga yang meninggal karena kecelakaan, maka aku akan melakukan hal sama. Yaitu pindah dari tempat yang membuatku selalu ingat dengan orang itu." Julie berhenti melangkah. Matanya mendadak berkaca-kaca. Tiba-tiba terlintas sesuatu yang mengkhawatirkannya.
"Julie? Apa kau menangis?" June yang menyaksikan, tentu cemas. Melihat Julie menangis adalah sesuatu yang paling dibencinya. "Kumohon jangan menangis. Apa aku melakukan hal yang salah? Atau rasa pusingmu kembali lagi?" cecarnya penuh perhatian.
"June..." air mata Julie mulai menetes. "Shane bilang kita pernah berpacaran. Bagaimana kalau kebenaran yang kita temukan akan menjadi bomerang? Aku takut semuanya malah akan membuat kita sakit..." lirihnya sembari berusaha berhenti terisak.
"Julie, semuanya akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi, kau tahu aku selalu di sampingmu. Tapi kita tidak bisa membiarkan kebenaran terus disembunyikan. Apalagi ini berkaitan erat denganmu yang anehnya melupakan banyak hal tentang masa lalu," tutur June. Mencoba menenangkan Julie.
Julie menatap June. Dia yang sempat kalut, perlahan bangkit. Lalu berhenti menangis. Julie dan June kembali melangkah menuju SMA mereka dulu.
Selang sekian menit, Julie dan June tiba di tempat tujuan. Mereka menyaksikan sekolah tampak sepi. Pintu pagar juga terlihat dikunci dengan gembok.
"Benar juga. Sekarang sudah senja. Jelas tidak ada orang di sini." June menyimpulkan.
"Tidak. Lihat!" Julie melihat ada sebuah truk kecil berhenti di halaman sekolah. Truk kecil itu tampak tua dan butut.
Julie buru-buru menghampiri pemilik truk kecil tersebut. Orang itu adalah seorang lelaki paruh baya berjanggut yang mengenakan topi.
"Permisi... Apa kau akan masuk ke dalam?" tanya Julie.
"Ya, tentu saja. Aku bekerja di sini," jawab lelaki itu.
"Benarkah? Kalau begitu, bolehkah aku minta bantuan? Aku ingin mencari tahu data salah satu alumni sekolah ini," jelas Julie.
"Hei! Aku hanya tukang bersih. Aku tidak berhak dengan data informasi yang kau--" Lelaki paruh baya bernama Jacob itu berhenti bicara ketika melihat Julie mengeluarkan lembaran uang dari tas.
"Aku akan membayar!" seru Julie. Dia tidak punya pilihan lain, karena fakta yang ingin diketahuinya sangatlah penting.
Di sebelah Julie, June tersenyum miring. Ide untuk memberikan uang kepada Jacob memang berasal darinya. June melakukannya karena bisa menduga bahwa Jacob adalah orang yang sedang kesulitan ekomoni. Semuanya tentu bisa dilihat dari truk kecil Jacob yang butut.
..._____...
Catatan Author :
Maaf upnya bolong-bolong ya guys. Tapi hari ini aku sudah daftar crazy up. Kalau lolos, nanti mulai senin bakalan up 3 bab perhari ya...
__ADS_1