
...༻◈༺...
June memegangi tengkuk Julie. Ciuman mereka semakin intim. Namun segalanya harus berakhir saat ponsel Julie berdering.
Julie segera memeriksa ponsel. Dia menyaksikan nama Axton tertera di layar ponsel. Tanpa sepengetahuannya dan June, Axton sejak tadi memperhatikan dari depan gedung apartemen. Dia dapat mengenali Julie karena adiknya itu sempat hendak keluar dari mobil.
Axton juga sukses melihat Julie dan June berciuman. Atau bisa dibilang dia menyaksikan Julie berciuman dengan Shane. Mengingat June sedang mengambil alih badan lelaki culun tersebut.
Julie segera keluar dari mobil. June lantas menjalankan mobil untuk membawa Shane kembali pulang.
Atensi Julie langsung tertuju ke arah Axton. Dia menggigit bibir bawahnya karena takut lelaki itu memergokinya berciuman.
"Kau sepertinya dekat dengan putra Paul Davison itu. Atau kau sengaja mendekatinya karena..."
"Tidak! Aku mendekatinya karena menyukainya. Semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu," bantah Julie. Dia meninggalkan Shane begitu saja.
Axton Membulatkan mata. Kata 'suka' yang disebutkan Julie untuk Shane, menarik perhatiannya. Dia mengikuti Julie ke apartemen.
"Julie! Aku tidak salah dengar bukan? Kau tadi bilang suka dengan Shane?" Axton menuntut jawaban. Dia dan Julie baru masuk ke apartemen.
"Iya, kau tidak salah dengar." Julie menjawab sambil melepas tas dan mantelnya.
"Jadi itulah alasan kau dan Shane berciuman?" tanya Axton lagi.
Mengetahui Julie bisa dekat dengan seorang lelaki, tentu adalah kabar membahagiakan baginya. Terlebih Julie baru saja mengetahui fakta tentang masa lalu. Meskipun begitu, Axton tidak bisa membuang rasa curiganya dari Julie. Dia takut gadis itu mendekati Shane hanya karena ada tujuan tertentu.
__ADS_1
"Ya." Julie menjawab singkat.
"Kau yakin?" Axton sulit untuk percaya.
Julie memejamkan mata sejenak. Jika dia ingin meyakinkan Shane, maka dirinya harus meyakinkan orang-orang terdekatnya terlebih dahulu. Terutama Axton.
"Shane bisa membuatku tersenyum. Aku merasa hubungan yang terjalin di antara kami dapat membuatku bahagia. Aku berusaha melakukan saran yang kau berikan kepadaku tempo hari," tutur Julie.
"Maksudnya kau bersedia merelakan segala yang telah terjadi?" tanggap Axton.
Julie mengangguk. "Aku melakukannya karena ingin menjalani kehidupan bahagia," ungkapnya. Julie jelas sedang berbohong. Apa yang dilakukannya sekarang mungkin masuk ke dalam rencananya dan June.
"Julie..." Axton memeluk Julie. Dia sangat menyayangi adik perempuannya tersebut. Axton merasa lega Julie berucap begitu.
"Sudah kubilang dia lelaki baik. Jauh lebih baik dari lelaki yang kau kenalkan kepadaku," tukas Julie. Dia mengingat rekan bisnis Axton yang nyaris memperkosanya.
"Maaf, Julie. Harus berapa kali aku meminta maaf untuk hal itu," ujar Axton seraya memutar bola mata jengah.
Julie terkekeh. Dia beranjak masuk ke kamar. Berniat ingin membersihkan diri.
Di sisi lain, June baru saja tiba di apartemen Shane. Dia tidak lupa menghilangkan jejak panggilannya di ponsel Shane. Setelah menghapus apa yang dirasa perlu, June langsung merebahkan diri ke ranjang. Kemudian keluar dari badan Shane.
June yang berwujud asap jingga, memilih tetap berada di sekitar Shane. Setidaknya sampai lelaki tersebut bangun. June hendak memastikan apakah kedoknya ketahuan atau tidak.
...***...
__ADS_1
Matahari telah menyapa. Shane bangun dari tidur. Dia merasakan tubuhnya terasa lelah sekali.
Shane meregangkan badannya terlebih dahulu. Ia memasang kacamata dan mengambil ponsel. Shane meletakkan ponselnya ketika tidak menemukan notifikasi apapun. Jelas sudah bahwa dirinya tidak merasakan keanehan. Jadi untuk sekarang ulah June belum ketahuan.
Shane melakukan aktifitas seperti biasa. Dia pergi bekerja. Namun saat dalam perjalanan, Shane mendapat telepon dari Paul. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Shane, aku minta maaf atas apa yang terjadi tadi malam. Aku benar-benar tidak mau membahas apa yang kau bicarakan itu. Semua kulakukan demi kebaikan keluarga kita. Aku harap kau mengerti," ucap Paul dari seberang telepon.
Dahi Shane berkerut. Dia tentu bingung harus menjawab apa. Sebab orang yang menemui Paul tadi malam adalah June.
"Apa maksud Ayah? Tadi malam? Ayah bicara apa? " Shane menuntut penjelasan. Dia tidak merasa menemui Paul tadi malam.
Paul terdiam dalam sepersekian detik. Dia lantas menyimpulkan, "Baguslah kalau kau bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Lupakan saja semuanya, oke?"
Shane semakin dibuat bingung. Apalagi ketika Paul mengucapkan salam pamit dan mematikan panggilan telepon.
"Tadi malam? Apa aku bertemu dengan Ayah tadi malam?" Shane mencoba mencari jawaban sambil mengemudikan mobil. Seberapa keras dia berusaha mengingat, dirinya tentu tidak bisa menemukan jawaban.
Shane memilih melupakan segalanya. Terutama saat pesan dari Julie mendadak masuk.
Wajah Shane yang tadinya masam, seketika dihiasi oleh senyuman cerah. Dia sampai rela menepikan mobilnya hanya untuk membaca pesan Julie dengan fokus.
'Shane, kau ingat kita akan bertemu nanti sore kan? Kebetulan besok adalah hari natal. Maukah kau pergi jalan-jalan ke Nevada. Aku ingin kau menceritakan banyak hal tentangku di sekolah kita dulu.' Begitulah pesan dari Julie untuk Shane.
"Shane! Keberuntungan apa yang menimpamu hingga gadis secantik Julie tertarik kepadamu?" gumam Shane kesenangan. Dia bermonolog kepada dirinya sendiri.
__ADS_1