
...༻◈༺...
Fred perlahan mendekat. Dia memanfaatkan kesempatan untuk mencium bibir Julie. Akan tetapi gadis itu langsung menghindar.
"Ma-maaf, aku rasa terlalu cepat..." gagap Julie dengan dahi yang berkerut samar.
"Aku pikir kau juga menyukaiku," tanggap Fred sembari mengekang Julie lebih kuat. Dia sepertinya tidak terima terhadap penolakan Julie.
"Fred..." Julie mencoba melepaskan tangan Fred yang masih belum berhenti memeluknya.
"Ayolah, Julie... Axton memberitahuku kalau kau sudah lama sendiri. Aku yakin kau mengharapkan sentuhan dari lelaki," ujar Fred. Dia membalikkan Julie menghadap ke arahnya. Lalu memegangi kedua tangan gadis itu.
Tanpa basa-basi, Fred menyumpal bibir Julie dengan ciuman. Hal itu tentu adalah paksaan bagi Julie.
June yang sejak tadi melihat, semakin dibuat marah. Dia segera menghampiri Fred. June berusaha menyerang Fred. Tetapi tidak bisa. Menyentuh lelaki itu bahkan dia tidak mampu.
Sementara Julie, dia berusaha melakukan perlawanan sebisa mungkin. Sampai dia akhirnya menginjak kaki Fred.
Serangan Julie membuat Fred mengerang kesakitan. Ia reflek melepaskan kekangannya.
Julie memanfaatkan kelengahan Fred untuk lari. Dia mengambil tas dan bergegas pergi.
"Julie!" panggil Fred. Dia buru-buru mengejar Julie.
Dengan langkah laju, Fred berhasil mencegah kepergian Julie. Dia menarik gadis itu dan mendorongnya ke sofa.
Posisi Fred sekarang berada di atas badan Julie. Dia memegangi kedua tangan Julie sekuat tenaga.
"Ayolah, Julie... Akui saja kalau kau juga menginginkanku," kata Fred.
"To--Mmmphh!" Julie mencoba berteriak untuk meminta tolong. Namun Fred lagi-lagi mencium bibir gadis tersebut. Kali ini dia melakukannya dengan buas.
"Hentikan!!!" pekik June. Karena sangat marah, aura gelap kembali muncul mengelilingi tubuhnya. Mata June juga tampak memerah. Ia menyalangkan mata hanya ke arah Fred.
Perlahan angin kencang datang. Berhasil membuat semua jendela terbuka. Seluruh benda yang ada di rumah bergetar hebat. Ada yang jatuh, bahkan pecah sendiri.
Lampu hias yang ada di langit pelafon, bergoyang ke sana kemari. Sehingga menimbulkan suara decitan.
Fred segera melepaskan Julie. Dia kebingungan menyaksikan fenomena aneh di rumahnya. Saat itulah Julie mendorong Fred sampai jatuh terduduk ke lantai.
__ADS_1
"Jangan harap kau bisa menjadi temanku! Mulai sekarang, jangan pernah temui aku!" tegas Julie. Dia bergegas pergi meninggalkan rumah Fred.
Sebelum benar-benar pergi, Julie menatap June yang masih terlihat marah. Dia bisa melihat sisi mengerikan June. Mata hantu tampan tersebut masih tampak memerah.
Julie melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Dia ingin cepat-cepat kembali ke apartemen.
Fred terlihat masih mematung di tempat. Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Jujur saja, Fred merasa heran dengan angin kencang yang tiba-tiba masuk ke rumahnya.
Karena Julie berhasil melepaskan diri dari Fred, amarah June perlahan mereda. Dia segera menyusul Julie dan memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja.
Kini Julie sedang berjalan menuju stasiun kereta. Dia menyaksikan langit senja mulai dimakan oleh gelap.
"Kau tidak apa-apa?" tanya June yang tiba-tiba muncul.
"Ya, semuanya karena bantuanmu. Terima kasih," sahut Julie. Dia lantas menundukkan kepala.
"Kau pasti merasa sakit hati. Lelaki yang ingin kau percaya, justru melakukan hal hina seperti itu."
"Aku berusaha membuka diri. Tapi sepertinya ini tidak berjalan lancar. Mungkin aku ditakdirkan tidak akan punya teman."
"Aku temanmu!" senyuman khas June yang menenangkan kembali.
Julie lantas membalas senyuman June. Dia merasa tidak akan pernah lepas dari hantu tampan tersebut. Bahkan saat June tidak ada, Julie tetap memikirkannya.
Julie baru saja masuk ke kereta. Dia duduk ke salah satu kursi yang ada. Tak lama kemudian, June duduk ke sebelahnya.
"Kau terlihat mengerikan saat marah," ujar Julie seraya meletakkan ponsel ke telinga. Dia tentu tidak ingin disebut orang gila oleh orang-orang sekitar.
June tersenyum. Dia senang melihat Julie mulai baik kepadanya.
"Maaf, kau pasti takut melihat keadaanku begitu," sahut June.
"Tapi kalau kau tidak begitu, aku pasti akan diperkosa oleh bajingan itu."
"Aku hanya berusaha membantu sebisa mungkin," jawab June. Menatap Julie dengan sudut matanya.
Julie tersenyum. Lalu mengambil headset dari dalam tas. Dia hanya mengenakan salah satu headset dan membiarkan yang satunya tidak dipakai. Julie sengaja membiarkannya agar June juga dapat mendengarkan musik.
"Ini lagu terbaru The 1975," ungkap Julie.
__ADS_1
"Sudah kuduga. Dugaanku selama ini benar!" sahut June. Dia mendengarkan lagu sambil menggerak-gerakkan kaki.
Selang sekian menit, kereta tiba di tempat tujuan. Julie keluar dari kereta dalam keadaan di ikuti oleh June.
"Hahh... Senja sudah berakhir. Waktunya aku pergi," ujar June.
"Bisakah kau beritahu aku? Kenapa kau hanya muncul saat senja?" tanya Julie. Dia menoleh ke arah June. Namun hantu itu sudah menghilang.
Julie mendengus kasar. Dia segera melangkah menuju apartemen.
Setibanya di apartemen, Julie disambut oleh kehadiran Sasya dan Axton seperti biasanya. Julie menghampiri Axton dengan raut wajah cemberut.
"Ax! Apa kau tahu kalau temanmu Fred itu adalah lelaki kurang ajar?!" timpal Julie.
Dahi Axton berkerut. "Apa maksudmu?" tanyanya. Tak mengerti.
Julie memutar bola mata jengah. "Dia tadi hampir saja memperkosaku!"
"Apa?!" Axton dan Sasya terkejut bersamaan. Mengingat Julie adalah orang tersayang mereka.
"Bagaimana bisa, Julie? Lalu bagaimana? Kau baik-baik saja kan?" Axton yang cemas, memberikan pertanyaan beruntun.
"Siapa yang melakukannya?! Beritahu aku, biar aku laporkan dia ke kantor polisi!" Sasya juga sama khawatirnya seperti Axton.
"Dia temannya Axton, Mom! Axton sendiri yang menyuruhku untuk dekat dengannya," adu Julie sembari menunjuk Axton dengan jari telunjuk.
"Apa?! Axton! Kau!" Sasya langsung mempelototi Axton.
"Aku tidak tahu, Mom! Fred hanyalah rekan bisnisku!" Axton mencoba melakukan pembelaan. "Tapi tenang saja. Aku akan memberinya pelajaran!" sambungnya bertekad.
"Sebaiknya kita laporkan saja dia ke polisi!" seru Sasya.
"Sudahlah. Yang terpenting aku baik-baik saja," ucap Julie sembari berjalan menuju kamar. Sedangkan Axton dan Sasya terdengar masih berdebat. Mereka berniat melaporkan Fred ke polisi.
Julie tengah berada di kamar. Ia berdiri di depan jendela. Menyaksikan langit yang sepenuhnya sudah menggelap.
Asap jingga tiba-tiba muncul. Julie lantas membuka jendela dan membiarkan asap tersebut masuk.
"Kau sepertinya tidak berbahaya. Tapi kenapa kau merasuki Shane saat itu? Lalu mencoba bergabung bersamaku dan Fred?" Julie mengajak sosok berbentuk asap itu bicara. Sampai sesuatu hal terlintas dalam benaknya.
__ADS_1
Julie sangat ingat kalau Shane bersikap sangat berbeda saat dirasuki sosok asap jingga tersebut. Entah kenapa dia merasa kalau sosok Shane saat itu terkesan banyak bicara. Persis seperti June.
"Tunggu dulu. Apa kau June?" cetus Julie. Menatap asap berwarna jingga dengan mata yang memicing penuh curiga.