Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 28 - Melupakan Bukan Sesuatu Hal Mudah


__ADS_3

...༻◈༺...


Benar saja, saat mendengar suara Lucas, Anthony membukakan pintu. Saat itulah Julie keluar dari tempat persembunyian. Bergegas berlari ke hadapan Anthony.


"Tuan William," panggil Julie seraya tersenyum.


"I know it." Anthony menggeleng tak percaya. Dari kemunculan Julie, dia bisa menduga bahwa Lucas adalah suruhan gadis itu.


"Sekarang aku boleh pergi kan?" tanya Lucas.


"Tentu saja. Terima kasih, Lucas!" jawab Julie. Lucas lantas beranjak.


"Apa kau seharian berada di sekitar sini? Ini sudah hampir malam. Sebaiknya kau pulang!" geram Anthony. Dia hendak menutup pintu. Akan tetapi langsung dihentikan oleh Julie.


"Aku bisa melihat hantu! Dan Molly ada bersamaku sekarang!" seru Julie sambil menahan pintu agar tidak tertutup.


Anthony memicingkan mata. Dia memasang raut wajah serius. Tanpa diduga, Anthony memecahkan tawa. Hal itu menunjukkan kalau dirinya tidak mempercayai pernyataan Julie.


"Sepertinya kau harus membuktikannya, Julie." June berujar. Dia menatap Molly dan melanjutkan, "Molly, beritahu Julie pengalaman penting yang pernah kau lakukan bersama ayahmu!"


Molly mengangguk. Dia segera memberitahukan kejadian tak terlupakan bersama Anthony.


"Tuan William. Molly memberitahuku cerita yang hanya diketahui olehnya dan dirimu. Saat Molly berusia tiga belas tahun, kau dan dia pernah membuat kue bersama. Katanya kalian menggosongkan tiga kue sekaligus. Tapi kau menyuruh Molly merahasiakannya dari istrimu," ungkap Julie. Membuat tawa Anthony seketika berhenti. Lelaki tersebut diam seribu bahasa.


"Molly juga bercerita kalau kau dan dia pernah mengambil barang di mini market tanpa membayar." Julie menambahkan cerita lain agar bisa meyakinkan. Ucapannya tentu berdasarkan cerita yang diberikan Molly.


"Bagaimana kau tahu? Siapa kau sebenarnya?" Anthony tertegun.

__ADS_1


"Karena Molly ada bersamaku sekarang," tanggap Julie.


"Tapi--"


"Sekarang apakah aku boleh masuk? Aku akan ceritakan semuanya," sergah Julie. Anthony yang mulai percaya, akhirnya mengizinkan Julie masuk ke rumah.


Julie disuruh duduk di sofa. Dia dan Anthony duduk saling berhadapan.


"Molly minta bantuanku untuk menemuimu. Aku sebenarnya bukan teman sekolah Molly. Tapi baru saja mengenal Molly kemarin." Julie menjelaskan panjang lebar.


"Dia ingin kau menemuiku?" Anthony sepertinya masih kesulitan mencerna apa yang dikatakan Julie.


"Benar. Katanya dia tidak bisa pergi ke alam baka karena kau masih belum merelakan kematiannya," ucap Julie.


Anthony membisu. Matanya berembun. Sampai akhirnya dia tidak kuasa menahan tangis. Julie lantas mendekatkan tisu yang ada di meja kepadanya.


"Aku tidak mau Molly terlupakan. Dia juga satu-satunya orang yang selalu menemaniku. Bahkan saat dia sudah tiada sekali pun," isak Anthony. Dia terus bercerita. Katanya Molly dahulu tidak pernah mempunyai teman. Ketika gadis itu berhasil memiliki teman, pada akhirnya Molly hanya menjadi bahan bulian.


Bahkan saat meninggal, hampir tidak ada orang yang datang ke pemakaman Molly. Di titik itulah Anthony merasa sakit hati. Keluarga dan kerabat juga tidak ada yang datang. Pemakaman begitu sepi. Orang yang menemani Anthony hanya para pihak pemakaman bayarannya.


"Jadi karena itu Ayah tidak rela aku pergi?! Ayah egois sekali! Kenapa kau tidak mencoba membuka diri?! Bagaimana kau bisa hidup seperti itu, Ayah? Pantas saja kita tidak pernah punya satu pun teman!" Molly memarahi Anthony. Dia tidak peduli meski ayahnya itu tidak mendengar.


Sama seperti Anthony, Molly juga menangis. "Ayah... Aku tidak masalah dilupakan. Aku ingin hidupmu bahagia... Jadi lupakanlah aku..." ucapnya seraya berjongkok di hadapan Anthony.


Julie dan June yang melihat, ikut terbawa suasana. Julie sampai menitikkan air matanya.


"Julie, beritahu Ayahku mengenai apa yang aku katakan tadi," kata Molly.

__ADS_1


Julie segera angkat suara. Anthony justru menangis histeris. Bagaimana bisa seorang ayah melupakan putri semata wayangnya? Terlebih dia dan Molly sangatlah dekat.


"Tuan William... Jika kau tidak bisa merelakan Molly, maka dia tidak bisa pergi ke alam baka. Dan jika itu terjadi, maka Molly akan menjadi roh jahat. Itu bukanlah sesuatu yang baik untuknya," tutur Julie. Berharap ucapannya dapat menenangkan Anthony.


"Roh jahat?" Anthony mulai meredakan tangis.


Julie mengangguk. "Jika kau menyayanginya, maka relakanlah..." lirihnya.


Anthony memejamkan mata. "Aku perlu waktu untuk melakukannya. Dan aku juga benar-benar tidak tahu cara melakukannya. Molly sangat penting bagiku," jawabnya.


June menatap Molly. Dia tentu paham apa yang dimaksud Anthony. Melupakan sesuatu memang membutuhkan waktu. Apalagi jika itu berkaitan dengan seseorang yang disayang.


"Ayahmu benar, Molly. Dia butuh waktu," ujar June.


Molly mengangguk. Dia segera menjauh dari posisi Anthony.


Setelah mengatakan apa yang perlu diucapkan, Julie pamit. Dia berjanji akan berkunjung lagi nanti.


Kini Julie berjalan menyusuri jalanan trotoar bersama June. Sedangkan Molly melangkah lebih dulu di depan mereka.


"Aku harap semuanya berjalan lancar untuk Molly," gumam Julie.


"Sepertinya ayahnya Molly hanya butuh kegiatan rutin agar bisa melupakan Molly dengan cepat," cetus June.


Julie menoleh dengan spontan. "Itu ide bagus, June! Aku bisa memberikannya posisi untuk bekerja di perusahaanku," ujarnya.


June tersenyum. Dia merubah ekspresi menjadi serius dan berkata, "Aku tadi melihat Shane dalam ingatanku!"

__ADS_1


"Apa? Shane? Di ingatanmu?" Julie otomatis heran.


__ADS_2