
...༻◈༺...
"Kalian akan menikah?" Paul memastikan.
"Iya, Ayah." Shane mengangguk sambil tersenyum malu. Dia juga tak lupa melirik ke arah Julie.
Paul dan Hillary bertukar pandang. Mereka kehabisan kata-kata. Mengingat kabar yang diberikan Shane sangat mendadak.
"Itu keputusan yang bagus. Tapi apakah tidak terlalu cepat? Kalian baru saja bertemu kan? Kenapa tidak mau saling mengenal lebih dalam lagi?" Hillary mencoba merubah pemikiran Shane dengan cara halus.
"Kami--"
"Itu tidak perlu. Aku sangat mengenal Julie lebih dari apapun." Shane memotong perkataan Julie. Dia berucap dengan percaya diri.
Julie tertegun saat mendengar perkataan Shane. Terdengar tulus. Lelaki itu juga terlihat lebih percaya diri dibanding biasanya. Jelas apa yang dikatakannya bukanlah kebohongan.
Senyuman tipis mengembang di wajah Julie. Entah kenapa dia merasakan adanya debaran di jantungnya.
"Sepertinya keputusan kalian sudah sangat bulat. Tapi kapan kalian berniat ingin menikah?" cetus Paul. Menatap Julie dan Shane secara bergantian.
"Kami--"
"Secepatnya, yang pasti setelah dua pihak keluarga masing-masing saling setuju. Lagi pula umurku dan Shane sudah tidak muda. Kami berharap bisa memiliki anak secepat mungkin," ungkap Julie.
Dua lelaki langsung membulatkan mata saat mendengar ucapannya. Mereka tidak lain adalah June dan Shane. Keduanya sama-sama terkejut. Namun dalam pemahaman yang berbeda.
__ADS_1
Wajah Shane seketika memerah malu. Mendengar Julie menyinggung perihal anak, dia jadi membayangkan proses pembuatan anak itu sendiri. Meskipun begitu, Shane langsung menggeleng. Ia berusaha agar tidak menjadi lelaki kurang ajar. Terutama di mata Julie.
Berbeda dengan Shane, June justru merasa marah. Dia melipat tangan di dada. Mendelik ke arah Shane.
"Kenapa wajahmu memerah, Shane? Aku yakin kau pasti membayangkan hal yang mesum di kepalamu," sindir June. Membuat Julie langsung melirik ke arahnya.
"Haruskah kau membicarakan tentang anak segala?" timpal June seraya mengangkat dua tangan ke udara.
Julie mengabaikan June. Mengingat dia ada di hadapan umum sekarang. Julie fokus meneruskan obrolan bersama kedua orang tua Shane.
Di sela-sela kegiatan makan, Paul dan Hillary tiba-tiba minta izin pergi sebentar. Keduanya hendak bicara empat mata. Kemungkinan membahas perihal Shane.
Julie segera memberi kode pada June melalui tatapan. June yang mengerti, segera mengekori Paul dan Hillary. Kedua orang tua Shane itu memilih tempat yang jauh dari keramaian.
"Paul! Ini benar-benar gila! Dia gadis amnesia itu kan?" ujar Hillary. Membuat mata June langsung membulat.
"Kau benar. Aku tidak pernah melihat wajah Shane berseri seperti tadi setelah sekian lama..." Hillary mendengus kasar.
"Itulah yang membuatku bingung," ucap Paul.
June yang sosoknya tak terlihat, berdiri di antara Paul dan Hillary. Memicingkan mata penuh curiga.
"Sepertinya kalian benar-benar terlibat dengan kecelakaan yang terjadi kepadaku dan Julie. Ah! Andai aku bisa memegang ponsel, pasti sudah aku rekam pembicaraan kalian!" kata June.
"Aku tidak tega menolak permintaan Shane. Sebaiknya kita setujui saja pernikahannya dan Julie. Lagi pula Julie sudah melupakan semuanya," imbuh Hillary.
__ADS_1
"Itulah yang aku pikirkan. Ya, kau benar. Semua ini demi kebahagiaan putra kita," tanggap Paul yang langsung direspon dengan anggukan kepala dari Hillary.
June melotot sambil berkacak pinggang. "Dasar kalian orang-orang jahat! Demi kebahagiaan putra kalian? Lalu bagaimana dengan kebahagiaan dua orang yang sudah kalian celakakan?! Termasuk Julie-ku yang malang!" omelnya. June bahkan melayangkan tinju berulang kali ke wajah Paul. Akan tetapi tangannya menembus begitu saja di kepala Paul.
Usai bicara empat mata, Shane dan Hillary kembali menemui Shane dan Julie. Keduanya memberitahu kalau mereka memberikan restu terhadap pernikahan Shane dan Julie.
Shane sangat senang bukan kepalang. Dia tidak berhenti tersenyum seraya terus curi-curi pandang ke arah Julie.
Bertepatan dengan itu, Julie merasa lega. Rencananya akan berhasil hanya dalam satu langkah.
...***...
Pernikahan akhirnya benar-benar dilakukan. Paul dan Zac yang sudah saling mengenal, bisa berhubungan dengan baik. Pernikahan yang terjadi di antara anak mereka juga menjadi awal hubungan yang baru.
Waktu menunjukkan jam 05.30 sore. Julie sudah siap dengan gaun pengantin yang dilengkapi kain veil di kepala. Menikah di saat sore memang adalah permintaan Julie secara khusus.
Madam Sharon juga terlihat hadir di pernikahan. Dia berpakaian serba hitam. Termasuk lipstiknya sendiri.
Kini Julie masih berada di ruangan. Menunggu dipanggil untuk keluar.
Pintu perlahan terbuka, sosok Axton muncul dari sana. Dia melangkah ke belakang Julie. Memegang pundak sang adik dengan lembut. Keduanya tengah berdiri di depan cermin.
"Kau sangat cantik, tapi kau jahat dengan kakakmu sendiri," tukas Axton.
Dahi Julie berkerut. "Maksudmu?" tanyanya heran. Sebab dia merasa tidak melakukan kejahatan apapun terhadap Axton.
__ADS_1
"Kau menikah lebih dulu dariku!" ungkap Axton. Julie lantas tergelak mendengarnya.