
...༻◈༺...
"Tenanglah, Shane. Aku tidak akan menyakitimu," ujar June. Dia perlahan mendekat.
Shane masih tak percaya. Ia berusaha keras untuk menghindari June.
"Aku pasti bermimpi!" Shane menggelengkan kepala sembari mengucek matanya. Lalu kembali melihat June. Namun tak ada yang berubah. Sosok tampan yang dilihatnya tetap terlihat.
"Shane, ayo kita bicara," ucap June. Dia akhirnya memilih diam di tempat. Membiarkan Shane tenang terlebih dahulu.
Shane gemetaran. Dia memang sulit mencerna apa yang dirinya lihat. Meskipun begitu, Shane berdiri sambil berpegangan ke lemari yang ada di belakangnya. Atensi lelaki berkacamata tersebut tidak teralihkan dari June.
"Kau benar-benar June yang pernah kukenal?" tanya Shane. Dia sudah berdiri dan memilih tetap berada jauh dari June.
"Bukankah sudah jelas? Dengan begini bukankah komunikasi kita bisa lebih baik?" tanggap June. "Ayo kita duduk dan bicarakan masalah kita," ajaknya seraya duduk ke sofa terlebih dahulu.
Shane termangu sejenak. Dia sekali lagi menguji kenyataan yang kini di hadapinya. Shane mencubit bahu sendiri dan dapat merasakan sakit dengan jelas.
"Sudahlah, Shane. Bukankah ini sudah jelas bukan mimpi?" tegur June yang tak mau menunggu.
Shane akhirnya duduk ke sofa. Di tempat yang tentu agak jauh dari June.
"Apa kau sudah mendapatkan sesuatu terkait keterlibatan keluargamu dan kecelakaanku?" tanya June. Dia mulai pembicaraan serius.
"Ya, aku menemukan seorang lelaki bernama Wilson. Sepertinya dia--"
"Tahu tentang kecelakaan itu," tebak June. Memotong ucapan Shane.
__ADS_1
"Aku dan Julie besok akan menemuinya ke Kanada," kata Shane.
"Aku ikut! Dan pastikan kali ini tidak akan ada lagi yang namanya pembajakan pesawat. Kau beruntung tempo hari aku ikut denganmu," ujar June sembari melipat tangan ke depan dada.
"Jadi apa yang aku lakukan di pesawat itu juga ulahmu?" Shane memastikan.
June menjawab dengan anggukan. Sekarang Shane tak terkejut lagi. Apalagi setelah June terus memberitahu bahwa hal aneh yang akhir-akhir ini dilakukan Shane tanpa sadar memang adalah ulahnya.
Shane menghela nafas panjang. Dia sama sekali tidak masalah dengan yang dilakukan June terhadapnya. Shane justru menganggap itu sebagai sesuatu yang harus dia bayar karena kesalahan keluarga Davison.
"June... Aku minta maaf atas keterlibatan keluargaku terhadap kecelakaan yang terjadi padamu dan Julie," tutur Shane.
June membuang muka dengan wajah masam. Jujur saja, dia sudah muak mendengar permintaan maaf Shane. Entah sudah berapa kali lelaki berkacamata tersebut mengucapkan itu. Sikap lapang dada Shane membuat June merasa bersalah.
"Karena aku sudah bisa melihatmu, kau bisa beritahu apa saja hal yang harus aku lakukan untuk melakukan ritual pengikatan," ungkap Shane.
"Kenapa?"
"Menurut saja, Shane. Kau mau membayar kesalahan keluargamu bukan?" June mengerutkan dahinya
Shane mengangguk. Dia tampak menyatukan dua tangannya.
"Oke, aku akan pergi menemui Julie. Beristirahatlah." Setelah berucap begitu, June menghilang. Dia muncul ke kamar Julie.
Kebetulan hari sudah larut malam. Julie tampak sudah tertidur nyenyak.
June duduk ke tepi ranjang. Memandangi Julie dengan penuh kasih sayang dan rindu.
__ADS_1
"Aku akan pastikan dua minggu ini tidak akan sia-sia. Aku berjanji." June mengulurkan satu tangannya. Lalu menyentuh jari-jemari lentik Julie. Memastikan apakah ramuan yang diminumnya benar-benar bisa membuatnya menyentuh.
Pupil mata June membesar tatkala tangannya dapat menyentuh tangan hangat Julie. Ia sampai terenyuh sendiri. Sungguh, tidak ada sesuatu hal yang di inginkan June selama ini selain menyentuh gadis yang dicintainya.
"Julie... Aku pastikan kau akan bahagia..." bisik June. Dia merebahkan diri ke sebelah Julie. Menatap sang kekasih dari sana.
Tak terasa pagi telah tiba. Julie membuka matanya. Dia terbelalak saat melihat sosok June langsung menyambut.
"Ju-june? Apakah ini masih senja?" Julie segera menoleh ke jendela. Dia duduk tegak. Dirinya merasa suasana memang terasa seperti senja. Namun terasa lebih dingin dan segar.
"Ini pagi," ucap June.
"Tidak lucu." Julie tak mau percaya. Dia kali ini menoleh ke jam dinding. Jarum jam menunjuk ke angka tujuh.
Julie kebingungan. Dia tentu merasa aneh. Sebab biasanya waktu senja berada di sekitaran jam 5 sampai enam sore.
"Apa jam dindingnya rusak?" gumam Julie dengan kening yang mengernyit.
June terkekeh. Dia memegangi wajah Julie. Hal itu membuat Julie tambah terkejut.
"Kau menyentuhku? June! Bagaimana bisa?" Julie merasa tak percaya.
"Ini keajaiban, Julie. Percaya atau tidak, sekarang aku tidak akan berubah wujud jadi asap jingga lagi. Aku bahkan bisa menyentuhmu!" jelas June.
"Kenapa? Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Julie yang tampak masih terkesima.
"Aku tidak tahu. Sekarang hal yang paling aku inginkan adalah menyentuhmu," ungkap June. Tanpa pikir panjang dia segera memeluk Julie.
__ADS_1
"June..." lirih Julie yang merasa terharu sekaligus kagum. Ia juga sampai meneteskan air mata. Julie segera membalas pelukan June.