Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 6 - Diketahui Hantu Lain


__ADS_3

...༻◈༺...


"Hei! Bukankah kau terlalu lama memegang tangan Julie?!" timpal June kepada Fred. Orang yang dimarahinya tentu tidak mendengar.


Akibat gerutuan June, Julie bergegas menegur Fred. "Bisakah kau lepaskan tanganku?" ujarnya.


"Maaf!" Fred gelagapan. Dia merasa malu sendiri. Satu tangannya memegangi tengkuk. Fred segera duduk ke sofa.


Melihat hal itu, Axton dan Agnes bertukar pandang. Keduanya memang berniat mencomblangkan Fred dengan Julie.


"Baiklah. Aku akan buatkan minuman hangat untuk kalian." Julie beranjak menuju dapur.


Setelah adiknya pergi, Axton melirik Fred. Lalu menepuk pundak lelaki tersebut.


"Kau tertarik pada adikku?" Axton menyelidik.


"Julie sangat cantik," jawab Fred.


"Apa?!" June kaget bukan kepalang. Matanya menyalang ke arah Axton. Tersangka utama yang sedang berniat menjodohkan Julie dengan seorang lelaki.


"Axton! Kenapa kau melakukan ini? Aku jamin Julie akan semakin marah kepadamu!" timpal June sambil berkacak pinggang. Dia menampakkan wajah sangarnya. Kemarahan yang June berikan tentu hanya sia-sia belaka. Mengingat dia hanyalah makhluk tak kasat mata.


Axton sendiri tampak asyik mengejek Fred bersama Agnes. Mereka jelas berteman sangat dekat. Tawa mereka membuat June tambah kesal.


"Aku ingin sekali menonjok wajahmu itu, Axton! Pantas saja Julie selalu kesal denganmu!" pungkas June.


Karena terlalu sibuk mengomel, June tidak sadar kalau senja sudah berakhir. Dia hanya bisa mengumpat dan bergegas mendatangi Julie ke dapur.


"Julie! Axton berbuat ulah lagi. Dia sepertinya ingin mencomblangkanmu dengan Fred!" kata June. Berbicara dengan nada cepat.


"Bukankah harusnya kau pergi? Senja sudah berakhir." Julie sengaja merubah topik pembicaraan.


"Aku tahu. Berhati-hatilah, Julie! Sampai jumpa besok." June langsung menghilang dari penglihatan Julie. Kini gadis itu bisa mendengus lega.


"Aaargghh... Kenapa harus ketahuan. Kau bodoh sekali." Julie memukuli kepalanya sendiri. Ia benar-benar menyesal karena keceplosan. Sekarang Julie harus menanggung sendiri akibatnya.


Julie menghela nafas panjang. Lalu segera bergabung dengan Axton dan kawan-kawan. Mereka mengobrol cukup lama.

__ADS_1


Axton sengaja memesan pizza yang banyak agar kegiatan sekarang bisa lebih seru. Dia berharap hubungan Julie dan Fred bisa berjalan lancar. Sungguh, Axton sudah lelah melihat adiknya terus sendirian. Julie bahkan tidak memiliki satu pun teman dekat. Semua memang terjadi setelah kecelakaan maut yang dialami Julie. Semenjak itu kepribadian Julie menjadi lebih tertutup.


"Julie, kau punya alkohol bukan? Mungkin kita bisa meminum sedikit untuk menghangatkan badan," imbuh Axton.


"Bukankah kau tahu kalau ibu melarangku untuk membelinya?" tanggap Julie dengan kening yang mengernyit samar.


"Ah benar. Aku lupa." Axton menepuk jidatnya sendiri. Sebenarnya sejak awal dia sudah tahu. Hanya saja Axton sedang berakting sekarang. Dia berniat memberikan waktu kepada Julie dan Fred untuk bicara berdua.


"Ya sudah. Aku dan Agnes akan membeli minuman keluar sebentar." Axton bangkit dari sofa. "Ayo, honey..." ajaknya kepada Agnes. Dia tidak lupa memberi isyarat dengan gerakan bola mata.


"Iya, tentu saja. Kebetulan ada sesuatu yang ingin kubeli." Agnes yang mengerti, bergegas berdiri.


"Axton!" panggil Julie dengan dahi berkerut. Ia tentu paham dengan tujuan Axton. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Axton menjodohkan Julie dengan lelaki.


Axton tidak hirau. Dia dan Agnes justru buru-buru keluar dari apartemen.


Julie mendengus sebal. Dia tidak menyangka, bisa-bisanya Axton meninggalkannya berduaan bersama seorang lelaki.


"Apa kau merasa tidak nyaman? Kalau begitu, sebaiknya aku ikut Axton dan Agnes saja." Fred tentu bisa membaca ekspresi wajah Julie yang kesal.


"Dia memang sering bersikap semaunya bukan?" tanggap Fred sembari tertawa kecil.


"Ya. Totally." Julie ikut terkekeh.


Fred mencoba terus mengakrabkan diri dengan Julie. Tetapi gadis itu tidak antusias menanggapinya. Semuanya mungkin karena suasana hati buruk Julie.


Meskipun begitu, Fred berusaha keras untuk membuat Julie merasa nyaman. Sepertinya lelaki tersebut serius ingin dekat dengan Julie.


Selang sekian menit, Axton dan Agnes kembali. Keduanya ikut mengobrol bersama Julie dan Fred.


Ketika salju reda, Axton dan kawan-kawan pulang. Sekarang Julie dapat tenang. Dia langsung merebahkan diri ke ranjang sambil memejamkan mata. Walaupun begitu, Julie tidak tidur.


Ponsel berdering. Julie mendapat telepon dari Axton. Kakak lelakinya itu memang berjanji akan menelepon jika sudah pulang ke rumah.


"Kau sudah sampai?" tanya Julie.


"Ya. Aku dan Agnes sudah pulang," sahut Axton dari seberang telepon. Ia menghela nafas panjang. "Julie, Fred ingin minta nomormu. Katanya dia ingin lebih dekat denganmu," sambungnya.

__ADS_1


"Tidak. Aku sedang tidak ingin dekat dengan siapapun," tolak Julie.


"Ayolah, Julie. Bisakah kau lebih terbuka? Aku hanya tidak mau kau terus sendirian di setiap waktu. Setidaknya carilah seseorang untuk dijadikan teman."


"Itukah alasanmu terus mendekatkanku dengan orang asing?! Apakah aku terlihat sangat kesepian dimatamu?" Entah kenapa Julie malah merasa tersinggung.


"Aku hanya merasa kau menyembunyikan masalahmu sendirian. Aku hanya tidak mau--"


"Cukup, Axton! Kau sangat berlebihan! Aku sudah bilang kalau aku bisa menjaga diriku sendiri!" potong Julie. Ia mematikan panggilan telepon lebih dulu.


Julie menggeram kesal. Dia mencoba meredamkan amarah dengan cara memejamkan mata. Hingga secara alami Julie tertidur pulas.


Satu malam terlewat. Julie pergi bekerja karena salju sudah tidak turun. Lagi pula dia tidak mau terus-terusan membuat pekerjaannya menumpuk karena libur.


Benar saja, ketika sudah tiba di kantor, Julie menemukan tumpukan berkas yang harus ditanda tangani. Dia sampai lupa waktu kalau hari semakin sore.


Julie bergegas pulang sebelum hari keburu malam. Dengan langkah cepat, Julie berjalan menuju stasiun kereta. Dia sesekali menengok ke jam yang melingkar di pergelangan tangan.


Langkah Julie terhenti saat melihat hantu berwajah hancur dari arah depan. Sekujur badannya dipenuhi darah. Hantu tersebut berdiri sembari memasang tatapan kosong ke jalan raya.


Julie menenggak salivanya sendiri. Dia berusaha tenang dan berjalan melewati hantu berwajah hancur itu. Bau busuk dan amis bahkan menyeruak jelas dari hantu tersebut.


Dengan kepala yang menunduk ke bawah, Julie berhasil mengatasi ketakutan. Dia bahkan sudah berjalan menjauh dari hantu berwajah mengerikan itu.


"Bagaimana? Apa yang terjadi tadi malam?" June mendadak muncul. Dia langsung melontarkan pertanyaan.


Julie yang sempat dihantui rasa takut, sontak tersentak kaget. Matanya mendelik ke arah June. Julie berhenti berjalan seraya mengepalkan tinju di kedua tangan.


"Bisakah kau muncul dengan cara baik-baik?!" timpal Julie.


"Aku hanya penasaran dengan apa yang kau dan Fred lakukan kemarin malam," jelas June.


"Apa urusanmu, hah?! Memangnya kau siapa aku?!" tukas Julie. Tindakannya sekarang membuat orang-orang sekitar menatap heran. Bagaimana tidak? Di mata mereka, Julie terlihat sedang mengomeli sebuah bak sampah. Sebab posisi June sekarang tepat berdiri di depan bak sampah.


Bersamaan dengan itu, hantu berwajah hancur yang sempat membuat Julie takut tadi menoleh. Dia mengamati Julie yang sibuk berinteraksi dengan June.


Sebagai jenis makhluk yang sama, hantu berwajah hancur tersebut tahu bahwa June adalah hantu. Dia otomatis tertarik kepada Julie. Mengingat tidak banyak manusia yang bisa memiliki kemampuan seperti gadis itu. Tanpa pikir panjang, sang hantu berwajah hancur menghampiri Julie.

__ADS_1


__ADS_2