Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 35 - Keterlibatan Keluarga Davison


__ADS_3

...༻◈༺...


June memberitahu Julie untuk bersiap. Dia menjemput gadis itu ke apartemen.


Sesampainya di tempat tujuan, Julie terlihat sudah menunggu. Dia langsung masuk ke mobil Shane.


Julie menatap Shane. Dahinya berkerut dalam. Sebab Shane tampak seperti Shane. Dia tidak bicara. Julie jadi ragu kalau June merasuki lelaki itu atau tidak.


"June?" panggil Julie.


"Kau bicara apa? Kenapa kau memanggilku June? Itu sangat aneh," tanggap Shane.


Bukannya heran, Julie justru menatap penuh curiga. "Kau tidak ahli berakting, June. Dengan kalimat 'itu sangat aneh,' aku sudah tahu bahwa kau bukanlah Shane!" tukasnya.


June yang sedang mengambil alih tubuh Shane tersenyum seraya memegangi tengkuk. "Kau langsung tahu kalau aku bukan Shane?" tanggapnya.


"Ya, itu karena aku mengenalmu. Tapi aku yakin orang tua Shane tidak akan tahu. Percobaanmu sudah cukup bagus untuk berlagak seperti Shane," ujar Julie.


"Ya sudah. Sekarang saatnya beraksi." June mengambil ponsel dari saku celana. Dia akan menghubungi Paul Davison sebelum melakukan pertemuan.


"Tunggu dulu. Kita harus punya alasan agar Tuan Davison bersedia meluangkan waktu," cegah Julie. Tepat sebelum June menghubungi Paul.


"Tentu saja dia akan meluangkan waktu. Shane anaknya bukan?" sahut June.


"Tetap saja. Kita harus membuat alasan!"


"Kau benar." June mengangguk. Dia segera menghubungi Paul dengan menggunakan ponsel Shane.


"Kau sudah punya rencana? Kenapa langsung ditelepon?" tanya Julie tak percaya.


"Ya, tenang saja. Aku jamin Tuan Paul tidak akan menolak untuk bertemu," jawab June. Dia menunggu panggilannya diangkat oleh Paul.


"Shane?" Paul akhirnya menjawab. June langsung memberitahu Julie dengan kelopak mata yang melebar.

__ADS_1


"Ayah! Aku harus menemuimu! Ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan!" seru June. Bicara seolah-olah sedang terdesak.


"Kau ingin bicara apa?" balas Paul.


"Aku tidak bisa membicarakannya lewat telepon. Kita harus bertemu sekarang," ujar June.


"Baiklah. Tapi apa kau mau datang ke rumah--"


"Tentu saja aku akan ke sana. Sekarang aku sedang di jalan." June memotong perkataan Paul begitu saja. Lalu mematikan telepon lebih dulu.


"Dia setuju untuk bertemu." June memberitahu Julie. Ia segera menjalankan mobil menuju rumah Paul.


Setibanya di tempat tujuan, June bercermin terlebih dahulu. Memastikan tampilannya seperti Shane.


"Semoga berhasil, June. Aku akan menunggu di sini. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Julie memegangi tangan June. Tubuh yang disentuhnya tentu adalah tubuh milik Shane. Namun June dapat merasakannya dengan baik. Sentuhan Julie seperti sesuatu yang telah lama dirindukannya.


"Oke." June mengangguk. Meskipun begitu, dia tidak beranjak. June malah terpaku menatap Julie.


"Ya, aku akan pergi. Aku hanya tiba-tiba memikirkan sesuatu. Tapi aku akan membicarakannya setelah urusan dengan Tuan Paul selesai," ujar June sembari turun dari mobil.


June memencet bel pintu. Sosok Paul muncul menyambutnya. Keduanya segera menghilang ditelan pintu.


Paul mempersilahkan June untuk duduk ke sofa. Istrinya yang bernama Erin memberi sambutan ramah. Perempuan itu segera berlalu untuk membuatkan minuman.


Paul terlihat memperhatikan June dengan mata yang berbinar-binar. Seolah ada sesuatu yang membuatnya kagum. Dia jelas mengira sosok yang datang atas dasar kemauan putranya sendiri. Mengingat Shane tidak pernah sekali pun menjejakkan kaki ke rumah pribadinya sekarang. Itulah alasan Paul merasa senang.


"Kenapa kau menatapku begitu?" tanya June.


"Tidak apa-apa. Kau mau bicara apa? Sampai mengharuskanmu berkunjung ke sini?" tanggap Paul serius.


"Aku baru saja menemukan sesuatu. Aku mendengar kalau kau pernah terlibat dalam sebuah kecelakaan berencana. Benarkah itu?" tanya June blak-blakkan. Dia tidak mau membuang waktu. Entah salah atau tidak, June akan maju. Ia butuh kejelasan.


Pupil mata Paul membesar. Dia memegangi lengan June. "Dari mana kau mendengarnya?" tanyanya.

__ADS_1


Mata June ikut terbelalak. Dari reaksi yang diberikan Paul, dia yakin kalau keluarga Davison terlibat dalam kecelakaannya dan Julie.


"Jadi itu benar? Kenapa kau melakukannya?" June menuntut jawaban.


"Dengar, Shane. Aku punya alasan melakukannya, oke? Kumohon jangan ungkit masalah ini lagi. Mengerti?" Paul serius dengan perkataannya.


"Aku butuh penjelasan! Kenapa kau--"


"SHANE!!!" Paul memekik lantang. Salah satu anaknya yang tidur bahkan terbangun dan keluar untuk melihat keadaan. Erin juga muncul dari arah dapur.


"Apa kau tidak kasihan dengan--"


"Cukup, Shane! Pergilah!" Paul lagi-lagi memotong perkataan June. Dia membuang muka. Sepertinya masalah yang dibicarakan June adalah hal sensitif bagi Paul.


June tidak punya pilihan selain pergi. Lagi pula dia tidak mau memperkeruh keadaan saat di hadapan Paul dan keluarganya. Satu hal yang pasti. June sekarang dapat memastikan bahwa keterlibatan keluarga Davison adalah fakta.


Ketika memasuki mobil, June memberitahukan segalanya kepada Julie. Gadis itu kaget sekaligus kecewa. June lantas menjalankan mobil untuk mengantarkan Julie pulang.


"Sekarang apa rencana kita? Jika Tuan Paul sama sekali tidak mau mengungkitnya, maka akan semakin sulit untuk mendapat bukti," ungkap Julie.


"Aku punya cara!" jawab June. Raut wajahnya tampak cemberut. Dia tentu kesal dengan ulah keluarga Davison. Sebab karena merekalah June meninggal.


"Apa?" tanya Julie.


"Menumbalkan Shane! Sekarang aku tidak kasihan lagi kepadanya," sahur June bertekad.


..._____...


Catatan Author :


Guys, aku mau promosi novel baru aku. Kali saja kalian tertarik. Btw ini genrenya juga ada misterinya.


__ADS_1


__ADS_2