Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 36 - Ingatan Ciuman Pertama


__ADS_3

...༻◈༺...


Julie menatap nanar June. Dia tentu paham apa yang sedang dirasakan lelaki itu sekarang.


"Biarkan aku memikirkannya, oke? Karena ini aku yang menjalani. Jika ingin menjadikan Shane tumbal, maka aku harus menikah dengannya," ucap Julie.


"Andai kecelakaan itu tidak terjadi, kita berdua sudah bahagia sekarang, Julie. Dan aku mau keluarga Davison membayar kesalahan mereka," sahut June penuh tekad.


Julie terdiam. Dia memang tidak bisa membantah bahwa keluarga Davison harus bertanggung jawab atas segalanya. Termasuk merenggut kebahagiaan yang harusnya didapatkan oleh Julie dan June sekarang.


Hening menyelimuti suasana di mobil. Sampai akhirnya Julie berkata, "Aku setuju, June. Aku rasa tidak ada salahnya menjadi egois. Keluarga Davison harus membayar hutang mereka. Karena setelah dipikir-pikir, mereka sudah menipu banyak orang. Terutama aku! Pemeran utama yang dibuatnya menjadi orang bodoh." Tangan Julie mengepalkan tinju. Ketika mengingat bagaimana kehidupannya setelah kecelakaan itu, dia merasa hampa. Apalagi sebelum bertemu hantu June.


"Kalau begitu kita temui Madam Sharon sekarang." June menggenggam tangan Julie. Keduanya langsung pergi menemui paranormal yang pernah mereka temui.


Sesampainya di tempat tujuan, Madam Sharon terlihat duduk di teras. Dia menikmati rokok dan secangkir kopi.


Julie dan June keluar dari mobil. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka menghampiri Madam Sharon.


"Sudah kuduga. Aku yakin kalian pasti akan kembali," ucap Madam Sharon.


"Kalau kau sudah tahu. Bisakah kau beritahu aku hal pertama yang harus kami lakukan?" tanya Julie sembari sedikit membungkukkan badan.


"Menikahi lelaki yang sedang dirasuki oleh pacar hantumu ini. Yakinkan dia agar bersedia melakukan ritual pengikatan. Tapi kalau itu sulit, kalian bisa saja menipunya," jelas Madam Sharon. Mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulut.

__ADS_1


"Hanya itu?" June memastikan.


"Lakukan saja itu terlebih dahulu. Melakukan pernikahan bukan hal mudah kan? Julie juga harus membuat lelaki culun ini jatuh cinta kepadanya," tanggap Madam Sharon.


"Itu hal mudah bagi Julie. Karena Shane sudah lebih dahulu menyimpan rasa kepadanya," ujar June.


Madam Sharon melebarkan kelopak matanya. "Itu bagus! Sebaiknya mulai besok Julie harus mulai menjalankan rencana," usulnya.


Julie dan June bertukar pandang. Mereka lantas mengangguk. Lalu berjalan menuju mobil.


"Kalian punya nomorku bukan? Pokoknya kabari aku mengenai perkembangannya. Kalau Shane berhasil kalian bujuk atau ditipu, kita bisa lakukan ritual pengikatan." Madam Sharon berucap sebelum Julie dan June benar-benar pergi.


"Oke, Madam. Doakan saja semoga rencana kami berjalan lancar," sahut June yang masih belum keluar dari tubuh Shane. Dia segera mengantarkan Julie pulang.


"Cepatlah kembali ke apartemen Shane. Ini sudah sangat larut. Nanti tubuhnya kelelahan. Dia tidak boleh sampai curiga lagi," ucap Julie sembari hendak membuka pintu mobil. Akan tetapi June dengan cepat mencegat.


"Ada yang ingin aku bicarakan," kata June seraya meraih tangan Julie. Gadis itu urung pergi.


"Mengenai yang kau bicarakan sebelum pergi menemui Tuan Paul tadi?" tebak Julie.


June mengangguk. Dia menatap lekat Julie. Menggenggam kedua tangan gadis tersebut.


"June, aku tidak bisa fokus. Karena wajah yang aku lihat sekarang adalah Shane," tukas Julie. Dia tentu merasa tidak nyaman. Mengingat dirinya hanya mencintai June. Jantungnya juga berdebar hanya untuk lelaki tersebut.

__ADS_1


"Pejamkan matamu," ucap June.


"Kau mau apa?" Julie meragu.


"Lakukan saja dulu apa yang aku suruh." June enggan menjelaskan.


Julie mendengus kasar. Dia lantas memejamkan mata.


"Bayangkan orang yang memegang tanganmu sekarang adalah aku," imbuh June.


"Ayolah, June. Kau mau melakukan apa?" Julie benar-benar penasaran.


"Lakukan saja. Sampai kau benar-benar percaya kalau lelaki yang sedang menyentuhmu sekarang adalah aku. June Stevens!" June merasa antusias. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke hadapan Julie. Fokus menatap bibir ranum gadis itu.


Julie terdiam. Dia tengah sibuk mensugesti dirinya sendiri kalau lelaki yang bersamanya sekarang adalah June. Hal yang tidak pernah dilupakan Julie tentang June adalah senyuman manis lelaki itu. Julie sudah sepenuhnya yakin bahwa sosok lelaki di hadapannya kini adalah June dan bukan Shane.


"Aku selalu suka senyumanmu, June. Bahkan ketika kau--" ucapan Julie terputus tatkala June mendadak mencium bibirnya.


Deg!


Jantung Julie sontak berdegup kencang. Dia merasakan tubuhnya seakan dialiri listrik ribuan volt. Entah kenapa ciuman yang dirinya rasakan sekarang terasa tidak asing.


Benar saja, sebuah ingatan muncul dalam benak Julie. Ingatan tersebut memperlihatkan jelas ciuman pertamanya dengan June. Keduanya berciuman di tengah-tengah pepohonan dengan daun yang sudah menguning. Jelas cinta mereka bersemi saat musim gugur berlangsung.

__ADS_1


Hal yang sama ternyata juga dirasakan June. Dia juga mengingat momen ciuman pertamanya dengan Julie. Bibir mereka saling berpagutan dengan lembut. Tulus dan sepenuh hati.


__ADS_2