
...༻◈༺...
"Tidak apa-apa. Hanya malas pulang cepat saja." Julie menjawab pertanyaan June. Ia bangkit dari tempat duduk. Lalu menyandang tas ke bahu.
"Jangan bilang kau menungguku?" terka June sembari mendekatkan wajah ke hadapan Julie.
"Percaya diri sekali kau," balas Julie seraya membuang muka. Dia diam-diam tersenyum. Lalu melangkah keluar ruangan.
June dapat melihat senyuman Julie dari pantulan kaca di pintu. Ia merasa kalau tebakannya tadi benar. Hanya saja Julie terlalu malu untuk mengaku.
"Akui saja kau menungguku. Dengan begitu, aku bisa melihat kejelasan bahwa kau sudah menerimaku sebagai teman," kata June. Dalam sekejap dia berjalan di samping Julie.
"Memangnya kenapa kalau aku menerimamu sebagai temanku? Kau mau apa?" Julie menjawab sambil melangkah masuk ke dalam lift. Hal serupa lantas dilakukan June.
"Tentu saja agar kita bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan. Aku ingin membuatmu sering tersenyum dan tertawa." June menatap Julie dengan sudut matanya. Sungguh, dia tidak pernah berhenti mengagumi sosok Julie. June tidak tahu kenapa, tetapi dirinya bertekad melakukan apapun untuk membuat Julie bahagia.
"Tapi semua orang akan menganggapku gila. Secara, kau itu hantu dan aku manusia," sahut Julie. Lift berdenting saat pintunya terbuka. Julie dan June lantas berjalan menuju pintu keluar.
Ketika melewati lobi, Julie berhasil memergoki Shane. Lelaki itu terlihat membaca sebuah buku. Dia terlalu fokus, hingga tidak menyadari kehadiran Julie.
"Shane?" dahi Julie berkerut.
"Astaga, dia lagi." June mengeluh. Entah kenapa dia malas berurusan dengan lelaki seperti Shane. Baginya merasuki lelaki tersebut adalah kesalahan besar, dan June tidak berniat mengulanginya lagi.
Julie melirik June. "Ngomong-ngomong, banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu mengenai Shane," ujarnya dengan nada berbisik.
"Tebakanmu benar, Julie. Aku adalah asap jingga itu dan sosok yang merasuki Shane tempo hari," ungkap June.
Mata Julie terbelalak. Hal yang sama juga dilakukan Shane. Lelaki berkacamata itu langsung berdiri saat mendengar panggilan Julie. Dia dipergoki belum pulang. Padahal keadaan di luar terlihat cerah dan baik-baik saja.
__ADS_1
"Julie, mungkin kau sebaiknya abaikan aku dulu. Lihat si cupu itu menatapmu," tegur June pada Julie yang masih membulatkan mata ke arahnya. Gadis tersebut segera menatap Shane. Kemudian berjalan menghampiri.
"Kau kenapa belum pulang? Apa ada masalah? Atau kau menunggu seseorang?" tanya Julie.
Pupil mata Shane membesar. Ia merasa tertangkap basah. Wajahnya seketika memerah bak kepiting rebus. Satu tangan Shane reflek memegangi tengkuk. Lelaki itu bingung harus menjawab apa.
"Aku... A-aku..." Shane menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha mencari alasan. Sedangkan Julie terus menatapnya. Seakan menanti jawaban dari Shane.
"Aku menunggu Nick. Manajer kita. Ya benar, Nick!" kilah Shane. Entah kenapa keringat jadi bercucuran di sekitaran pelipisnya. Dia juga merasa tidak sanggup terlalu lama menatap Julie.
Sementara June, sibuk menatap penuh selidik. Kedua tangannya menyilang di dada. June merasa bisa menyimpulkan sesuatu dari gelagat aneh Shane.
"Dia berbohong, Julie. Aku rasa dia menunggumu. Aku melihat sudah tidak ada orang lagi selain kau dan dia sekarang," bisik June. Posisi dekatnya, menyebabkan bulu kuduk Julie seketika meremang. Jantungnya berdegup lebih cepat. Perasaan tidak biasa itu telah kembali. Julie otomatis hanya bisa bersikap normal. Ia fokus dengan Shane yang tampak masih gelagapan.
"Nick? Sepertinya dia sudah pulang. Aku melihat sudah tidak ada orang lagi di kantor selain kita," imbuh Julie.
"Benarkah? Kalau begitu aku pulang saja." Shane buru-buru mengambil tas. Lalu mencoba beranjak keluar.
"Apa?! Julie..." June mengeluh. Dia tentu tidak suka Julie berdekatan dengan Shane. Meskipun begitu, June tidak punya pilihan selain membiarkan. Ia merasa, mungkin Julie ingin membicarakan perihal bisnis bersama sekretaris culunnya tersebut.
Julie dan Shane melangkah senada di jalanan trotoar. Jika dilihat dengan mata telanjang, mungkin mereka terlihat hanya berdua. Tetapi sebenarnya ada June yang berada di sebelah kanan Julie. Gadis itu berada di antara dua lelaki yang menyukainya.
Shane berusaha menyembunyikan perasaan gugup. Dia sebenarnya juga merasa sangat senang sekarang. Shane tidak berhenti mencuri pandang ke arah Julie.
Di samping kanan Julie, June memperhatikan dengan baik-baik sikap Shane. Sebagai lelaki, dia tentu tahu makna dibalik sikap aneh Shane.
"Aku pikir si cupu itu menyukaimu," bisik June tiba-tiba. Ulahnya sukses membuat Julie sedikit terkejut.
"Bisakah kau berhenti melakukan itu?!" timpal Julie kepada June.
__ADS_1
"Ma-maaf! Aku... Minta maaf kalau aku keterlaluan." Bukannya June yang meminta maaf, melainkan Shane. Dia merasa kalau Julie memarahinya karena terlalu sering mencuri pandang. Shane mengira Julie berhasil memergokinya lagi.
"Tidak, Shane! Bukan kau. Tadi ada lebah yang terus terbang di sekitar telingaku." Julie memberi alasan. Dia tidak mau Shane salah paham.
"Aku hanya memberitahu. Sebagai lelaki, aku sangat yakin kalau si cupu itu menyukaimu!" di samping kanan Julie, June berupaya melakukan pembelaan. Dia tidak berhenti bicara.
"Le-lebah?" Shane mengerutkan dahi. Dia tentu heran. Bagaimana bisa lebah berkeliaran saat musim dingin begini?
"Lupakan, aku pikir lebahnya sudah pergi." Julie berjalan lebih dulu. Shane lantas mengikuti. Begitu pun June.
"Lebah? Itu alasan paling tidak masuk akal yang pernah kudengar." June tergelak di sebelah Julie. "Harusnya kau jujur saja kepadanya kalau kau sedang bicara dengan hantu yang tampan," sambungnya.
Julie yang mendengar, mengarahkan bola mata ke atas dengan malas. Dia menghembuskan nafas berat dari mulut. Walaupun begitu, Julie tidak bisa membantah pernyataan June. Hantu itu memang tampan.
Suasana hening kembali. Shane tidak tahu harus membicarakan apa ketika bersama Julie. Naluri pendiamnya seolah semakin bermasalah saat bersama gadis yang dia suka.
"Andai jadi Shane. Aku pasti akan mengajakmu bicara. Lalu minum dan makan sesuatu yang hangat di cafe. Dia terlihat pintar, tapi pada kenyataannya bodoh," komentar June yang tak berhenti berceloteh. "Lagi pula, kenapa kau mengajaknya pulang bersama? Kau jadi kesulitan bicara denganku."
"Ngomong-ngomong, Shane. Kenapa kau tadi menunggu Nick?" Julie mengabaikan June. Dia malah mengajak Shane bicara.
"Em... Aku hanya ingin membicarakan perihal pekerjaan," jawab Shane memberi alasan. Dia mengusap tengkuk tanpa alasan.
"Dia berbohong!" kata June yakin.
Julie mendelik ke arah June. Dia merasa kalau hantu tampan itu agak berlebihan.
"Besok kita akan pergi sekitar jam 10 pagi. Jadi persiapkan semuanya dengan baik sebelum kita berangkat ke Los Angeles," imbuh Julie.
"Ya, tentu." Shane mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Apa? Los Angeles? Kau akan pergi ke sana?" Kelopak mata June melebar.