
...༻◈༺...
June mengikuti Shane ke kamar. Dia dapat melihat lelaki berkacamata itu memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas.
"Kau hanya membawa itu?" tanya June sembari memegangi dagu. Dia melihat-lihat keadaan kamar June. Di sana dirinya bisa menemukan fakta bahwa Shane memang adalah putra dari pebisnis kaya bernama Paul Davison. Terlihat ada foto yang memperlihatkan kedekatan mereka. Foto tersebut terpajang di atas nakas.
Bertepatan dengan itu, June menengok ke arah jendela. Dia mendengus kasar karena senja sudah sepenuhnya berakhir. Dalam sekejap wujud June berubah menjadi asap berwarna jingga. Meskipun begitu, dia tetap berada di sekitaran kamar Shane.
Beberapa saat kemudian, June merasuki tubuh Shane. Dia langsung mengambil alih tubuh yang terbilang atletis itu.
"Maafkan aku, Shane. Aku terpaksa melakukan ini," ungkap June sembari membawa tubuh yang dirasukinya berdiri ke depan cermin. Ia mengamati keadaannya dengan seksama.
June mengamati setiap anggota tubuh Shane. Dia bisa merasakan segalanya sekarang. Dari mulai melihat, mendengar, bahkan meraba.
"Ini luar biasa. Kenapa tubuh Shane sangat mudah dirasuki?" gumam June. Dia menyentuh tubuh Shane yang sedang dirinya rasuki. Menekan-nekan bahu serta perut Shane yang cukup berotot.
"Kau ternyata cukup bugar," komentar June. Karena penasaran, dia melepas baju atasan yang dipakai Shane. Benar saja, badan Shane memang atletis. Padahal lelaki berkacamata tersebut terkesan tidak peduli dengan penampilan.
"Hmm... Kau semakin mencurigakan, Shane. Terlalu banyak hal yang kau sembunyikan. Aku yakin Julie pasti akan marah kalau mengetahui dirimu yang sebenarnya," ujar June. Kini dia melepas kacamata Shane. Hantaman kekaburan langsung June rasakan.
"Ugh! Kau tidak berbohong tentang matamu." June kembali mengenakan kacamata. Dia mengamati penampilan Shane. Memutar badan yang dirasukinya berulang kali.
"Kau ternyata tampan. Hanya perlu sedikit berdandan saja," kata June. Dia terus bicara sendiri.
Puas melihat penampilan Shane, June kembali mengenakan baju. Lalu memeriksa laptop Shane. Ia berusaha memahami pekerjaan yang akan dilakukan lelaki itu di Los Angeles nanti.
"Apa aku pura-pura jadi Shane, atau jujur saja kalau Aku June?" June sedang memikirkan keputusan yang tepat. Usai berpikir cukup lama, dia akhirnya memilih untuk mengaku kalau dirinya June. Mengingat dia ngin merasa nyaman ketika ingin menjadi diri sendiri.
"Aku akan membiarkanmu istirahat. Besok pagi aku akan merasukimu lagi." June keluar dari tubuh Shane. Hal itu membuat Shane kaget. Dia mengerutkan dahi dan merasa keheranan.
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu denganku? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kalau tubuhku bergerak tanpa sepengetahuanku?" benak Shane bertanya-tanya. Dia menengok ke arah jam dinding. Shane memutuskan tidur karena merasa harus bangun pagi besok.
Satu malam terlewat. Shane membuka mata. Tanpa sepengetahuannya, asap jingga terus berkeliaran di sekitar tubuhnya.
Hal pertama yang dilakukan Shane adalah mandi dan sarapan. June sengaja membiarkan Shane menyelesaikan segala kegiatan di rumah terlebih dahulu.
Ketika Shane berangkat untuk bekerja, June merasukinya. Sekarang hantu tampan itu kembali merasuki badan Shane.
"Maaf, Shane." June berjalan lurus keluar dari gedung apartemen Shane. Dia tidak berhenti menyentuh benda-benda yang ada di sekitar sambil melangkah. June merasa sangat senang bisa menyentuh sesuatu dengan tangannya sendiri. Satu hal yang dirinya rasakan, yaitu merasa hidup kembali.
Setibanya di perusahaan, June berjalan dengan percaya diri. Ia melangkah gagah melewati para karyawan yang sedang bekerja. Bahkan June tidak malu menyapa dengan senyuman dan lambaian tangan. June juga mengingat beberapa nama karyawan Julie. Hantu tersebut mengetahuinya karena cukup sering berada di perusahaan Julie.
Beberapa karyawan banyak yang merasa heran. Sebab sikap Shane tidak seperti biasanya. Karena Shane yang asli, akan selalu berjalan dengan kepala tertunduk dan agak malu-malu menyapa orang.
"Apa Julie sudah datang, Nick?" tanya Shane yang sedang kerasukan June. Dia merangkul pundak Nick dengan akrab.
"Shane, kau baik-baik saja kan? Kau sangat berbeda hari ini," ucap Nick. Menatap Shane dengan sudut matanya.
"Shane?" sama seperti yang lain, Julie juga merasa heran terhadap sikap Shane. Biasanya lelaki itu sangat sopan. Tetapi sekarang, dia duduk tanpa izin ke kursi.
"Aku June. Aku serius ingin ikut denganmu ke Los Angeles," bisik Shane yang sedang dirasuki oleh June.
"Apa?! June! Kumohon jangan lakukan ini! Apa kau tidak kasihan dengan Shane?" tukas Julie. Matanya tampak membulat. Dia tidak percaya kalau June benar-benar serius ingin ikut ke Los Angeles.
"Tentu saja aku kasihan. Tapi aku ingin menjagamu," kata June bersungguh-sungguh.
Julie memutar bola mata jengah. Dia berucap, "Sikapmu sekarang persis seperti keluargaku. Overprotective! Kau tahu kalau aku benci diperlakukan seperti itu. Lagi pula, aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Kau yakin? Kemarin saja kau hampir diperkosa oleh Fred!" June bicara dengan nada cukup lantang. Hingga membuat Julie gelagapan. Gigi gadis itu menggertak dan segera menyuruh June untuk diam.
__ADS_1
"Aku pikir kau sudah keterlaluan! Sekarang keluar dari tubuh Shane!" perintah Julie.
"Kau yakin tidak ingin aku ikut denganmu?" June kecewa dengan reaksi yang diberikan Julie.
"Ayolah, June! Apakah aku satu-satunya orang yang kau harapkan untuk menjadi teman? Aku mohon carilah teman lain! Aku juga punya kehidupan yang harus di urus," ujar Julie. Menyebabkan perasaan June jadi tambah kecewa.
"Ya sudah. Aku pergi. Jagalah dirimu baik-baik saat di Los Angeles." June segera keluar dari tubuh Shane.
Kini Shane lagi-lagi harus terkejut dengan keadaan yang menimpanya. Bagaimana tidak? Awalnya dia tadi masih ada di apartemen. Namun sekarang tiba-tiba berpindah tempat ke kantor Julie.
"A-apa yang terjadi kepadaku?" Shane berdiri. Lalu memegangi wajah dan tubuhnya sendiri.
"Kau baik-baik saja, Shane?" Julie memilih berpura-pura tidak tahu.
"A-aku..." Shane semakin dibuat panik ketika melihat Julie. Dia reflek melangkah mundur. Sampai tidak sengaja harus terjatuh ke lantai.
"Shane!" Julie bergegas membantu Shane.
Bersamaan dengan itu, asap jingga yang tidak lain adalah June, melayang di udara. Benar-benar menjauh dari posisi Julie. Setidaknya untuk sekarang.
Waktu menunjukkan jam 10.15 siang. Julie dan Shane sudah berada di pesawat. Keduanya duduk bersebelahan. Sedari tadi Shane hanya diam. Dia bingung harus bicara apa dengan Julie. Shane juga masih memikirkan kejadian aneh yang menimpanya hari ini.
Sementara Julie sendiri sibuk bermain ponsel. Dia sedang membaca berita melalui internet.
"Aaarrkhh!!!" tiba-tiba terdengar suara teriakan perempuan. Di iringi oleh keributan penumpang yang lain.
Julie dan Shane sontak kaget. Mereka menengok ke belakang dan melihat ada sekelompok orang berpakaian serba hitam. Parahnya mereka terlihat memegangi pistol di tangan masing-masing. Para awak pesawat juga berhasil dibuatnya tumbang. Terutama para pramugari.
"Pesawat sepertinya sedang dibajak!" imbuh Shane. Dia tampak gemetar ketakutan.
__ADS_1
"A-apa?" Julie sama takutnya seperti Shane. Mereka disuruh menunduk dan tidak berpindah tempat seperti penumpang lainnya.
Di sisi lain, tepatnya di bagasi pesawat, ada asap jingga yang tetap memutuskan ikut bersama Julie. June memang sengaja ikut hanya untuk menjaga gadis itu secara diam-diam. Ia berniat mengamati dari kejauhan. Kepedulian June terhadap Julie benar-benar tulus.