
...༻◈༺...
"Ekhem!" June sengaja kabur dari pertanyaan Fred dengan cara berdehem.
"Dia sekretaris baruku." Julie angkat suara untuk menjawab pertanyaan Fred.
"Ya, itu benar. Pekerjaan yang sangat melelahkan tapi rasa lelahnya tidak akan terasa kalau memiliki seorang bos seperti Julie," kata Shane antusias.
"Kau benar." Fred tersenyum masam. Dia merasa terganggu dengan kehadiran Shane yang tiba-tiba datang. Lelaki itu bahkan langsung duduk bergabung tanpa izin terlebih dahulu.
Julie memicingkan mata penuh curiga. Dia merasa familiar terhadap gelagat Shane.
Tak lama kemudian, pelayan datang mengantarkan pesanan Julie dan Fred. Karena Shane baru saja datang, dia tidak mendapatkan apapun.
"Bisakah aku memesan hidangan yang sama seperti milik bosku yang cantik ini," ujar Shane gamblang.
Mata Julie membulat. Dia tidak menyangka dirinya bisa mendengar kalimat pujian itu dari seorang Shane.
"Tentu saja. Sebentar, Tuan." Pelayan segera beranjak. Dia akan menyiapkan hidangan yang di inginkan Shane.
"Shane, mau apa kau ke restoran? Apa kau tidak ada melakukan janji dengan seseorang? Seperti berkencan misalnya?" Fred memberikan pertanyaan beruntun.
"Aku hanya..." June mencoba menemukan jawaban yang tepat. Namun belum sempat menemukan ide, seorang wanita tiba-tiba menyentuh pundaknya.
"Shane?" panggil wanita yang bersetelan koki itu.
Shane sontak menoleh. Hal serupa juga dilakukan oleh Julie dan Fred.
"Ya?" June menanggapi dengan mimik wajah bingung. Dia takut kalau orang yang di hadapinya adalah kenalan Shane. Alhasil June memutuskan keluar dari tubuh Shane.
Mata Julie membulat ketika menyaksikan ada asap berwarna jingga yang keluar dari badan Shane. Kini setidaknya dia tahu bahwa lelaki culun itu tadi sempat dirasuki oleh sesuatu.
Badan Shane tersentak. Dia menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri. Shane tampak kebingungan.
"Shane? Apa kau baik-baik saja?" Julie berdiri. Dia menanyakan keadaan Shane.
Mata Shane terbelalak saat melihat kehadiran Julie. Ia reflek melangkah mundur. Hingga tidak sengaja menabrak meja dan menjatuhkan sebuah gelas.
__ADS_1
Prang!
Gelas itu pecah berkeping-keping. Membuat Shane semakin gelagapan.
"Ma-maaf! Maaf..." Shane segera meminta maaf dengan kikuk dan canggung. Dia jadi tambah gugup saat berada di hadapan Julie.
Shane terlihat berusaha membersihkan pecahan gelas yang ada di lantai. Akan tetapi, sang wanita berseragam koki sigap menghentikan.
"Tidak apa-apa, Shane. Aku akan mengurusnya," ucap wanita itu. Dia adalah bibinya Shane yang memiliki nama Marry. Ia melambaikan tangan ke arah salah satu pelayan.
"Alden, bisakah kau bersihkan pecahan gelas yang ada di lantai? Aku janji akan memberimu uang saku." seru Marry. Rekan kerjanya itu lantas datang. Lalu membersihkan keributan yang sudah dibuat oleh Shane.
"Maaf..." hanya satu kata itu yang mampu di ucapkan Shane kepada Julie. Dia selalu melampiaskan rasa canggungnya dengan memegangi kacamata.
"Siapa mereka, Shane?" tanya Marry seraya menatap Julie dan Fred secara bergantian.
Fred yang sejak tadi merasa sangat terganggu, berjalan ke samping Julie. Dia berbisik, "Sebaiknya kita pergi saja. Aku sudah kehilangan mood untuk makan."
Julie hanya mengangguk. Dia segera menaikkan tas ke bahunya.
"Benarkah?" Marry melebarkan kelopak matanya. Lalu menyapa Julie dengan ramah. "Kenalkan aku, Marry. Bibinya Shane. Aku baru bekerja di sini sebagai koki pembantu di dapur," sambungnya.
"Senang bertemu denganmu. Namaku Julie. Dan ini Fred temanku," tanggap Julie sembari memperkenalkan Fred. Marry lantas menyapa lelaki tersebut dengan ramah.
"Tolong maklumi sikap Shane. Dia memang agak pendiam. Tapi aku harap dia bisa menjadi sekretaris yang baik," ujar Marry.
"Kau tenang saja. Shane memberi kesan pertama yang sangat baik di hari pertamanya bekerja," sahut Julie sambil tersenyum.
"Benarkah? Bagus kalau begitu." Marry melirik Shane. Dia merasa bangga dengan sang keponakan.
"Ya sudah, aku dan Julie harus pergi. Kami ada urusan mendadak," sergah Fred. Dia dan Julie pergi bersama meninggalkan restoran.
Fred mengantarkan Julie pulang ke rumah. Keduanya sedang berada di mobil.
Julie melamun. Dia memikirkan tentang apa yang terjadi kepada Shane tadi.
'Apa asap berwarna jingga yang kulihat tadi adalah sosok yang sama dengan di apartemen?' batin Julie. Dia sangat ingat kalau dirinya sering melihat sejenis asap berwarna jingga itu di apartemen. Terutama saat Julie tidak sengaja terbangun di malam hari.
__ADS_1
"Apa kau sempat memakan steakmu?" tanya Fred. Berhasil membuyarkan lamunan Julie.
"Hanya sedikit," jawab Julie.
"Sekretarismu yang bernama Shane tadi sangat aneh. Entah kenapa aku merasa dia memiliki dua kepribadian yang berbeda," ungkap Fred sembari fokus mengemudi.
"Tidak juga. Mungkin dia hanya lelah." Julie yang tahu kalau Shane tadi sempat dirasuki, berusaha melindungi kepribadian Shane.
"Wow, kau bos yang sangat baik," komentar Fred. Bermaksud sarkas.
"Ya, aku tahu." Julie menanggapi sambil mengangkat dagu dengan arogan. Dia jelas hanya bercanda. Fred yang mengerti, otomatis tertawa.
Tak lama kemudian, mobil tiba di tempat tujuan. Julie segera turun dan melambaikan tangan. Dia dan Fred sepakat kembali bertemu besok. Di waktu yang sama pastinya.
Di sisi lain, Shane tengah memandangi pantulan dirinya di cermin. Pujian Julie terhadapnya tadi terus terngiang di kepala.
'Shane memberi kesan pertama yang sangat baik di hari pertamanya bekerja.'
Shane mengambil dompet dari saku celana. Dari sana dia mengeluarkan sebuah peniti berukuran sedang. Peniti itu terlihat sedikit berkarat. Mungkin sudah disimpan Shane selama bertahun-tahun.
Shane memandangi peniti lamat-lamat. Saat itu dia juga mengingat sosok yang sudah memberinya benda tersebut. Orang itu tidak lain adalah Julie.
Semuanya terjadi beberapa tahun yang lalu. Saat Shane berada di tahun kedua SMA-nya. Sebagai anak pendiam dan kutu buku, dia sering dibully oleh anak-anak lain.
Pernah suatu kali celana jeans Shane dilepas secara paksa sampai pengaitnya rusak. Hal itu membuat Shane tidak bisa menggunakan celananya lagi. Celananya beberapa kali dipeloroti oleh orang-orang yang membulinya.
Shane ditertawakan habis-habisan oleh semua orang. Dia hanya bisa menunduk sambil berusaha melindungi alat vitalnya. Meski mengenakan celana da-lam, Shane tentu tetap merasa malu.
Ketika semua orang sibuk tertawa, seorang gadis justru menghampiri Shane. Dia mengusir para pembuli tanpa rasa takut. Kemudian memberikan sebuah peniti untuk Shane.
'Gunakan ini untuk memperbaiki celanamu.' kalimat yang diucapkan Julie kala itu, tidak pernah dilupakan oleh Shane. Dari banyaknya orang, dia menjadi satu-satunya orang yang tidak mentertawakan. Shane merasa terenyuh.
Sejak saat itu, Julie bak seorang superhero baginya. Hingga lama-kelamaan rasa cinta muncul dihati Shane.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya," gumam Shane. Berbicara kepada peniti yang dipegangnya. Seolah menganggap benda tersebut adalah Julie.
Shane memang sudah lama tidak bertemu Julie. Walaupun begitu, dia tidak pernah melupakan cinta pertamanya itu.
__ADS_1