Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 26 - Mengurus Masalah Molly


__ADS_3

...༻◈༺...


Julie perlahan tenang. Terutama saat mendengar Molly menyebutkan nama June. Gadis itu lantas tidak jadi pergi dan memilih mendengarkan Molly bicara.


"Jadi apa maumu?" tanya Julie sembari duduk ke sofa.


"Aku sudah beberapa kali meminta bantuan June untuk memberitahu tentangku kepadamu," jawab Molly. "Tapi sepertinya dia tidak pernah menceritakan apapun tentangku," tambahnya.


"Kau ingin minta bantuan apa kepadaku?" tanya Julie.


"Jadi kau bersedia membantuku?" mata Molly berbinar-binar karena merasa senang.


"Aku ingin mendengarnya dulu. Baru aku akan memutuskan."


"Ya sudah." Molly mengangguk. Dia segera memberitahukan Julie mengenai keinginannya. Hantu perempuan itu ingin Julie menemui ayahnya yang tinggal sendiri.


Kata Molly, ayahnya menjadi penghalang terbesar kembalinya dia ke alam baka. Sebab lelaki bernama Anthony itu masih belum bisa merelakan kepergian Molly selama beberapa tahun terakhir. Semakin lama Molly menjadi hantu, maka kemungkinan dirinya untuk menjadi roh jahat bisa dengan mudah terjadi.


"Aku akan menemui ayahmu. Katakan dimana dia tinggal?" ujar Julie.


"Aku akan mengantarmu ke sana!" sahut Molly antusias. Dia dan Julie segera beranjak dari apartemen. Sekarang keduanya tengah berjalan menyusuri jalanan trotoar. Ditemani oleh June yang masih berwujud asap jingga.


"Kasihan sekali, June. Dia bukan satu-satunya orang yang menjadi korban kecelakaan saat senja," celetuk Molly seraya mengamati June yang berkeliaran di dekat Julie.


"Maksudmu?" Julie penasaran.

__ADS_1


"Semua manusia yang meninggal saat senja akan mengalami nasib sama seperti June. Aku tidak tahu pastinya. Tapi begitulah senja. Aku juga mendengar kalau alam baka hanya bisa terbuka saat senja," jelas Molly.


"Kau sepertinya tahu banyak perihal hantu dan alam baka. Apakah June bisa berubah jadi roh jahat juga suatu hari nanti?"


"Dia baru saja menjadi hantu. Aku pikir dia tidak akan menjadi roh jahat dalam waktu cepat. Dan satu hal lagi, aku mengetahui banyak hal ini dari hantu tua bernama Elliot. Dia juga yang membuatku tahu bagaimana caraku meninggal dulu."


"Benarkah? Lalu apakah dia juga bisa tahu bagaimana June meninggal?" Pupil mata Julie membesar.


"June? Dia meninggal karena kecelakaan bukan?"


"Iya. Aku tahu. Maksudku di sini adalah bagaimana dan apa alasan yang membuat June kecelakaan. Aku juga ingin tahu tempatnya dimana!"


"Mungkin Elliot bisa saja membantu. Dia punya banyak teman yang tinggal di beberapa tempat. Biasanya Elliot bertanya kepada teman-temannya itu. Jika salah satunya ada yang menjadi saksi kecelakaan June, maka mungkin saja kau bisa mengetahuinya." Molly menerangkan panjang lebar.


"Kau terlalu bersemangat sampai kau lupa kalau aku hantu," tukas Molly.


"Maaf... Aku hanya senang mendengar ada sosok yang bisa menjawab masalahku sekarang," ungkap Julie. "Kau bisa membawaku untuk bertemu Elliot kan?" tanyanya penuh harap.


"Tentu saja. Tapi aku ingin kau menyelesaikan masalahku dahulu," tanggap Molly.


Julie mengangguk. Bola matanya segera melirik ke arah June. "June, harusnya kau beritahu aku tentang Molly lebih cepat," ucapnya. Lalu lanjut melangkah menyusuri jalanan.


...***...


Setelah memakan waktu beberapa menit di perjalanan, Julie, Molly, dan June akhirnya tiba di rumah Anthony. Rumahnya terlihat begitu sepi.

__ADS_1


Julie segera menekan bel pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Sosok Anthony muncul dengan ekspresi datar.


"Nama belakangku William," bisik Molly. Tepat sebelum Julie bicara.


"Siapa kau?" tanya Anthony dengan tatapan tidak suka.


"Halo, Tuan William. Kenalkan aku Julie. Teman dekat Molly saat sekolah. Maaf baru ke sini sekarang, tapi--"


"Kau temannya Molly?!" potong Anthony. Matanya melotot tajam. Dia nampaknya marah kepada Julie.


"I-iya, aku temannya Molly." Julie lantas kaget terhadap reaksi yang ditunjukkan Anthony.


"Menurutku Molly tidak pernah punya teman!" Anthony kian mendekat ke hadapan Julie. Dalam keadaan mata yang masih menyalang. "Satu-satunya orang yang peduli dengan Molly di dunia ini hanyalah aku!" tegasnya.


"Maaf, Julie. Tapi jujur saja, sampai sekarang aku juga heran kenapa ayahku bersikap kasar kepada semua orang. Apalagi saat mereka membicarakan sesuatu tentangku," ucap Molly. Dia menatap heran ke arah sang ayah yang tentu tidak bisa melihat keberadaannya.


"Pergilah!" usir Anthony. Dia masuk ke rumah sambil membanting pintu. Angin yang dikeluarkan oleh pintu saat tertutup, seketika menghantam wajah Julie.


"Itulah alasan aku meminta bantuanmu. Sangat sulit menemukan manusia yang memiliki kemampuan sepertimu di kota ini. Maaf karena sudah merepotkanmu," kata Molly.


"Kau bersedia membantuku, jadi aku juga harus balas membantumu. Aku yakin bisa mengajak ayahmu bicara," sahut Julie.


Berbagai cara dilakukan Julie. Termasuk kembali ke rumah Anthony sambil membawa hadiah. Namun bermacam cara dia lakukan, Anthony tetap enggan bicara kepadanya. Lelaki paruh baya itu seolah sangat membenci dunia.


"Halo, Tuan William. Bisakah kita bi--" belum sempat Julie selesai bicara, Anthony sudah lebih dulu menutup pintu. Itu kedatangan Julie yang ketiga dalam satu hari.

__ADS_1


__ADS_2