Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 8 - June & Shane [Bonus Visual]


__ADS_3

...༻◈༺...


Setelah Julie berucap, June terdiam. Hantu lelaki itu tidak berceloteh lagi seperti biasa. Namun Julie justru merasa sunyi.


Julie menggeleng. Dia merasa apa yang dilakukannya adalah hal terbaik. Hantu sepertu June memang pantas diberi ketegasan.


Ketika kereta berhenti, Julie bergegas keluar. Tetapi tidak untuk June. Hantu tampan tersebut memilih tetap diam di kereta. Berdiri dan menatap Julie yang berjalan kian menjauh.


Jujur saja, Julie sangat ingin menoleh ke belakang. Dia penasaran apakah June mengikutinya atau tidak. Akan tetapi dirinya terlalu gengsi untuk sekedar menengok ke belakang. Alhasil Julie pergi dengan sejuta rasa penasaran dalam benak.


Saat melihat hari sudah malam, Julie sadar kalau June tidak akan mengikuti lagi. "Ah, pantas saja dia tidak mengikutiku," gumamnya seraya melangkah menuju apartemen.


Sesampainya di apartemen, Julie mendapatkan pesan dari ponsel. Pengirim pesan itu tidak lain adalah Fred.


Julie lantas saling berbalas pesan dengan Fred. Hingga lelaki itu mengajaknya bertemu nanti sore. Fred juga menawarkan diri untuk menjemput Julie pulang saat bekerja.


Sebenarnya Julie ingin menolak tawaran Fred. Tetapi tidak dilakukan. Julie merasa kalau dirinya menolak, maka dia tidak akan bisa mengenal Fred lebih dekat.


Keesokan harinya, tepat di saat sore. Fred menghentikan mobil di depan perusahaan Julie. Keduanya bertemu dalam selang sekian menit.


Dari kejauhan, June dapat menyaksikan interaksi di antara Julie dan Fred. Dia memasang ekspresi kecewa sambil duduk di sebuah bangku.


Sosok hantu berwajah hancur kemarin mendekat. Sekarang wajahnya tidak terlihat hancur lagi. Dia sedang menggunakan wujud normalnya. Nama hantu wanita itu sendiri adalah Molly. Ia merupakan orang yang meninggal saat berusia 30 tahun.


"Sepertinya gadis itu sangat penting untukmu." Molly duduk ke sebelah June.


"Entahlah. Aku merasa memiliki ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengannya," tanggap June.


"Mungkin dia orang dari masa lalumu." Molly mengungkapkan asumsinya.


"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat segala hal mengenai masa lalu. Terutama saat aku hidup dulu."


"Benarkah? Itu berarti kematianmu masih belum lama. Karena biasanya hanya hantu baru yang tidak bisa mengingat masa lalu. Tapi kau akan ingat seiring berjalannya waktu."


June yang sejak tadi mengamati Julie dari jauh, segera menatap Molly. Dia baru sadar kalau hantu yang bicara dengannya adalah hantu berwajah hancur kemarin.


"Kau?" June mengerutkan dahi.


"Namaku Molly." Molly melambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengganggu Julie?!" timpal June sembari mengepalkan tinju di kedua tangan. Ia reflek berdiri.


"Aku memang tidak mengganggunya. Aku hanya berusaha menemanimu. Karena sepertinya gadis yang kau sukai itu mencampakkanmu," sahut Molly yang merasa ciut.


"Pergilah!" usir June.

__ADS_1


Molly cemberut. Dia langsung menghilang dari hadapan June.


Sementara itu, Julie pergi bersama Fred. Keduanya akan mendatangi sebuah restoran terdekat. Lalu makan malam bersama di sana.


June terus mengikuti kemana Julie pergi. Namun kali ini dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi.


Meskipun begitu, June bingung bagaimana caranya mendekat tanpa harus diketahui Julie. Sungguh, June sangat ingin mendengar pembicaraan di antara Julie dan Fred.


"Senja sebentar lagi berakhir. Tapi aku tahu itu bukan akhir bagimu. Hanya wujudmu yang berakhir bukan?" tukas Molly. Dia tiba-tiba muncul di sebelah June. Keduanya tengah mengamati Julie dari meja kasir.


Apa yang dikatakan Molly benar adanya. Ketika senja berakhir, wujud June akan berubah menjadi sejenis asap berwarna jingga kekuningan. Asap tak kasat mata yang melayang di udara. Persis seperti angin yang berhembus. Itulah alasan utama June hanya bisa menemui Julie saat senja. June juga sengaja tidak pernah memperlihatkan wujudnya yang lain itu kepada Julie. Meskipun berwujud lain, June tetaplah June. Dia hanya sangat berbeda ketika marah.


"Kau lagi!" geram June sembari mendelik.


"Aku punya ide bagus untukmu!" seru Molly.


"Apa?" June yang sedang putus asa, tidak punya pilihan. Lagi pula dia sudah lelah mengusir Molly.


"Lihat para manusia yang lalu lalang di depan kita. Kau bisa menggunakan salah satu dari mereka untuk mendekati gadismu itu," cetus Molly.


"Kau benar. Tapi tidak mudah mencari manusia yang mudah dirasuki," tanggap June.


"Bukankah harusnya kau mencoba saja. Kau membuat lelaki itu bicara terlalu banyak dengan gadismu." Molly memanas-manasi sambil menunjuk ke arah Julie dan Fred.


June lantas bergegas mendekati para manusia yang lewat. Satu per satu dia mencoba merasuki. Tetapi belum ada manusia yang bisa dengan mudah dirinya rasuki.


June mencoba untuk yang kesekian kalinya. Dia berhenti ketika menyaksikan sosok tidak asing. Orang tersebut adalah Shane. Lelaki culun yang baru bekerja di perusahaan Julie.


Shane tampak berjalan dengan tatapan kosong. Ia melangkah maju dan terlihat sangat lesu.


"Nah! Itu sepertinya orang yang tepat untukmu!" imbuh Molly sambil menunjuk ke arah Shane.


"Tapi--"


"Cepat! Senja sudah berakhir!" Molly mendorong June dengan cepat.


Wujud June langsung berubah menjadi asap berwarna jingga. Meskipun begitu, wujudnya berhasil masuk ke dalam tubuh Shane.


"Yes!" Molly berseru senang.


June kaget bukan kepalang. Dia tiba-tiba saja sudah berada di tubuh Shane.


June membolak-balikkan tangan. Lalu menyentuh wajah orang yang dirasukinya. Dia merasa tidak percaya kalau dirinya bisa merasuki Shane. Terutama dalam wujud asap.


"Ini tidak mungkin," gumam June. Dia masih belum bisa mencerna keajaiban yang menimpanya.

__ADS_1


"Tentu saja mungkin. Apa kau tidak pernah merasuki orang saat dalam wujud asapmu itu?" Molly mendekat.


"Pernah! Bahkan ratusan kali. Tapi tidak pernah ada yang berhasil. Baru kali ini ada manusia yang bisa kumasuki saat dalam wujud asapku," ungkap June. Dia berdecak kagum. "Terima kasih! Ini semua karenamu!" sambungnya antusias. Kasir restoran yang melihat sontak keheranan menyaksikan seorang lelaki bicara dengan dinding.


Molly tersenyum miring. "Kau berterima kasih kepadaku?" ujarnya memastikan.


"Ya, kalau kau tidak menyuruh, aku tidak akan mengalami semua ini," sahut June.


"Jika kau benar-benar berterima kasih, tolong biarkan aku meminta bantuan Julie. Aku benar-benar membutuhkannya."


June langsung memasang ekspresi datar. Ternyata dibalik bantuan Molly, ada tujuan yang tersembunyi.


"Kau ternyata ada maunya," tukas June. Dia menoleh ke arah Julie. Kemudian melangkah memasuki area restoran.


Julie yang sedang asyik mengobrol bersama Fred, perlahan bisa melihat kemunculan Shane. Lelaki yang sekarang diambil alih kesadarannya oleh June.


Julie sudah mengangakan mulut untuk menyapa. Tetapi tidak sempat karena Shane memanggil lebih dulu. Fred lantas ikut menatap ke arahnya.


"Julie!" ujar Shane dengan penuh semangat. Dia duduk ke kursi yang ada di dekat Julie.


"Shane." Julie balas memanggil.


"Wah, aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini. Apa kalian sudah makan?" tanya Shane. Dia mengambil buku menu. "Ini sangat membingungkan. Tapi sepertinya steak sangat enak. Lalu..."


Julie tersenyum kecut. Dia bingung dengan sikap Shane. Sangat berbeda drastis seperti sebelumnya. Lelaki berkacamata itu lebih banyak bicara.


"Siapa ini, Julie?" Fred yang sejak tadi diam, akhirnya angkat suara.


"Dia..." Julie hendak menjawab, tetapi langsung dipotong oleh Shane.


"Aku Ju... Maksudku Shane! Aku karyawan baru di perusahaan Julie." June hampir saja menyebutkan namanya sendiri. Dia menutupi rasa gugupnya dengan cara mengeluarkan nafas dari mulut. Lalu berusaha bersikap santai sebisa mungkin.


"Ah... Benarkah? Kau bekerja dibagian apa?" tanya Fred.


"Bagian?" Mimik wajah Shane memasam. Sebab June yang sekarang berada di tubuhnya, tidak tahu apapun perihal Shane.


..._____...


...Bonus Visual...



..._____...


__ADS_1


..._____...



__ADS_2