Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 50 - Rencana June


__ADS_3

...༻◈༺...


Julie menghampiri June dengan dua tangan terlipat di dada. Dia sangat kesal hantu tampan itu tiba-tiba menghilang. Ditambah June sepertinya membuat masalah dengan Shane.


"Apa kau tadi merasuki Shane?" timpal Julie.


"Ti-tidak. Sejak tadi aku sudah lama pergi. Iyakan Molly." June menoleh ke arah Molly. Berharap hantu perempuan tersebut membantu.


"Ya, June sudah cukup lama di sini. Maksudku semenjak senja tiba," sahut Molly.


"Aku tidak membicarakan posisimu saat senja tiba. Tapi sebelum senja! Saat kau masih dalam wujud asap jingga. Kau merasuki Shane bukan? Apa yang terjadi? Tidak mungkin Shane melukai dirinya sendiri bukan?" Julie semakin mendekat ke hadapan June. Menuntut penjelasan dari hantu lelaki itu.


"Aku hanya..." June memejamkan mata. Dia berusaha menemukan alasan tepat tanpa harus memberitahu ingatan barunya. Sungguh, June tidak mau Julie membencinya. Jika itu terjadi, maka kemungkinan cintanya dan Julie tidak akan bersatu.


"Hanya apa, June?!" Julie sudah tidak sabar mendengar jawaban June.


"Hanya cemburu! Aku cemburu padanya!" kalimat itu seketika keluar dari mulut June. Lagi pula memang itulah kenyataannya. Alasan June merasuki Shane karena dirinya merasa cemburu.


"Jadi karena itu kau menyakiti Shane sampai terluka?" tanya Julie.


"Aku pikir begitu..." lirih June mengakui.


"Kau kenapa bisa setega itu?!" Julie merasa tak percaya.


"Tega?" June mengerutkan dahi. "Kita berdua sama-sama tega, Julie. Kita memang tidak berniat melukai Shane. Tapi kita akan menjadikannya tumbal! Bukankah itu lebih parah dari pada melukainya? Apa kau lupa kalau Shane adalah orang yang akan dikorbankan untuk menyatukan cinta kita?!" sambungnya. Dia merasa Julie juga berlebihan terhadap perasaannya dengan Shane.

__ADS_1


"Kau tidak jatuh cinta dengan Shane bukan?" June bertanya dengan tatapan nanar.


Julie terkesiap. Bibirnya bergetar. Dia juga merasakan debaran jantung saat June melontarkan pertanyaan itu.


Molly yang biasanya cerewet bahkan terdiam. Dia tidak kuasa menyela pertengkaran serius yang terjadi di antara Julie dan June. Kedua makhluk berbeda jenis tersebut bahkan tak peduli dengan tatapan heran orang sekitar. Sebagian besar dari mereka mungkin menganggap Julie kelainan jiwa.


Berbicara pada sebuah bangku yang tak bernyawa? Jelas bukan hal wajar.


"Kenapa kau bicara begitu? Tentu saja tidak!" bantah Julie. "Aku hanya berusaha menghargai perasaannya. Itulah alasanku bersikap baik padanya..."


"Maaf... Aku tidak bermaksud membuatmu begini." June bergerak untuk memeluk Julie. Namun tubuhnya tentu langsung menembus perempuan itu.


Molly mendengus. Dia merasa prihatin melihat pemandangan dua makhluk yang saling mencintai di hadapannya. Molly juga berhasil memergoki ada orang yang merekam tindakan Julie.


Julie langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar saja, ada banyak orang yang melihatnya bicara sendiri.


"Molly benar. Ayo kita pulang." June mengajak Julie melangkah ke pinggir jalan. Lalu menghentikan sebuah taksi di sana.


Di sisi lain, Axton sedang berada di ruang kerja. Dia meregangkan jari-jemari dan berhenti berkutik dengan laptop. Axton melanjutkan aktifitas dengan bermain ponsel.


Dahi Axton berkerut ketika menemukan ada video tentang Julie di internet. Video yang ditemukannya berjudul, 'Gadis bicara dengan bangku!'


"Julie? Kau kah itu?" gumam Axton. Merasa tak percaya. Dia mencoba membaca komentar di video tersebut. Di sana ada komentar paling atas yang menarik perhatiannya. Komentar itu mengatakan bahwa Julie tidak bicara dengan bangku, melainkan dengan hantu. Mengingat akun yang menulis komentar tersebut mengaku dirinya indigo.


Axton berdecak karena merasa tak percaya. Tetapi saat membaca penjelasan rinci ciri-ciri hantu yang diajak bicara Julie, dia merasa mengenal sosok tersebut. Karena mengenal June, Axton tentu tahu bagaimana ciri lelaki itu.

__ADS_1


"Ini tidak mungkin. Haha! Ini tidak mungkin." Axton terus menggeleng. Dia merasa sulit percaya. Namun dalam lubuk hatinya Axton merasa penjelasan di komentar itu masuk akal. Apalagi saat dirinya mengingat runtutan kejadian aneh yang dilakukan Julie akhir-akhir ini.


...***...


Kini June dan Julie dalam perjalanan pulang. Kala itu June mendadak terpikirkan sesuatu.


"Kau pulang saja duluan. Aku ingin mengurus sesuatu terlebih dahulu," cetus June.


"Mengurus apa? Beritahu aku!" ujar Julie. Dia bergegas meletakkan ponsel di telinga karena sopir taksi langsung menoleh.


"Nanti aku akan cerita. Senja sebentar lagi berakhir. Aku takut tidak punya waktu."


"Tapi--" Julie tidak melanjutkan kalimatnya karena June langsung menghilang begitu saja. Sekarang perempuan tersebut hanya bisa menghela nafas.


June sebenarnya kembali mendatangi Molly. Hantu perempuan itu lantas menatap heran.


"Kau kenapa kembali?" tanya Molly.


"Aku punya rencana! Dan aku akan melibatkan Shane dalam rencanaku!" seru June.


"Shane? Bagaimana? Dia tidak bisa melihatmu bukan?" tanggap Molly.


"Itulah alasanku menemuimu. Aku ingin mencari cara agar Shane bisa melihatku!" ucap June.


"Apa?!" Mata Molly membulat sempurna.

__ADS_1


__ADS_2