Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 15 - Identitas Tersembunyi Shane


__ADS_3

...༻◈༺...


"Julie, aku akan ikut denganmu ke Los Angeles!" seru June yang tiba-tiba sudah berada di samping Julie. Keduanya sudah memasuki area gedung apartemen.


"Lakukanlah kalau bisa," sahut Julie asal. Dia tidak menganggap pernyataan June serius.


"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu. Ada yang harus aku lakukan." June langsung menghilang. Padahal senja belum sepenuhnya berakhir.


Julie menggeleng sambil tersenyum tipis. Dia tidak mau memikirkan apa yang dikatakan June tadi berlarut-larut.


Alasan June meninggalkan Julie karena ingin melakukan sesuatu. Ia benar-benar serius ingin ikut Julie ke Los Angeles. Namun June masih belum tahu bagaimana caranya. Oleh karena itu sekarang dia mencari Molly.


June hanya perlu mendatangi persimpangan jalan. Di sana adalah tempat Molly biasanya duduk.


"June! Apa kau sudah mengatakan kepada Julie tentangku?" Molly menyambut kedatangan June dengan antusias.


"Tentang apa?" dahi June berkerut.


"Tentang aku yang membutuhkan pertolongannya! Apa kau lupa kalau aku sudah banyak membantumu malam itu?!" timpal Molly.


"Maksudmu malam saat Julie makan di restoran?" tebak June yang langsung direspon Molly dengan anggukan.


"Kau sama sekali tidak membantuku! Keadaan saat itu malah sangat kacau. Lagi pula aku tidak pernah berjanji akan membantumu," ujar June. Bola matanya segera melirik ke atas langit. Dia sadar bahwa senja sebentar lagi berakhir.


"Dasar tidak punya hati nurani," komentar Molly sinis.


"Tapi sekarang jika kau benar-benar bisa membantuku, maka aku akan membujuk Julie untuk membantumu. Aku berjanji!" kata June. Dia terlihat begitu serius.


Mata Molly memicing penuh curiga. Dia lantas bertanya, "Kau mau apa?"


"Aku ingin ikut Julie ke Los Angeles. Rasanya aku tidak rela membiarkannya pergi berduaan dengan sekretaris cupunya itu." June menjelaskan panjang lebar.


"Kau pasti bercanda. Apa kau cemburu? Apa kau tidak sadar kau itu siapa?" Molly terperangah tak percaya.

__ADS_1


"Aku tahu! Aku hanya tidak ingin Julie salah memilih lelaki lagi. Bagaimana kalau dia celaka dan tidak ada siapapun yang menolong? Kemarin saja Fred hampir memperkosanya. Kalau aku tidak ada, mungkin Julie tidak akan tertolong!"


"Kau tidak seharusnya mencampuri kehidupan Julie sampai separah ini."


"Molly! Kumohon..." June tetap bersikeras.


Molly memutar bola mata jengah. Dia mencoba memahami perhatian June yang terkesan berlebihan.


"Aku hanya terpikirkan satu cara," imbuh Molly sambil memegangi dagu dengan satu tangan.


"Apa?" June sudah tidak sabar.


"Kau harus merasuki lelaki culun itu lagi. Menurutku itu adalah satu-satunya cara!" cetus Molly.


"Apakah ada cara lain? Lelaki bernama Shane itu sangat tidak keren!" protes June seraya mengulurkan dua tangan ke depan.


"Kalau begitu, kau tidak usah ikut Julie ke Los Angeles. Lagi pula dia tidak akan lama kan?" Molly menyerah. Menurutnya June terlalu banyak maunya.


June mengusap kasar wajahnya. Dia terdiam sejenak untuk berpikir. Memang setelah dipikir-pikir, merasuki Shane adalah satu-satunya cara agar June bisa ikut bersama Julie.


"June, kau--" Molly tidak jadi bicara ketika June sudah terlanjur menghilang. Dia lantas kembali duduk sambil memasang tatapan kosong. Menatap orang yang lalu lalang di hadapannya secara bergantian.


Sementara itu, June berusaha mencari rumah Shane. Dia ingat arah jalan pulang lelaki tersebut berlawanan dengan apartemen Julie.


June melakukan pencarian secara cepat karena senja sedikit lagi berakhir. Dia ingin mengenali Shane. Sebelum benar-benar merasuki lelaki tersebut.


Selepas memeriksa beberapa tempat, akhirnya June berhasil menemukan rumah Shane. Lelaki berkacamata itu tinggal di sebuah apartemen cukup kumuh.


"Kehidupanmu sangat mudah ditebak, Shane. Membosankan," gumam June. Dia mendekati Shane yang asyik duduk di sofa.


Shane terlihat sibuk mengutak-atik laptopnya. Dia mengambil sebuah buku catatan berwarna hitam. Bersamaan dengan itu, selembar foto jatuh dari sana.


"Julie?" June dapat melihat kalau foto yang dijatuhkan Shane adalah foto Julie saat masih SMA. Di foto itu, Julie terlihat berjalan sambil memeluk beberapa buku.

__ADS_1


"Sudah kuduga kau lelaki tidak benar! Kau pasti menguntit Julie kan?" timpal June dengan nada mengomel. Akan tetapi ucapannya tentu tidak didengar oleh Shane.


Shane tersenyum sambil memandangi foto Julie. "Aku masih heran kenapa kau tidak sengaja masuk ke foto ini," gumamnya sembari tersenyum.


"Tidak sengaja? Kau pikir aku percaya, hah?! Sekarang aku semakin yakin untuk pergi ke Los Angeles. Aku tidak akan biarkan lelaki sepertimu dekat dengan Julie!" June mengarahkan jari telunjuk ke wajah Shane.


Ponsel Shane berdering. Saat melihat nama orang yang memanggil, dia mendengus kasar. Shane langsung mematikan panggilan telepon.


"Paul Davison? Bukan Paul Davison pebisnis sukses di bidang teknologi itu kan?" tanya June penasaran. Sebab dia dapat melihat nama Paul tertulis di layar ponsel June.


Sebagai hantu yang sering berkeliaran di jalanan, June tentu tahu Paul Davison. Lelaki yang dikenal sebagai penemu mobil tercanggih dan paling mahal di dunia.


June semakin curiga ketika melihat Paul kembali menelepon Shane. Namun Shane lagi-lagi tidak menjawab.


"Kau sepertinya berhubungan dekat dengan Paul. Kau siapa, Shane?" June menyelidik.


Tak lama kemudian, pintu terdengar diketuk. Suara Marry, bibinya Shane memanggil. Shane lantas membukakan pintu untuk wanita tersebut.


"Shane! Paul meneleponku. Apa kau mengabaikan panggilannya lagi?" timpal Marry sembari melangkah masuk. Dia meletakkan barang belanjaannya ke meja dapur.


Shane tidak menanggapi perkataan Marry. Ia tampak duduk ke sofa dan kembali sibuk dengan laptop. Marry lantas mendekat.


"Shane, aku tahu kau marah dengan kedua orang tuamu. Tapi setidaknya perlakukanlah Paul dan Naomi dengan baik. Biar pun begitu, mereka tetap orang tuamu," tutur Marry.


"Paul dan Naomi? Mereka orang tuamu?! Gila! Kau ternyata anak konglomerat. Tapi kenapa kau tinggal di tempat kumuh begini?" June yang mendengar kaget. Dia heran kenapa hidup Shane terlihat menyedihkan. Padahal setahunya keluarga Davison adalah salah satu keluarga terkaya di USA.


"Aku hanya tidak mau terlalu bergantung dengan mereka. Lagi pula, mereka sudah memiliki anak masing-masing untuk di urus," tanggap Shane datar.


"Ya, setahuku ayah dan ibumu sudah bercerai. Mereka sekarang sudah punya keluarga masing-masing. Jadi karena itu kau memilih hidup begini?" June lagi-lagi menyahut. Dia mendecakkan lidah sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi kau juga anak mereka. Paul dan Naomi terus menanyakan keadaanmu kepadaku. Kumohon berilah mereka kabar sesekali. Oke?" Marry mencoba memberikan masukan.


"Aku tidak berjanji." Shane menanggapi dengan singkat. Dia segera beranjak masuk ke kamar.

__ADS_1


Kini Marry hanya bisa menghela nafas berat. Berusaha memaklumi apa yang dirasakan Shane. Memang sejak kecil lelaki itu banyak menanggung derita. Saat berusia sepuluh tahun, Shane telah terbiasa mendengar ayah dan ibunya bertengkar. Shane juga seringkali ditinggalkan di rumah sendirian. Hanya Marry satu-satunya orang yang menemani.


Marry sendiri bukan sepenuhnya bibi kandung Shane. Melainkan pembantu rumah tangga di rumah Shane saat dulu. Tetapi tugas wanita itu berubah ketika Shane dewasa dan berniat ingin tinggal di rumah sendiri. Marry diberi tugas oleh Paul dan Naomi untuk menjaga Shane.


__ADS_2