Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 14 - Berteman


__ADS_3

...༻◈༺...


Julie mengabaikan June. Bukan karena tidak bersedia menanggapi, tetapi karena memang tidak bisa. Mengingat dirinya sedang bersama Shane sekarang.


"Apa dulu kita benar-benar satu sekolah?" Julie memulai pembicaraan. Dia dan Shane baru saja masuk ke kereta. Keduanya duduk bersebelahan.


Sementara June, dia terlihat berdiri menyandar di tiang kereta. Tangannya tampak terlipat di depan dada. Raut wajah June cemberut. Ia merasa kesal karena terus diabaikan Julie, dan semua karena kehadiran Shane.


"Iya, tapi aku yakin kau tidak akan mengenalku," sahut Shane.


"Bukan begitu, Shane. Akhir-akhir ini memang aku merasa aneh. Aku merasa telah melupakan banyak hal. Terutama tentang masa lalu." Julie mengarahkan bola matanya ke kanan atas. "Beberapa bulan lalu aku juga pernah bertemu teman lama. Tapi aku tidak ingat kenangan apapun saat bersamanya. Itu aneh bukan?" sambungnya bercerita.


"Apa kau sudah mencoba memeriksakan diri ke dokter?" tanya Shane.


"Wah... Lelaki cupu ini sudah menganggapmu tidak waras, Julie." June terkesan seperti menjelekkan Shane.


Julie mendelik untuk memberikan kode agar makhluk tak kasat mata itu tutup mulut. Selanjutnya, dia segera menoleh ke arah Shane.


"Sudah! Kata dokter, aku baik-baik saja. Aku bahkan tidak memiliki penyakit lupa jangka pendek seperti Dori. Maksudku seperti ikan di film Finding Nemo. Kau tahu kan?" Julie menjelaskan dengan hati-hati.


"Ya, aku sangat tahu. Aku suka film jenis seperti itu. Maksudku film yang memiliki pesan tentang kehidupan," sahut Shane. Rasa antusiasnya untuk bicara lebih banyak dengan Julie perlahan muncul. Terlebih gadis tersebut menyinggung sesuatu yang kebetulan disukai Shane.


"Tentu saja kau suka. Sesuai dengan gaya cupumu itu," komentar June sinis.


"Benarkah? Film-film animasi memang kebanyakan mengandung pesan yang bagus dan mudah dicerna." Julie menanggapi perkataan Shane.


"Julie! Aku tahu kau menyukai film romantis. Kau bahkan tidak pernah menonton film animasi yang disebutkan Shane!" protes June seraya mengulurkan dua tangan udara. "Kau tidak tertarik pada si cupu ini kan?" tukasnya menyelidik dengan dahi berkerut.


Julie hanya diam. Hal serupa juga dilakukan Shane. Saat kereta berhenti, keduanya berpisah karena rumah mereka berada di arah yang berbeda.


Kini June dapat bicara dengan leluasa kepada Julie. Dia tersenyum sambil berjalan dalam keadaan dua tangan yang bertautan di balik punggung.

__ADS_1


"Kau akan pergi ke Los Angeles besok?" tanya June.


"Ya, ada urusan pekerjaan. Jadi selama tiga hari, mungkin kau tidak akan melihatku," ujar Julie. Dia melangkah maju berbarengan dengan June. Kebetulan jalan menuju apartemen Julie cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat dalam selang sekian menit. Jadi Julie juga bisa leluasa bicara bersama June.


"Boleh aku ikut?" imbuh June.


"Bagaimana bisa? Apa hantu bisa naik pesawat?" tanggap Julie. Menggeleng tak percaya. Dia terkekeh.


"Tentu saja bisa. Apapun akan aku lakukan untuk bisa terus bertemu denganmu!"


"Tapi aku akan berangkat saat pagi. Bagaimana kau bisa ikut?" Julie berhenti melangkah. Dia tiba-tiba teringat pertanyaan yang selama ini terus membuatnya bertanya-tanya. "Ah, benar! Ada hal yang ingin aku tanyakan," katanya sembari menengadah ke atas. Menatap langit jingga yang mulai menggelap.


"Sebentar lagi malam akan tiba. Tapi waktuku masih cukup banyak," ungkap June.


"Ayo kita bicara sebentar!" ajak Julie. Dia reflek meraih tangan June. Namun tentu saja dirinya tidak dapat menyentuh tangan tersebut. "Ah, aku lupa," ujarnya.


June tersenyum menggoda. "Kenapa tiba-tiba ingin menyentuhku?" tukasnya percaya diri. Membuat Julie tidak tahan dan berjalan lebih dulu. Gadis itu memasuki sebuah taman bermain anak-anak. Lalu duduk di salah satu ayunan.


"Kenapa kau hanya muncul saat senja?" tanya Julie.


"Wujudku akan berubah menjadi seperti ini saat senja. Dan di saat senja berakhir, maka wujudku akan berubah jadi asap jingga. Itulah alasanku hanya bisa menemuimu saat senja," jelas June seraya mengamati dua tangannya secara bergantian.


"Pantas saja aku sering melihat asap jingga itu di sekitar apartemen. Kau tidak mengintipku saat mandi bukan?" pungkas Julie dengan tatapan penuh curiga.


"Tentu saja tidak! Saat aku berwujud asap, aku hanya bisa mendengar. Tapi anehnya saat aku merasuki Shane tempo hari, aku bisa merasakan semuanya. Dari mulai melihat, mendengar, apalagi menyentuh sesuatu," ungkap June. Dia memutuskan memberitahu segalanya kepada Julie.


"Kau tidak akan memanfaatkan Shane kan?"


"Oh my god! Itu tidak akan terjadi. Aku benci tipe lelaki sepertinya," sahut June sambil mengangkat tangan ke udara.


"Ya, itu sangat terlihat jelas." Julie tak bisa membantah. Dia dapat melihat kebencian June saat Shane ada bersamanya tadi.

__ADS_1


"Ada satu hal lagi yang membuatku penasaran. Kenapa kau memilihku untuk ditemui di setiap senja? Kenapa kau tidak memilih selebriti super cantik dan elegan di luar sana. Seperti Kendall Jenner, atau Selena Gomez misalnya. Kenapa aku?" cetus Julie. Dia menuntut jawaban dari June.


Senyuman khas June yang menenangkan muncul kembali. Membuat Julie harus membuang muka sejenak.


"Mengenai itu... Aku sebenarnya juga tidak tahu pasti. Tapi saat pertama kali aku melihatmu, aku merasakan getaran dan ikatan aneh. Aku merasa kalau kau adalah seseorang yang penting untukku," terang June yang sepenuhnya tidak menjawab pertanyaan Julie.


"Hanya itu?" Julie masih tak percaya.


"Ya, hanya itu. Aku kira kau sudah tahu karena memang bisa melihatku sejak awal. Aku bilang, aku menyukaimu!" June mengungkapkan isi hatinya lagi secara blak-blakkan. Dia menoleh ke arah Julie. Menatap lekat gadis itu dari samping.


Seolah tahu sedang ditatap, Julie membalas tatapan June. Ia dan hantu itu bertukar pandang cukup lama.


Tanpa diduga, ingatan June memunculkan kilas balik masa lalunya. Dia bisa melihat Julie ada di sana. Tersenyum sampai menampakkan deretan gigi-giginya yang rapi dan putih.


Mata June membulat. Dia lekas menggeleng kuat. Kemudian memegangi kepala.


"June? Apa kau baik-baik saja? Apa hantu juga bisa sakit kepala?" tanya Julie cemas. Terutama ketika menyaksikan ekspresi June yang mendadak berubah.


"Aku baik-baik saja. Mungkin ini efek karena sebentar lagi senja akan berakhir. Mungkin satu menit lagi." June menatap langit yang mulai menghitam. Sekarang pikirannya terus mengulang sekilas ingatan tentang Julie.


'Sepertinya dugaan Molly benar. Apa Julie adalah orang dari masa laluku?' benak June bertanya-tanya.


"Mulai sekarang aku tidak masalah kau menjadi temanku. Anggap saja ini sebagai terima kasihku karena kau sudah menyelamatkanku dari Fred tempo hari," ungkap Julie.


"Benarkah?" June sontak senang. Kegelisahannya seketika pudar. Dia mengembangkan senyuman lebar. "Kalau begitu, mulai besok kita akan melakukan hal yang menyenangkan berdua! Oke?" ucapnya dengan antusias. Saking senangnya, June mengayunkan dirinya di ayunan dengan kecepatan laju. Ayunan tersebut lantas menimbulkan suara decitan yang khas.


Dari seberang jalan, ada dua anak kecil yang berhasil memergoki pergerakan ayunan June. Di mata mereka ayunan tersebut bergerak sendiri.


"Aaarkkhhh!!!" dua anak perempuan itu berteriak dan berlari.


Julie yang mendengar, buru-buru meninggalkan taman bermain. Dia tentu tidak mau orang lain menyebutnya sebagai gadis aneh yang bicara sendiri.

__ADS_1


"Julie, tunggu!" June otomatis mengikuti Julie.


__ADS_2