Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 20 - Body For June


__ADS_3

...༻◈༺...


"Besok kita akan menemuinya!" ujar Julie sembari melirik ke arah June yang sedang dalam wujud asap jingga. Ia segera telentang ke ranjang. Mencoba untuk tidur.


Entah kenapa, semenjak tidak terpisahkan dari June, Julie sudah jarang diganggu hantu lain. Gadis itu tidak tahu pasti. Tetapi dia tentu merasa lebih tenang. June bak seorang pengawal gaib baginya.


Beberapa jam berlalu. Mentari tampak muncul dari ufuk timur. Julie membuka mata. Dia melangkah keluar kamar. Dahinya berkerut saat melihat Axton yang sedang tidur di sofa.


Julie membangunkan Axton. Dia bertanya kenapa kakaknya itu tidak pulang.


"Aku mencemaskanmu." Axton merubah posisi menjadi duduk. Dia mengerjapkan mata berulang kali. Mencoba mengumpulkan kesadaran.


"Well, aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan," ucap Julie. Dia melenggang menuju dapur. Julie menyiapkan sarapan. Hidangannya kali ini adalah wafel yang diberi tambahan madu.


"Sarapanlah sebelum pergi," imbuh Julie. Dia tidak lupa menyiapkan sarapan untuk Axton.


Dengan langkah gontai Axton bergabung ke meja makan. Dia menatap serius ke arah Julie. Gadis tersebut tampak menikmati sarapan.


"Apa kau mau jalan-jalan bersamaku? Aku akan mengambil cuti. Aku juga akan mengajak Agnes dan teman-temanku," cetus Axton.


"Tidak. Aku sudah jera bergaul dengan kenalanmu," jawab Julie ketus. Hubungannya dan Axton jadi dingin setelah adanya pembicaraan mengenai psikiater.


"Kali ini aku akan memastikan kalau teman-temanku bukanlah pengganggu seperti Fred," tutur Axton. Berusaha membujuk.


"Aku terlambat. Tolong cuci piringnya kalau sudah selesai makan." Julie tidak menanggapi perkataan Axton. Ia menghampiri wastafel dan mencuci piring dan gelas kotor di sana.


Axton mendengus kasar. Dia tahu Julie sulit diajak bicara saat memiliki suasana hati yang buruk. Jadi Axton akan memutuskan bicara lagi nanti.


Karena kebetulan berangkat di jam yang sama, Axton mengantarkan Julie ke kantor. Sepanjang perjalanan, Julie tidak menanggapi segala pembicaraan serta candaan dari sang kakak.


"Kau masih marah karena yang kemarin? Aku minta maaf kalau itu sangat menyinggung," ujar Axton. Dia menghentikan mobil tepat di depan perusahaan Julie.


"Kumohon jangan membahas tentang psikiater lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri." Julie tidak menatap Axton. Dia bergegas keluar dari mobil.

__ADS_1


Julie tidak berhenti memeriksa jam. Berharap sore bisa datang lebih cepat. Sebab dia sudah tidak sabar untuk pergi bersama June menemui Madam Sharon. Julie berniat pergi ke tempat Madam Sharon sebelum senja tiba. Dengan begitu, June bisa memiliki waktu lebih banyak.


Agar lupa waktu, Julie sengaja menyibukkan diri. Dia langsung pergi ketika waktu menunjukkan jam lima sore.


"Ayo kita pergi, June!" ajak Julie. June yang masih berwujud asap jingga lantas mengikuti.


Julie menaiki taksi untuk mendatangi tempat Madam Sharon. Dia harus pergi ke bagian barat kota California.


Sesampainya di tempat tujuan, senja tiba. June otomatis berubah wujud.


"Akhirnya... Kau harus tahu kalau ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu," cetus June.


"Simpan itu dahulu. Ayo kita temui Madam Sharon." Julie melangkah lebih dahulu ke depan pintu rumah Madam Sharon. Tampilan rumah yang didatanginya terlihat kuno dan gelap. Hawa juga terasa lebih dingin. Julie perlahan memeluk dirinya sendiri.


"Kau kedinginan? Andai aku bisa memelukmu," ucap June. Membuat Julie terkekeh sambil menggelengkan kepala. Dia segera memencet bel pintu.


Setelah tiga kali menekan bel, pintu akhirnya terbuka. Mata Julie membulat saat melihat bukan manusia yang membuka pintu. Melainkan seorang lelaki remaja berwajah sangat pucat. Jelas dia merupakan makhluk gaib.


Julie menenggak ludah. Dia hampir tidak pernah bicara dengan hantu. Mungkin hanya June satu-satunya hantu yang pernah diajak Julie bicara.


Hantu remaja tersebut tidak bicara. Dia hanya mengarahkan jari telunjuk ke suatu tempat. Tepatnya ke bagian belakang rumah. Dia memberitahukan bahwa Madam Sharon ada di sana. Hantu itu juga membuka pintu lebih lebar. Mempersilahkan Julie untuk masuk.


Julie dan June mendatangi teras belakang rumah. Benar saja, di sana ada seorang wanita paruh baya yang duduk santai sambil merokok. Wanita itu tidak lain adalah Madam Sharon. Dia langsung menoleh ke arah Julie dan June.


"Selamat datang kalian berdua. Silahkan duduk," kata Madam Sharon.


"Kau bisa melihatku?" tanggap June seraya menunjuk dadanya sendiri.


"Tentu saja. Hantu remaja yang membukakan pintu untuk kalian tadi adalah anakku," jelas Madam Sharon.


Julie dan June lantas duduk ke kursi yang ada di hadapan Madam Sharon. Suasana hening menyelimuti. Julie dan June terdiam karena Madam Sharon tampak mengamati mereka dengan serius.


"Perkenalkan namaku, Julie. Dan dia June." Julie memperkenalkan diri dengan ramah.

__ADS_1


"Apa kalian saling jatuh cinta?" tebak Madam Sharon. Mengabaikan sesi pembukaan yang dibuat Julie.


Julie dan June reflek bertukar pandang. Julie lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaan Madam Sharon.


"Kami ingin mencari cara agar bisa bersama," jelas June memberitahu.


"Jujur, kalian bukan satu-satunya pasangan beda dunia yang mendatangiku. Tentu aku punya caranya. Hanya saja, kalian perlu menumbalkan seseorang," imbuh Madam Sharon. Dia menyesap rokok. Lalu mengeluarkan kepulan asap dari mulut.


"Maksudmu?" Julie menuntut penjelasan.


"June harus mencari tubuh seseorang yang cocok dengannya. Lalu mengambil alih tubuh itu," terang Madam Sharon.


"Shane..." lirih June.


"Tidak, June." Julie menggeleng. Dia kembali angkat bicara. "Apakah ada opsi lain? Bagaimana kalau aku yang menjadi tumbalnya? Kau mengerti maksudku bukan?" ucapnya.


Madam Sharon terkekeh. "Hantu yang bunuh diri kebanyakan berakhir menjadi roh jahat. Itu tidak menjamin kalian bisa bersama," ungkapnya.


"Benarkah?" Julie bergidik ngeri. Dia bersyukur karena tidak nekat melakukan apa yang terlintas dalam benaknya.


"Satu-satunya jalan agar kalian bersama adalah menemukan tubuh untuk June. Jadi bisa dibilang orang itu adalah tumbal cinta kalian. Pikirkanlah baik-baik dahulu. Ini memang bukan perkara mudah. Kalian juga harus mencari orang itu dulu kan?"


"Sebenarnya June sudah tahu orang yang cocok..." lirih Julie. Membicarakan perihal Shane. Dia merasa tidak tega kepada Shane. Meskipun begitu, sekarang Julie ingin mencoba fokus dengan kebahagiaannya.


"Bagus kalau begitu! Kalian hanya perlu melakukan ritual pengikatan dan menyiapkan uang untukku," cetus Madam Sharon.


June menatap Julie. Dia merasa kalau ada keraguan dalam gadis tersebut.


"Sepertinya aku dan Julie butuh waktu. Kami akan kembali kalau--"


"Tidak! Kami akan melakukannya. Beritahu saja apa yang harus kami lakukan," sergah Julie. Memotong perkataan June.


Mendengar hal itu, June membulatkan mata. Dia tidak menyangka Julie akan setuju begitu saja. Terlebih masalah yang dihadapinya menyangkut nyawa manusia.

__ADS_1


"Oke, proyek body for June dimulai. Ini mungkin akan menguras energi dan emosi." Madam Sharon tersenyum miring.


__ADS_2