Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 22 - Mencari Tahu


__ADS_3

...༻◈༺...


June yang merasa cemas, nekat merasuki tubuh Shane. Dia segera membawa Julie ke rumah sakit terdekat. Untung saja keadaan gadis itu tidak mengkhawatirkan.


Kini Julie sedang mendapatkan perawatan. Dokter mengatakan bahwa gadis itu hanya mengalami syok berat.


June masih enggan keluar dari tubuh Shane. Dia duduk di samping Julie sambil menggenggam tangan gadis itu. June akan menunggu Julie sadar.


Selang sekian menit, Julie akhirnya sadar. Dia langsung memegangi kepala yang masih terasa pusing.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya June.


"Aku hanya sedikit pusing," jawab Julie. Dia mengerjapkan mata berulang kali.


"Ini aku June! Aku sangat khawatir kepadamu. Jadi aku terpaksa merasukinya," ungkap June.


"Kau June?" Julie memastikan. June yang sekarang berada di badan Shane segera mengangguk.


"June!" Julie merubah posisi menjadi duduk. Jujur saja, kilas ingatan mengenai June masih terbayang dalam benaknya.


"Julie! Berhati-hatilah. Dokter menyuruhmu untuk beristirahat!" June cemas menyaksikan Julie yang memaksakan diri untuk duduk.


"Aku melihatmu, June! Aku melihatmu!" Julie memegang pundak Shane. Mengguncang badan lelaki itu dengan histeris.


"Kau melihatku?" tanya June.


"Aku rasa kau benar! Kita sepertinya memiliki hubungan di masa lalu," ucap Julie.


"Benarkah? Memangnya apa yang kau lihat?" tanya June antusias.


Julie terdiam sejenak. Bagaimana tidak? Banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab. Salah satunya adalah mengenai ingatannya sendiri. Gadis itu merasa heran, kenapa dirinya tidak bisa mengingat sedikit pun tentang June?


"Aku melihat kita berdua ada di mobil. Lalu ada sebuah truk yang menabrak kita. Kejadiannya persis seperti kecelakaan yang kita lihat dijalanan tadi," jelas Julie.


"Kecelakaan?" pupil mata Shane membesar.


"Aku juga melihat diriku mengenakan gaun pengantin. Apa kita dulu pernah menikah, June?"


"Gaun pengantin?" June sama sekali tidak mengingat apa yang dikatakan Julie terhadapnya. "Ingatanku hanya sebatas melihatmu tersenyum. Tidak lebih dari itu," jelasnya yang merasa kecewa.


Julie mendengus kasar. Dia berucap, "Aku heran, jika kau adalah masa laluku, tapi kenapa orang-orang terdekatku tidak pernah sedikit pun bicara tentangmu. Aku pikir kita harus mencari tahu semuanya sendiri."

__ADS_1


Julie beringsut ke tepi tempat tidur. Akan tetapi June lekas menghentikan.


"Lakukan besok saja. Kau harus istirahat sekarang," kata June.


Julie lantas menurut. Dia segera kembali telentang ke kasur.


"Aku akan keluar dari tubuh Shane. Jangan coba-coba nekat pergi. Oke?" June memastikan.


Julie menjawab dengan anggukan. Tak lama kemudian asap jingga segera keluar dari badan Shane. Lelaki itu tentu kebingungan. Dia tampak mengedarkan pandangan ke sekitar. Memastikan dimana tempat dirinya berada.


"Shane, terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit," cetus Julie.


"A-aku membawamu ke sini?" Shane membulatkan mata. Dia menenggak salivanya sendiri. Karena untuk yang kesekian kalinya, Shane merasa tubuhnya berbuat di luar kendali.


Meskipun begitu, Shane lebih khawatir menyaksikan keadaan Julie. Dia segera menanyakan keadaan gadis itu.


"Aku baik-baik saja." Julie memberitahu sambil tersenyum. "Maaf, makan malam kita harus dibatalkan," lanjutnya.


"Kita bisa melakukannya lain kali," sahut Shane seraya memperbaiki kacamata.


"Shane, apa kau masih bersedia menjadi sekretarisku? Jujur, sampai sekarang aku belum menemukan penggantimu," ucap Julie.


"Kau bersungguh-sungguh?" Shane memastikan.


"Aku..." Shane menundukkan kepala. "Sepertinya aku tidak bisa. Karena kejadian di pesawat kemarin, ayahku menyuruhku untuk mengelola salah satu perusahaannya. Dan sekarang aku sedang mempersiapkan diri. Dia bilang aku akan aman jika tidak menutupi identitasku," jelasnya panjang lebar.


"Jadi kau akan menjadi CEO salah satu perusahaan besar Davison?" Julie melebarkan kelopak mata. Shane menjawab dengan satu anggukan.


"Itu kabar baik, Shane. Aku harap suatu hari kita bisa menjadi rekan bisnis untuk sebuah proyek besar," cetus Julie. Dia merasa ikut senang dengan kabar baik yang diberitahukan Shane.


"Tidak suatu hari lagi. Aku akan pastikan akan mewujudkanya," tanggap Shane. Dia dan Julie saling tersenyum.


...***...


Matahari muncul dari ufuk timur. Saat waktu menunjukkan jam 07.30 pagi, Julie meninggalkan rumah sakit. Demi menguak kebenaran, dia sengaja tidak masuk kerja.


Hal pertama yang dilakukan Julie adalah pergi ke rumah lamanya. Sasya sangat senang dengan kedatangannya.


Agar tidak dicurigai, Julie berpura-pura membawakan kue untuk Sasya. Kebetulan juga, besok adalah hari thanksgiving.


"Tumben sekali kau libur kerja dan memilih datang ke sini," komentar Sasya yang tidak berhenti tersenyum. Orang tua mana yang tidak bahagia saat mendapat kunjungan dari anaknya.

__ADS_1


"Aku ingin libur kerja sesekali. Kebetulan juga aku merindukan rumah lamaku," kilah Julie.


"Kebetulan aku sedang membuat pie apel. Beristirahatlah ke kamarmu. Axton dan Ayahmu juga akan ke sini nanti malam," tutur Sasya.


Perjalanan yang ditempuh Julie dari California ke Nevada jaraknya tidak dekat. Makanya Sasya menyuruhnya beristirahat.


Julie melangkah menaiki tangga. Kemudian masuk ke kamar lamanya. Dia mencoba mencari foto-foto masa lalunya. Berusaha menemukan jejak tentang June.


Anehnya, Julie tidak menemukan fotonya saat masih sekolah. Di hanya berhasil menemukan foto masa kecilnya dan sekarang.


"Haruskah aku bertanya pada Mom?" gumam Julie. Ia segera menemui Sasya ke dapur.


"Mom, apa kau ada menyimpan foto-fotoku dahulu? Aku tidak bisa menemukannya di kamarku," imbuh Julie.


Mata Sasya membulat. Dia terlihat kaget mendengar pertanyaan Julie. Bibirnya bergetar. Mata Sasya juga meliar ke segala arah. Dia tampak panik sekaligus bingung.


"Mom?" Julie menanti jawaban.


"Bu-bukankah kau kemarin tidak sengaja membuangnya?" ujar Sasya tergagap.


"Benarkah? Aku melakukan itu?" Julie meragu. Dia tidak tahu apakah dirinya bisa percaya atau tidak.


"Ya sudah. Lupakan saja," kata Julie. Dia kembali masuk ke kamar.


Julie berdiri di depan jendela. Dia sudah berulang kali memindai seluk-beluk kamar.


"Tidak ada petunjuk June. Aku benar-benar bingung." Julie mengajak June bicara. Hantu itu terus bersamanya dalam wujud asap jingga.


Julie termangu dalam sesaat sambil menatap keluar jendela. Lalu berjalan ke lantai tiga. Di sanalah Julie menemukan sebuah ruangan besar di atap. Tanpa pikir panjang, dia memasuki tempat itu. Di sana terdapat banyak sekali barang-barang bekas.


"Pasti ada sesuatu di sini," imbuh Julie. Dia segera membuka kardus-kardus yang ada.


Benar saja, Julie berhasil menemukan foto-foto lama. Tetapi tidak ada satu pun yang menunjukkan foto June.


Sudah sepuluh kardus diperiksa oleh Julie, tetapi tidak ada satu pun petunjuk tentang June. Karena lelah, Julie lantas beristirahat dengan cara menyandar ke dinding.


Di saat tak terduga, Julie tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng. Benda berbentuk silinder itu terguling di lantai. Hingga berhenti mengenai sebuah buku.


Julie mengambil buku yang ditabrak oleh kaleng tadi. Dia merasa tertarik karena buku itu membahas perihal bisnis yang bisa berguna untuk pekerjaannya.


Julie membuka buku itu. Di sanalah dia akhirnya menemukan selembar foto. Dalam foto tersebut, Julie tampak berpose mesra bersama June.

__ADS_1


Mata Julie terbelalak tak percaya. Jantungnya juga berdegup kencang. Dia sekarang merasa kalau keluarganya menyembunyikan sesuatu darinya.


__ADS_2