Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 41 - Lamaran Yang Langsung Diterima


__ADS_3

...༻◈༺...


"Ini bukan--"


"Shane, apa kau bermaksud melamarku?" Julie sengaja memotong pembicaraan Shane.


"A-apa?" Mata Shane sontak terbelalak. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang tidak kaget saat mendengar gadis pujaan membicarakan tentang lamaran. Bagi setiap manusia di dunia ini, menikah dengan seseorang yang dicintai jelas adalah impian.


"Kalau memang maksudmu begitu, aku akan menerimanya. Kau satu-satunya yang membuatku merasa nyaman. Bahkan dibanding keluargaku sendiri. Mungkin hidupku akan berubah jika aku bersamamu," tutur Julie. Dia langsung to the point. Membuat Shane bingung harus berkata apa.


"Julie, aku..."


"Sekarang, kau bisa memakaikan cincinnya ke jariku. Kau ternyata romantis juga," ucap Julie yang lagi-lagi bicara mendahului Shane. Dia menyodorkan kotak berisi perhiasan kepada lelaki berkacamata itu.


Shane terkesiap. Dia menatap Julie yang mengembangkan senyum. Gadis tersebut selalu mempesona bagi Shane. Terlebih hembusan angin malam membuat anak-anak rambutnya berterbangan. Belum lagi pendar cahaya malam yang membiru. Memancarkan aura kecantikan alami seorang Julie.


"Kau bersungguh-sungguh ingin menikahiku jika aku benar-benar melamarmu sekarang?" Shane memastikan. Dia takut dirinya salah dengar.


"Kau berucap seperti tidak sedang melakukannya, Shane." Julie berkomentar. "Andai aku menolakmu, mungkin aku tidak akan tersenyum. Aku bahkan tidak akan tetap berdiri di hadapanmu," sambungnya.


Shane terdiam seribu bahasa. Selanjutnya, dia menoleh ke kiri dan kanan. Takut kalau perhiasan yang ada dalam tasnya adalah milik orang lain.


'Sudahlah! Aku bisa menebus perhiasan itu jika pemiliknya mencari. Sekarang adalah kesempatan besar untukku agar bisa dekat dengan Julie. Bayangkan! Jika aku menikah dengan Julie, bukankah aku akan melihat wajahnya setiap hari?' batin Shane. Senyuman perlahan terpatri di wajahnya. Memperlihatkan lesung pipitnya.

__ADS_1


"Shane?" panggil Julie. Jujur saja, dia sekarang benar-benar takut kalau Shane akan menolak dan berpikir logis. Julie takut lelaki tersebut akan berkata bahwa perhiasan yang ada dalam tas bukanlah miliknya.


"Ya, Maaf." Shane segera mengambil kotak berisi sepasang cincin dari tangan Julie. Hal itu membuat Julie mendengus lega. Rencana June berjalan mulus.


Shane menyematkan cincin ke jari manis Julie. Setelah itu, barulah Julie yang memasangkan cincin ke jari manis Shane.


"Terima kasih," ungkap Shane. "Ini seperti mimpi bagiku, Julie. A-aku... Sudah lama jatuh cinta kepadamu," lanjutnya yang memilih menyatakan perasaan.


Julie tersenyum. "Aku tahu. Semuanya sangat jelas. Kau juga lelaki yang baik. Aku bisa melupakan segala hal tentang June karenamu," tuturnya.


Perlahan Julie melangkah ke hadapan Shane. Lalu memeluk lelaki itu. Shane yang merasa sangat bahagia, tentu membalas dekapan Julie.


Bersamaan dengan itu, salju mendadak turun. Julie dan Shane saling melepaskan pelukan. Atensi keduanya tertuju ke arah langit.


Puas menghabiskan malam bersama, Shane mengantar Julie pulang. Dia melambaikan tangan dan buru-buru pergi.


Shane tidak langsung pulang. Dia yang merasa aneh, pergi ke toko perhiasan dekat tempat dirinya membeli hadiah.


Ketika Shane masuk, seorang pelayan toko menyambut. "Halo, Tuan... Apa anda ingin membeli perhiasan lagi?" ujarnya.


"Lagi?" Shane membulatkan mata. Dia menuntut jawaban kepada pelayan toko yang bernama Anika itu.


"Ya, saya ingat anda membeli sepasang cincin beberapa jam lalu di sini," jawab Anika.

__ADS_1


"Aku?" Shane otomatis merasa terkejut. Sebab dia merasa tidak pernah mendatangi toko perhiasan itu.


"Ya, anda, Tuan. Dengan pakaian yang sama." Anika memberi kepastian. Dia mengamati ekspresi Shane yang terkesan seperti sedang gelisah. "Apa anda baik-baik saja?" tanyanya.


Shane lantas tersadar. "Ya, terima kasih," sahutnya sembari beranjak keluar dari toko.


Shane mengusap kasar wajahnya. Dia tentu bingung dengan apa yang sudah menimpanya.


"Apa aku punya kepribadian ganda?" gumam Shane menduga. Karena sudah cukup sering mengalami kejadian aneh, dia berniat ingin memeriksakan diri ke psikiater.


Satu malam berlalu. Pagi di hari natal telah tiba. Saat Julie keluar dari kamar, Sasya, Axton, dan, Zac menyambut. Mereka bahkan terlihat sudah menbuat pohon natal kecil. Serta terdapat juga beberapa hadiah yang memiliki ukuran berbeda-beda.


"Julie! Akhirnya kau bangun," seru Axton antusias. Dia menghampiri Julie dan merangkul pundak gadis itu. Lalu membawanya bergabung bersama Sasya dan Zac.


"Maaf, semuanya. Aku lupa menyiapkan hadiah untuk kalian. Tapi aku akan pastikan hadiahnya akan menyusul," ucap Julie sambil memegangi tengkuk. Dia bangun kesiangan gara-gara menghabiskan banyak waktu bersama Shane.


"Tidak apa-apa. Yang penting kau sehat," tanggap Sasya. Saat itulah dia dapat melihat cincin di jari manis Julie. Matanya memicing. Sasya segera meraih tangan Julie dan memperhatikannya dengan seksama. Zac dan Axton otomatis ikut mengamati cincin tersebut.


"Cincin apa ini? Sejak kapan kau suka memakai perhiasan?" tanya Sasya seraya menatap Julie. Alhasil Zac dan Axton melemparkan tatapan penuh tanya.


..._____...


Catatan Author :

__ADS_1


Maaf ya guys, novel ini slow update banget. Itu semua karena aku juga harus handle novel lain. Ditambah, aku nulis novel ini nggak abal-abal, alias nggak asal-asalan, terlepas dari popularitasnya yang sedikit. Karena aku ingin punya novel yang benar-benar aku tulis dari hati. Karena selama ini, kebanyakan novelku hanya ditulis untuk bersenang-senang dan menyenangkan pembaca. Aku bahkan nggak ikutkan novel ini untuk event sejak awal. Jadi aku pastikan novel ini akan berakhir seperti kerangka yang sudah aku buat. Btw ini kemungkinan akan tamat di sekitar episode 50 lebih. Aku ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya buat pembaca yang suka dengan novel ini. Semoga betah terus ya... 😘


__ADS_2