
...༻◈༺...
Julie tersenyum tipis. Karena berniat menikahi Shane, dia lantas menceritakan semuanya kepada keluarganya.
"Apa?!" Axton, Sasya, dan Zac kaget bersamaan. Bagaimana tidak? Julie yang selama ini diketahui tak pernah dekat dengan lelaki manapun, tiba-tiba berbicara tentang pernikahan. Terlebih lelaki yang akan dinikahinya adalah Shane. Putra dari keluarga Davison.
"Kau tidak bercanda kan, Julie? Sejak kapan kau dekat dengan anak Paul Davison?" Zac menuntut jawaban.
"Dia teman SMA-ku, Dad. Aku bertemu lagi dengan Shane saat dia bekerja sebagai sekretarisku. Nanti aku akan perkenalkan Shane secara resmi kepada kalian," imbuh Julie. Menatap tiga orang yang tampak memancarkan tatapan tak percaya.
"Julie... Aku tidak tahu harus berkata apa. Awalnya aku santai saja melihat kau dan Shane berciuman tempo hari, tapi menikah?" Shane menjeda perkataannya untuk menggeleng sejenak. Lalu meneruskan, "itu benar-benar di luar dugaan!"
"Apa? Jadi kau tahu Julie sudah dekat dengan Shane sebelumnya?" timpal Sasya pada Axton.
"Iya, tapi aku mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Itulah alasan aku juga merasa kaget. Bukankah terlalu cepat untuk melakukan pernikahan?" ujar Shane. Menatap Julie dengan penuh tanya.
Julie sengaja menunjukkan sikap tenang. Dia mengembangkan senyuman dan berkata, "Aku juga tidak menyangka Shane akan melamarku secepat ini. Tapi jujur saja, aku ingin memulai hidup baru dan merasakan kebahagiaan."
Kekhawatiran Sasya, Zac, dan Axton perlahan pudar. Mereka membuang rasa cemas mereka terhadap Julie. Sasya dan Zac justru senang mendengar gadis itu bicara begitu. Mengingat selama ini Julie selalu menyendiri.
"Ini benar-benar hadiah natal yang terindah dalam sepanjang hidupku. Aku, Dadymu, dan Axton, senang bisa melihatmu membuka hati lagi. Memberi kesempatan pada dunia." Sasya memegangi pundak Julie. "Sayang, apapun pilihanmu, jika itu akan membuatmu bahagia, maka kami akan mendukung. Congratulation, my dear..." ucapnya sembari memeluk Julie.
__ADS_1
"Thanks, Mom." Julie membalas pelukan Sasya.
"Ayo kita bergabung, Ax!" Zac mengajak Axton untuk ikut memeluk Julie. Namun lelaki itu memilih menonton saja. Kemudian menenggak wine dari dalam gelas.
Axton menatap Julie. Entah kenapa hatinya merasa janggal. Seolah kabar bahagia yang dibawa Julie masih meragukan baginya.
Ketika makan bersama selesai, Sasya dan Zac pulang lebih dulu. Kini hanya tinggal Julie dan Axton berduaan.
"Sekarang jelaskan semuanya kepadaku. No lie!" Axton menatap Julie dengan sudut matanya. Ia melipat tangan di depan dada.
Julie memutar bola mata malas. Lalu berdalih dengan menyibukkan diri untuk mencuci piring ke wastafel. Axton lantas mengikuti dari belakang. Namun sang adik tidak kunjung angkat bicara.
"Dengar, Julie. Aku tahu sikapku sekarang berlebihan. Tapi bisakah kau ceritakan semuanya? Maksudku mengenai cerita bagaimana Shane memintamu menikah dengannya," ucap Axton yang berdiri di belakang Julie.
Axton mendekat. Dia bertanya mengenai keyakinan Julie untuk yang kesekian kalinya. Sebagai kakak, Axton tidak mau Julie salah mengambil arah hidup. Sebab pernikahan bukan permainan. Orang yang dinikahi akan menjadi teman hidup semati.
"Oh my god, Ax. Aku sudah sangat yakin. Aku tidak akan memakai cincin pemberian Shane kalau tidak yakin. Lagi pula, apa wajahku terlihat sedih?" tukas Julie. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Jujur saja, dirinya tidak ada melihat wujud asap jingga June.
"Kau benar. Raut wajahmu menunjukkan segalanya. Baguslah kalau begitu." Axton memegangi wajah Julie. Gadis itu menanggapi dengan senyuman simpul.
Bel pintu mendadak berbunyi. Axton bergegas membukakan pintu. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan Shane. Axton juga sedikit kaget dengan penampilan Shane. Lelaki tersebut terlihat lebih bergaya dari biasanya. Alias tidak culun lagi.
__ADS_1
"Hai, Axton." Shane menyapa dengan senyuman.
"Hai, Shane. Pas sekali. Aku dan Julie baru saja membicarakan hal tentangmu," balas Axton.
"Benarkah? Jadi maksudnya kalian sedang menggosipkan aku? Begitu kan?" tebak Shane.
Di dapur, Julie merasa penasaran. Dia berhenti dari kegiatan mencuci piring, lalu berjalan menuju pintu. Julie membulatkan mata tatkala menyaksikan Shane dengan penampilan lebih berbeda.
Meski Shane tetap mengenakan kacamatanya, namun dari segi rambut dan pakaian sangatlah berbeda. Jika biasanya lelaki itu memasukkan baju ke celana, maka sekarang tidak. Rambut Shane bahkan ditata rapi dan tidak selepek biasanya.
"Shane..." Julie menyapa dengan ragu.
"Hai, Babe!" sapa Shane. Membuat jantung Julie berdegup kencang. Dia merasa Shane tidak mungkin berucap begitu. Terlebih ada Axton di hadapannya.
"Wow..." komentar Axton. Apalagi ketika Shane berjalan melewatinya dan memeluk Julie.
"Tunggu, aku merasa deja vu," ungkap Axton sembari mengingat kejadian yang dirasa pernah terjadi. Setelah mengulik ingatannya, dia baru ingat kalau apa yang dilakukan Shane tadi, persis seperti kelakuan June saat berpacaran dengan Julie dulu.
Di sisi lain, Julie menerima pelukan Shane. Sejak melihat sikap Shane yang blak-blakkan, dia yakin lelaki itu bukanlah Shane. Melainkan June yang sedang merasuki tubuh lelaki tersebut.
"June! Apa yang kau lakukan?" bisik Julie. Dia tampak masih berpelukan dengan Shane.
__ADS_1
"Aku melihat Shane tidur di hari natal. Jadi aku memanfaatkannya untuk menemuimu," jawab June. Ternyata benar dia sedang menguasai tubuh Shane sekarang.