Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 60 - Bersalah, Cemburu, & Marah


__ADS_3

...༻◈༺...


Julie menjadi orang yang sadar lebih dulu. Dia juga segera menarik tangannya. Sehingga pegangan Shane terlepas.


"Ya sudah. Aku akan tetap di sini," kata Julie seraya duduk ke kursi.


Hening menyelimuti suasana. Di luar hujan semakin deras. Petir juga terdengar begitu menggelegar. Julie dan Shane bahkan sesekali dibuat kaget akan sambaran petir yang memekikkan telinga.


"Untung kau tidak jadi pergi," ujar Shane.


"Ya, kalau aku tadi pergi, kemungkinan aku akan terjebak hujan," tanggap Julie.


Tanpa diduga, listrik tiba-tiba padam. Julie sontak reflek berteriak. Sebab dia yang bisa melihat hantu, dapat menyaksikan makhluk-makhluk yang mengerikan ketika keadaan sedang gelap.


"Shane!" pekik Julie. Dia berlari menghampiri Shane. Memeluk lengan lelaki tersebut sambil memejamkan mata.


Wajah Shane langsung memerah. Dia mengelus pundak Julie. Berusaha menenangkan perempuan itu.


"Aku benar-benar beruntung tidak sendirian sekarang..." lirih Julie.


June tentu bisa melihat apa yang dilakukan Julie dan Shane. Dia mencoba untuk tegar dan memilih fokus dengan rencananya.


June memanfaatkan waktu untuk muncul. Mumpung mata Julie sedang terpejam. June mengambil buku dan pulpen dari atas nakas. Dia menuliskan sesuatu untuk Shane. Setelah selesai, June segera memperlihatkan pesannya kepada Shane.


Dengan hanya penerangan kilatan petir, Shane bisa membaca pesan June. Pesan itu berisi, "Katakan pada Julie, 'Kau tenang saja. Aku ada di sini. Aku tidak akan kemana-mana bahkan jika harus menahan buang air kecil."


Shane menghembuskan nafas dari mulut. Dia segera mengucapkan pesan yang dituliskan June. Namun Julie justru membuka mata. Ia bahkan melepas pelukannya.


June langsung menghilangkan diri. Dia tidak mungkin membiarkan dirinya terlihat oleh Julie. June juga tidak lupa buku yang berisi pesannya dan pergi.

__ADS_1


"Kau ingin buang air kecil?" tanya Julie. Dia menganggap Shane serius karena lelaki itu memang jarang bercanda.


"Ti-tidak. Itu hanya metafora. Maksudnya aku tidak akan meninggalkanmu," ungkap Shane.


Belum sempat menjawab, suara petir yang mengejutkan terdengar. Julie dan Shane kembali tersentak kaget. Secara alami Julie memeluk Shane kembali.


Tok!


Tok!


Tok!


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu. Suara seorang lelaki yang menyerukan kata halo juga terdengar. Bahkan terlihat ada pendar cahaya dari celah bawah pintu.


Shane dan Julie berdiri. Shane menjadi orang yang membukakan pintu. Ternyata orang yang datang adalah pemilik motel. Dia memberitahu bahwa badai yang terjadi, mengakibatkan saluran listrik di motelnya terganggu.


"Untuk memulihkan kembali listriknya, kami harus menunggu ahlinya. Tapi belum bisa dipastikan kapan orang itu tiba ke sini. Karena kemungkinan dia tidak bisa pergi dalam keadaan cuaca buruk begini. Jadi untuk sementara, gunakanlah ini untuk penerang." Pemilik motel menyerahkan lampu kepada Shane.


Meski sudah memiliki penerang, Julie tetap merasa takut. Perempuan itu terlihat waspada. Dia memeluk badannya sendiri. Bagaimana tidak? Sejak tadi ada hantu besar dengan mata merah yang terus menatapnya.


Di sisi lain, June tahu hantu besar itu menakuti Julie. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena harus menyembunyikan keberadaannya dari Julie. Setidaknya June bisa bertindak saat Julie telah tidur.


"Kau baik-baik saja, Julie?" tanya Shane. Dia tahu Julie sedang takut. Wajah perempuan tersebut juga tampak lelah.


"Aku hanya lelah." Julie berjalan menghampiri ranjang. Melepas mantel, kemudian merebahkan diri ke sana.


"Tidurlah, Julie..." tutur Shane. Dia duduk ke kursi.


"Kalau aku tidur, bagaimana denganmu? Kau akan tidur dimana?" tanya Julie.

__ADS_1


"Jangan pedulikan aku," jawab Shane.


"Tidak! Aku peduli kepadamu. Kemarilah! Ranjang ini cukup besar untuk memuat dua orang." Julie bergeser. Dia memberi ruang untuk Shane. Hal itu sontak membuat Shane tertegun.


Berbeda dengan June yang sejak tadi mengamati dari atas. Dia merasa kaget dan juga cemburu.


"Ta-tapi Julie, aku..."


"Tidak apa-apa, Shane. Aku tidak akan tidur nyenyak kalau tidak memastikanmu tidur dengan nyaman. Aku merasa bersalah." Julie memaksa.


"Baiklah..." lirih Shane seraya berdiri dia melepas mantelnya terlebih dahulu. Lalu telentang ke sebelah Julie. Keduanya telentang memiring menghadap satu sama lain. Mereka lagi-lagi terpaku saling menatap.


"Beritahu aku, Shane. Apa yang kau lakukan sejak jatuh cinta kepadaku?" tanya Julie. Dia tiba-tiba merasa penasaran mengenai banyak hal tentang Shane. Julie juga tidak bisa menghentikan debaran jantungnya ketika dekat dengan Shane.


"Bersabar. Aku hanya bisa melakukan itu. Aku terlalu naif bukan?" tanggap Shane.


Julie terpaku. Jawaban Shane membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kebaikan hati Shane benar-benar menyentuh sanubarinya.


"Ya, kau terlalu sabar sampai aku tidak pernah tahu kalau kau ada. Setidaknya kau bisa memberanikan diri untuk menjadi temanku saat SMA," ungkap Julie.


Shane tersenyum kecut. "Itu tidak akan pernah bisa," ucapnya.


"Kenapa?" Julie menuntut jawaban.


"Hanya tidak bisa." Shane tidak memberitahu alasannya karena ingin melindungi June. Sebab Julie masih belum tahu bahwa dahulu June menjadi salah satu orang yang sering membuli Shane.


"Tidak mungkin. Pasti ada alasannya," selidik Julie.


"Mungkin karena aku tidak mau merusak kebahagiaanmu dan June. Bukankah aku sudah mengatakan ini sebelum--" ucapan Shane terhenti ketika bibir Julie mendarat ke mulutnya. Memberikan ciuman lembut di sana.

__ADS_1


Sementara itu, June berada di dalam toilet. Dia terduduk di lantai dan meratap di sana. Perlahan air matanya luruh. Perasaannya sekarang bercampur aduk. Rasa bersalah, cemburu, dan marah bergejolak.


__ADS_2