
...༻◈༺...
Julie bersiap-siap. Sebelum pergi menemui Madam Sharon, dia dan June harus menunggu Shane terlebih dahulu.
"Julie, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan sebelum ritual pengikatan dilakukan?" tanya June.
Julie terdiam sejenak. Dia langsung memikirkan tentang perasaannya. Namun di akhir Julie justru menggeleng. "Tidak ada," jawabnya.
"Kau terasa sangat berbeda akhir-akhir ini," komentar June.
"Berbeda? Apa maksudmu? Aku tetap sama seperti biasa," tanggap Julie.
"Maksudku sikapmu terhadapku. Aku tidak tahu kenapa? Tapi kau seperti menjaga jarak," ungkap June. Dia sebenarnya ingin memancing kejujuran Julie.
Lagi-lagi Julie terdiam. Dia menatap June. "Ke-kenapa kau berpikir begitu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujarnya tergagap.
"Aku tentu saja khawatir. Aku takut kau menyembunyikan masalahmu dariku," tukas June.
Ponsel Julie mendadak berdering. Orang yang menelepon ternyata Axton. Kakaknya itu menanyakan kabar tentang Shane. Mengingat keluarga lelaki berkacamata tersebut sedang tertimpa masalah. Pembicaraan Julie dan June harus terhenti karena panggilan telepon.
"Shane harus menjalani penyelidikan di kantor polisi sekarang," ucap Julie.
"Apa selama ini Shane tahu mengenai bisnis yang dia jalankan?" tanya Axton menyelidik.
"Tentu tidak! Shane sama sekali tidak terlibat. Dia justru adalah orang yang menguak fakta tentang bisnis kotor keluarga Davison. Aku bahkan ikut andil membantunya."
"Jadi kau membantu suamimu untuk jatuh miskin? Begitukah maksudmu?" Axton terkekeh setelah berucap begitu.
"Axton! Shane masih punya aku. Dia tidak akan jatuh miskin! Justru dia pria yang hebat," tegas Julie.
"Kau sepertinya sangat mencintai Shane. Dari tadi kau tidak berhenti memujinya," komentar Shane dengan nada menggoda.
"Apa-apaan!" Julie buru-buru mematikan telepon. Dia menoleh ke arah June yang sejak tadi mendengarnya bicara.
__ADS_1
"Aku hanya sangat berterima kasih dengan apa yang dilakukan Shane. Bukankah dia terlalu baik?" kata Julie. Terlintas dalam benaknya untuk menyelamatkan Shane dari ritual pengikatan. Namun di sisi lain dirinya tidak ingin membuat June kecewa. Hantu tampan itu tak pernah berhenti berharap.
Julie benar-benar mengalami dilema. Dia terus mencari solusi atas kegelisahan yang dirinya rasakan.
Tak lama kemudian Shane datang. Julie segera mengajaknya pergi. Dia akan membawa Shane melakukan ritual pengikatan.
Julie berpura-pura mengajak Shane makan malam. Dia memilih tidak mengatakan niat sebenarnya karena merasa tidak tega.
Saat hendak pergi, Shane menemukan ban mobilnya kempes. Anehnya hal serupa juga menimpa ban mobil Julie. Alhasil mereka terpaksa pergi menggunakan taksi.
Julie menyebutkan alamat kediaman Madam Sharon. Dia memberitahu sopir tanpa sepengetahuan dari Shane. Sedangkan June tampak duduk di kursi sebelah sopir.
"Jujur, kalian sebenarnya terlihat serasi. Akan tampak lebih bagus kalau kau melepas kacamata," celetuk sopir taksi. Dia melirik ke arah June. Ternyata sopir taksi yang bertugas sedang dalam kendali Molly. Hantu perempuan itu membantu June melakukan rencana.
Shane dan Julie menanggapi Molly dengan senyuman. Julie tentu tak mengira kalau sopir sekarang sudah dirasuki Molly.
Sementara June yang duduk di sebelah, menegur dengan tatapan mata. Ia menyuruh Molly fokus mengemudi dan diam saja.
Molly lantas diam. Ia menghentikan mobil di tempat tujuan.
"Maaf, Tuan. Kau sepertinya salah alamat. Aku--"
"Ini benar, Julie! Ayo kita pergi!" June memotong perkataan Julie. Lalu keluar lebih dulu.
"Kau bilang apa, Nona?" Molly berpura-pura menanggapi keluhan Julie tadi.
"Tidak! Bukan apa-apa," sahut Julie. Dia dan Shane segera keluar dari taksi.
Sekarang Julie sangat ingin bertanya pada June. Akan tetapi tidak bisa karena Shane sedang bersamanya.
June berjalan lebih dulu. Julie lantas mengikuti. Sedangkan Shane sengaja berjalan setelah Julie.
June membawa Julie dan Shane memasuki hotel bintang lima. Sebelum menaiki lift, June tidak lupa membisiki lantai yang harus dituju Julie.
__ADS_1
"Lantai paling atas!" bisik June yang langsung menghilang. Padahal Julie sudah mengangakan mulut karena ingin bicara.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Shane. Dia dan Julie sudah berada di dalam lift.
Julie memegangi tengkuk. Mengingat dia juga tidak tahu dirinya akan kemana.
"Lihat saja nanti," jawab Julie meragu.
Setibanya di lantai paling atas. Seorang pelayan bernama Rachel sudah menunggu.
Lagi, tanpa sepengetahuan Julie, Molly yang mengendalikan tubuh Rachel.
"Selamat datang. Dari sini kalian ikuti aku. Akan kutunjukkan tempatnya," ujar Molly. Berjalan lebih dulu.
Julie semakin bingung. June juga tidak terlihat keberadaannya. Meskipun begitu, dia dan Shane tetap melangkah mengikuti Rachel.
Ternyata Rachel membawa Julie dan Shane ke balkon atap. Di sana terlihat ada banyak sekali lilin dengan beragam warna.
Bersamaan dengan itu, June memunculkan dirinya.
"Bagaimana, Julie? Shane? Kalian suka?" tanya June.
Julie dan Shane kaget. Mereka reflek bertukar pandang. June bicara seakan Julie dan Shane melihatnya. Namun itulah fakta yang memang terjadi.
June mendekat ke hadapan Julie dan Shane. Ia tersenyum.
"Apa yang kau lakukan?" tanpa diduga, Julie dan Shane melontarkan pertanyaan yang sama.
Senyuman June melebar. Ia meraih tangan Julie dan Shane. Kemudian menautkan dua tangan tersebut.
"Kalian tahu kenapa ada banyak lilin di sini?" ujar June. Julie dan Shane sontak menatapnya.
"Karena semua lilin ini bisa menjelaskan bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Ketika sebuah lilin sudah habis, maka dia akan padam. Lilin itu tidak bisa kembali seperti semula," jelas June. Dia menjadikan lilin sebagai metafora atas hubungan manusia dengan kematian. Intinya June tidak membantah bahwa setiap manusia itu akan mati. Ketika hal tersebut terjadi, maka tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Termasuk kembali untuk hidup lagi.
__ADS_1
"Seperti itulah kematian seharusnya berjalan," sambung June.