Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 32 - Memulai Rencana


__ADS_3

...༻◈༺...


Merasa sudah menceritakan segalanya, Axton menyuruh Julie tidur. Dia berjanji akan membantu Julie untuk menguak kebenaran yang masih belum diketahui.


Julie meringkuk di ranjang. Dia tentu memikirkan tentang June.


"Aku harap bisa mengingat semuanya lebih banyak, June..." gumam Julie lirih. June sendiri selalu menemaninya di sekitar.


Julie mencoba tidur. Akan tetapi tidak bisa. Perihal keterkaitan keluarga Davison juga tak lepas dari pikirannya.


Alhasil Julie tidak dapat tidur semalaman. Ia beranjak dari ranjang saat waktu menunjukkan jam enam pagi.


"Hai, June. Seandainya kau juga bisa berubah wujud saat matahari terbit," sapa Julie. Dia melewati wujud June yang masih dalam keadaan asap jingga.


Julie segera membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah itu, dia menghubungi Axton. Julie minta bantuan kakaknya untuk mendatangi kantor polisi.


Axton awalnya ragu. Karena dia sudah beberapa kali ke kantor polisi dan hasilnya nihil.


Karena Julie memaksa, Axton akhirnya bersedia menemani Julie pergi. Kini keduanya sudah tiba di kantor polisi. Julie langsung memaparkan bahwa dirinya ada bersama June saat kecelakaan.


"Maaf, Nona. Kami sudah menutup kasus yang kau sebutkan. Dan kami sudah menjamin kalau kecelakaan yang menimpa June Stevens adalah murni kecelakaan." Begitulah jawaban dari seorang polisi bernama Bruce.


"Kau salah! Aku ada bersama June saat itu! Aku calon pengantinnya!" Julie bersikeras.


"Maaf, Nona. Kami punya banyak masalah yang harus di urus." Bruce beranjak begitu saja. Dia tampak berurusan dengan pelapor lain.


"Tapi--"


"Julie..." Axton menghentikan. Dia tidak mau Julie membuat keributan. Lelaki tersebut segera membawanya keluar dari kantor polisi. Lalu membelikan segelas cokelat hangat.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka ini akan sulit." Julie memasang tatapan kosong. Cokelat hangat pemberian Axton tidak kunjung dia sesap.


"Karena itulah aku semakin yakin kalau keluarga Davison terlibat," tanggap Axton. "Mungkin yang terbaik adalah melupakannya. Lagi pula segalanya sudah berlalu. Kau--"


"Tidak! Aku harus mencari tahu, Ax! Bagaimana pun caranya." Julie berdiri. Dia bergegas masuk ke mobil Axton. Dengan begitu Axton tahu kalau dirinya ingin cepat-cepat pergi.


Axton lantas mengantar Julie kembali ke kantor. Mobilnya baru saja berhenti di depan perusahaan Julie.


"Mau ikut pergi ke Yunani bersamaku dan Agnes? Aku--"


"Tidak. Terima kasih." Julie menjawab tegas. Dia bergegas turun dari mobil sang kakak.


Sekarang Julie berusaha fokus dengan pekerjaan. Sedari tadi wujud June terus mengarah ke lembaran kertas yang menumpuk di meja.


"Kau kenapa, June?" tanya Julie sembari mengerutkan dahi.


Setelah ditilik, ternyata sejak tadi June menunjuk ke arah lembaran kertas yang menunjukkan riwayat hidup Shane. Mengingat Shane pernah bekerja sebagai sekretaris, tidak heran Julie memiliki berkas tersebut.


Julie menggeleng kuat. Dia hampir lupa kalau June tidak bisa berinteraksi dengannya saat dalam wujud asap jingga.


"Beritahu aku saat senja tiba nanti," ujar Julie. Bicara kepada June.


Beberapa jam terlewat. Senja akhirnya tiba. Julie sendiri baru saja beranjak dari perusahaan. Dia sengaja menunggu June di taman agar bisa bicara dengan leluasa. Tempat tersebut jauh dari keramaian.


"Julie! Aku punya ide luar biasa agar kita bisa menemukan bukti lebih cepat. Aku yakin kau akan terkejut!" seru June langsung bicara saat wujudnya berubah.


"Beritahu aku apa itu!" Kelopak mata Julie melebar.


"Ada rahasia yang tidak kau ketahui tentang Shane!" kata June.

__ADS_1


"Bagaimana kau tahu? Apa ingatanmu kembali lagi?" tanya Julie.


"Tidak. Bukan itu. Kebetulan saat aku ke apartemen Shane, aku melihatnya memiliki selembar fotomu. Aku yakin Shane diam-diam menyimpan rasa kepadamu."


"Fotoku?"


"Ya, fotomu. Katanya Shane mendapat fotomu karena ketidak sengajaan. Aku bahkan tidak mengerti dengan maksudnya."


"Pantas saja dia selalu gugup saat di dekatku. Tapi apa hubungannya perasaan Shane dengan masalah kita?"


"Kau bisa mendekatinya untuk mencari tahu motif keluarga Davison."


Pupil mata Julie membesar. Dia merasa kalau ide June cukup bagus. Meskipun begitu, raut wajah Julie segera berubah menjadi datar. Dia merasa tidak tega mempermainkan perasaan Shane.


"Bukankah itu berarti kita hanya memanfaatkan Shane?" ungkap Julie.


"Memang benar. Tapi apa kau punya ide lebih baik?" balas June seraya mengangkat dua tangan ke udara.


Julie menggeleng lemah. Dia memang tidak terpikirkan hal lain sekarang. Julie otomatis berpikir sejenak. Di akhir, dia akhirnya memutuskan akan mencoba ide June.


"Aku akan menghubungi Shane." Julie mengambil ponsel dari dalam tas. Dia segera menghubungi Shane.


"Halo, Shane!" sapa Julie.


"Ju-julie?" Shane tergagap. Sepertinya dia tidak menyangka akan dapat telepon dari Julie.


"Apa kau sibuk nanti malam? Aku ingin membayar makan malam yang sempat tidak jadi kita lakukan."


"Makan malam?"

__ADS_1


"Ya, apa kau bisa?" Julie menjawab sambil menatap June. Menanti keputusan Shane.


"Tentu saja, Julie. Aku bersedia! Maksudku aku mau makan malam bersamamu." Shane terdengar begitu antusias. Julie lantas mengangguk. Memberikan kode kepada June bahwa Shane setuju. Hantu tampan itu pun tersenyum.


__ADS_2