Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 33 - Merayu & Cemburu


__ADS_3

...༻◈༺...


Waktu menunjukkan jam enam sore. Julie dan June sedang dalam perjalanan menuju restoran. Keduanya berada di dalam taksi.


"Mungkinkah Shane juga terlibat dengan kecelakaan kita?" celetuk June.


"Entahlah, June. Fakta yang kita ketahui sekarang masih minim sekali," sahut Julie. Sopir taksi sontak menoleh. Mengingat gadis itu terlihat sendirian namun malah seperti sedang bicara dengan seseorang.


Julie lekas-lekas mengambil ponsel. Dia hampir lupa kalau dirinya tengah mengobrol dengan makhluk tak kasat mata.


"Aku bicara di telepon." Tanpa ditanya, Julie langsung memberikan alasan.


Sang sopir taksi lantas mengangguk. Sedangkan Julie segera mendelik ke arah June. Seakan memarahi lelaki itu agar tidak mengajaknya bicara. Terutama ketika ada manusia lain bersamanya.


Tak lama kemudian, tibalah Julie dan June di tempat tujuan. Mereka masuk ke restoran. Di sana sudah ada Shane yang menunggu. Lelaki tersebut langsung berdiri saat menyaksikan kehadiran Julie. Penampilan Shane masih terlihat culun seperti biasa.


"Apa kau sudah lama menunggu?" sapa Julie.


"Aku baru saja tiba." Shane memegangi tengkuknya. Jelas sekali kalau dia merasa salah tingkah terhadap pertemuannya dengan Julie. "Ayo duduk," pintanya lembut.


Julie mengangguk. Dia segera duduk ke kursi yang ada di hadapan Shane.


"Aku senang kau sudah membaik," ungkap Shane. Dia ingin membangun pembicaraan. Tetapi tidak tahu harus bicara apa.


Kenyataan yang tidak diketahui Julie, Shane sebenarnya sempat datang kembali ke rumah sakit tempo hari. Tetapi kala itu Julie sudah terlanjur pergi. Lelaki seperti Shane selalu butuh alasan agar bisa mengajak bertemu. Jadi dia sangat senang Julie mengajaknya makan malam sekarang.

__ADS_1


"Ya, aku harap begitu. Karena aku tidak mau tiba-tiba pingsan dan membuat acara makan malam kita batal lagi," tanggap Julie. Terkekeh hambar.


"Aku sangat senang." Shane bergumam sambil tidak berhenti menatap Julie dengan binar kagum.


June yang sejak tadi mengamati, segera mendekatkan mulut ke telinga Julie. "Lihatlah! Bukankah sudah jelas kalau dia menyukaimu?" bisiknya.


Julie menatap June selintas. Dia terpikirkan cara untuk membuat Shane menceritakan banyak hal kepadanya. Terlebih jika memang lelaki itu menyukainya, maka Shane pasti akan bercerita banyak hal tentang masa lalu Julie.


"Shane, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," ungkap Julie.


"Apa?" tanya Shane penasaran.


"Tapi berjanjilah kau tidak akan mengatakannya kepada siapapun," jawab Julie.


"Apa ini sesuatu yang besar?"


Shane memasang raut wajah serius. Begitu pun Julie.


"Kau mau mengatakan apa, Julie? Kau tidak memberitahuku sebelumnya," protes June dari samping.


Julie tentu mengabaikan. Dia fokus menatap ke arah Shane. "Kau tahu aku pernah mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu kan?" ujarnya.


"Iya. Apa ini ada hubungannya dengan itu?" tebak Shane. Melebarkan kelopak matanya.


Julie mengangguk. "Aku mengalami amnesia, Shane! Dan aku baru mengetahui fakta itu kemarin," ucapnya.

__ADS_1


"Be-benarkah? Bagaimana bisa kau baru mengetahuinya sekarang?" Shane merasa tak percaya.


"Keluargaku sengaja menutupinya agar aku tidak sakit hati. Kau tahu kan kecelakaan yang menimpaku terjadi di hari aku dan June akan menikah?" Julie memperhatikan ekspresi Shane. Hal serupa juga dilakukan June. Keduanya tentu penasaran bagaimana reaksi lelaki itu.


"Benarkah?..." Shane justru tampak sedih. Dia menundukkan kepala. "Aku benar-benar tidak tahu tentang itu. Maaf, Julie..." tuturnya.


"Tidak apa-apa. Kau tahu aku sudah baik-baik saja," sahut Julie.


"Jadi, kau ingin minta bantuan apa dariku?" Shane penasaran.


"Aku ingin kau menceritakan kenangan tentang masa SMAku. Aku berusaha mengingat semuanya, tetapi hanya sebagian saja yang muncul. Jujur, aku ingin mengingat banyak hal tentang kenangan berkesan saat dulu. Dimana tempat aku sering duduk, makan, sampai menghabiskan waktu bersama teman-teman." Julie menjelaskan panjang lebar.


"Dengan begitu, perlahan ingatanmu bisa kembali," tanggap Shane.


"Ya, itu maksudku. Aku sebenarnya berusaha mencari teman-temanku. Tapi sepertinya kaulah orang yang paling dekat denganku sekarang. Aku juga merasa nyaman bicara denganmu," ucap Julie. Membuat senyuman mengembang di wajah Shane. Lesung pipit lelaki tersebut lantas menghiasi pipinya.


"Wah, Julie... Kau ternyata seorang perayu handal," komentar June. Dia jelas merasa cemburu.


"A-aku akan membantu semampuku." Seorang Shane tentu tidak akan menolak permintaan Julie. Terlebih dia sudah mencintai gadis itu selama bertahun-tahun. Waktu yang dirinya dapatkan bak kesempatan emas.


"Terima kasih. Tapi aku bisa mempercayaimu kan?" Julie memasang tatapan selidik.


"Tentu saja! Aku tidak akan mengatakan masalahmu ini kepada siapapun." Shane merasa antusias. Senyumannya begitu cerah. Bagaikan awan hitam yang terkena siraman sinar matahari.


Julie tersenyum lebar. Dia berniat ingin mendekati Shane sebagai teman saja terlebih dahulu. Berjaga-jaga kalau lelaki itu hanyalah korban yang tidak pantas disakiti.

__ADS_1


June yang tengah duduk di sebelah Julie, tampak cemberut. "Ternyata ini tidak semudah yang aku kira," keluhnya. Dia tentu kesal terus diabaikan Julie. June benar-benar iri kepada Shane.


__ADS_2