
...༻◈༺...
Karena sakit hati, Shane tidak pulang ke rumah. Dia sengaja menyendiri untuk berpikir. Shane berusaha memutuskan pilihan yang tepat.
Sementara June, terus berada di sisi Shane. Dia memastikan keadaan lelaki tersebut. Dirinya berniat akan menunggu sampai Shane sudah membuat pilihan bulat.
Satu hari terlewat. Julie heran kenapa Shane tidak kunjung muncul. Dia lantas menghubungi pria itu.
Beberapa panggilan Julie tidak dijawab oleh Shane. Tentu itu bukan hal biasa baginya. Mengingat Shane sangat menyukai Julie. Perempuan itu sekarang hanya bisa menunggu.
"Apa dia marah padaku? Apa June melakukan sesuatu tanpa pengetahuanku?" benak Julie bertanya-tanya. Dia merasa June dan Shane sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Julie akan memastikannya saat menemui mereka nanti.
Shane sebenarnya masih ada di kantor. Dia memandangi ke arah jendela. Dirinya sudah berpikir keras. Baik menggunakan logika maupun hati.
"Baiklah, June. Aku akan membuat pilihan," gumam Shane sembari mengambil ponsel. Dia merekam dirinya sendiri dengan mode video.
"Sebelumnya aku ingin mengatakan kalau sebenarnya aku masih sulit untuk percaya. Tapi saat memikirkan segala kejadian aneh yang selama ini menimpaku, aku percaya semuanya memang adalah ulahmu. Aku yakin kaulah yang sudah membeli cincin berlian itu untuk Julie kan?" ujar Shane. Seakan bicara dengan June.
Bertepatan dengan itu, senja tiba. Wujud June langsung berubah. Lelaki tersebut tampak berkacak pinggang seraya menatap jengah ke arah Shane.
"Kau bodoh atau polos, Shane? Sungguh, kau tidak perlu melakukan itu untuk berkomunikasi denganku," ucap June.
Shane jelas tidak bisa mendengar. Dia terus merekam dirinya dengan ponsel.
__ADS_1
"Aku sudah berpikir selama satu hari semalaman. Aku bahkan tidak pulang karena ini." Shane tiba-tiba menunjukkan raut wajah sedih. Namun itu tidak berlangsung lama, dia segera mengukir senyuman di wajahnya.
"Apa keputusanmu, Shane?" tanya June penasaran. Dia duduk ke sebelah Shane. Mendengarkan dengan seksama.
"Aku memutuskan akan setuju menjadi tumbal. Itulah keputusanku." Shane mengucapkannya sambil memaksakan diri untuk tetap mempertahankan senyuman.
June menatap nanar Shane. Keputusan Shane membuatnya merasa gundah. Setulus itukah cinta Shane untuk Julie?
"Aku melakukannya karena ini juga pilihan Julie. Dia nekat menjebakku hanya karena ingin membuatmu kembali..." tutur Shane. "Aku rela mengalah jika kekalahanku bisa membahagiakan Julie," sambungnya yang perlahan tertunduk. Lalu langsung berhenti merekam.
Shane berusaha kuat. Matanya kembali berkaca-kaca. Bersedia untuk menjadi tumbal bukanlah hal mudah. Justru itu bisa saja merupakan sesuatu yang menakutkan.
"Sejak dulu kaulah yang selalu bisa membuat Julie bahagia. Aku heran kenapa aku terus muncul di antara kalian berdua..." lirih Shane yang akhirnya terisak. Dia menutupi wajah dengan dua telapak tangannya.
Usai mendengar keputusan Shane, June pergi. Tetapi dia tidak menemui Julie, melainkan Molly.
"Benarkah? Dia rela jadi tumbal cintamu dan Julie?" Molly kaget dengan pilihan Shane.
"Tidak terduga kan? Padahal aku sudah bersiap kalau Shane menolak," ungkap June.
"Aku yakin kalau Shane menolak, kau pasti semakin bertekad menjadikannya tumbal. Bukankah begitu?" tebak Molly.
"Kau benar." June mengangguk.
__ADS_1
Molly tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Kebaikan memang terkadang bisa meredakan niat jahat seseorang," ucapnya.
"Kau benar." Untuk kali kedua June mengangguk.
Molly menatap malas. "Lalu apa rencanamu sekarang? Bukankah kalau Shane setuju menjadi tumbal semuanya akan membaik?" tanyanya.
"Aku tahu. Aku hanya memikirkan cara untuk meyakinkan Julie kalau kami bisa segera melakukan ritual pengikatan," jelas June.
"Hmm... Menurutku kau sebaiknya harus bicara dengan Shane lebih dulu. Karena dia yang akan menjadi tumbalnya 'kan? Mungkin Shane ingin melakukan sesuatu sebelum dia benar-benar pergi dari dunia ini," ucap Molly.
June tertohok. Ketika mendengar Shane akan pergi, lagi-lagi perasaan bersalah menghantui. Entah kenapa dirinya merasa tidak tega membiarkan lelaki itu berkorban.
June menghela nafas panjang. "Sepertinya sekarang aku yang perlu waktu untuk berpikir. Sampai jumpa, Molly!" katanya yang langsung menghilang begitu saja.
Di sisi lain, Julie duduk dengan semburat wajah bosan di sofa. Ia sigap berdiri tatkala pintu terbuka. Orang yang dirinya nanti sudah hadir. Dia tidak lain adalah Shane.
"Shane!" seru Julie. "Kau kemana saja? Kenapa tidak menjawab teleponku?" tanyanya mencecar.
"Aku ada pekerjaan mendesak. Maaf, sudah membuatmu cemas," sahut Shane dalam keadaan tertunduk. Ia enggan menatap Julie karena kekecewaannya.
"Benarkah? Harusnya kau bilang saja kepadaku," tanggap Julie.
Shane tersenyum tipis. "Aku mau langsung istirahat," ujarnya seraya beranjak ke kamar begitu saja.
__ADS_1
Julie tertegun. Dia merasa sikap Shane berubah. Lelaki itu terasa lebih dingin dibanding sebelumnya.