Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 59 - Jangan Pergi


__ADS_3

...༻◈༺...


"Maaf, June. Aku tidak bermaksud begitu." Shane segera membantah. Dia memang tak bermaksud menyinggung June.


"Dengar, Shane. Karena kau begitu kaku, aku akan membantumu. Aku akan mengirim pesan lewat ponsel jika melihatmu kesulitan menemukan topik bicara dengan Julie. Mengerti?" ujar June. Shane lantas mengangguk mengerti.


Sementara di kamar mandi, Julie termangu menatap dirinya di cermin. Ia sedang bingung dengan perasaannya sendiri.


'Aku tidak bisa jatuh cinta pada Shane. Mungkin sekarang aku harus menjaga jarak darinya. Lagi pula semuanya sudah terkuak. Dengan begitu ritual pengikatan bisa segera dilakukan,' batin Julie.


"Tidak, Julie. Cintamu sejak awal untuk June. Dan akan selalu sampai begitu hingga akhir. Aku dan June sudah memperjuangkan cinta kami sejauh ini." Julie meyakinkan dirinya sendiri. Dia segera membasuh muka dengan air. Membulatkan tekad untuk selanjutnya. Yaitu akan berusaha menjauhi Shane sebisa mungkin.


Tanpa sepengetahuan Julie, June bisa mendengarkan dari atap. Hantu tampan itu sekarang tahu kalau Julie memang sudah mulai tertarik kepada Shane.


June buru-buru pergi ketika tak sengaja melihat Julie melepas pakaian. Perempuan itu akan segera mandi.


Setelah selesai mandi, Julie mengenakan pakaian. Lalu keluar dari kamar mandi. Shane yang melihat langsung berdiri dan menyapa dengan senyuman.


"Bagaimana?" ujar Shane.


June yang mendengar dari atap sontak tepuk jidat. "Dasar bodoh!" cibirnya. Bagaimana bisa Shane bertanya begitu saat Julie baru selesai mandi.


Sepertinya Shane terlalu memikirkan cara untuk mendekati Julie. Hingga dia mengeluarkan pertanyaan yang tak seharusnya.


"Apanya yang bagaimana?" tanya Julie dengan dahi yang berkerut samar.


"E-eemmm... Itu, maksudku..." Shane sempat kebingungan. "Maksudku bagaimana airnya? Apakah sangat dingin?" kilahnya.

__ADS_1


"Biasa saja. Lagi pula di luar hanya hujan biasa, bukan hujan salju." Julie menjawab sambil mengambil tas.


"Kau mau kemana?" tanya Shane.


"Kamar ini terlalu kecil untuk kita berdua. Aku ingin mencari tempat lain," jawab Julie.


June yang mendengar mendengus. Sebab dia tahu kalau Julie sekarang berniat untuk menjaga jarak dari Shane.


"Benarkah?" Shane menanggapi dengan kikuk. Dia juga terlihat bersiap pergi. "Kau di sini saja, Julie. Biar aku saja yang mencari tempat lain," usulnya yang tak ingin Julie repot.


"Ya sudah." Julie mengangguk. Dia langsung setuju. Lalu membiarkan Shane beranjak keluar dari kamar.


Gigi June menggertak kesal ketika melihat Shane pergi. Selepas pintu ditutup, June memunculkan diri di hadapan Shane. Tepat sebelum lelaki berkacamata itu jauh dari kamar Julie.


"Kenapa kau pergi?" timpal June sambil berkacak pinggang.


"Tapi kau jadi tidak bisa dekat dengannya. Satu kamar dengan Julie adalah kesempatan emasmu agar bisa lebih dekat!" kata June mengomel.


Mata Shane memicing penuh curiga. "Kau yakin ingin aku sekamar dengan Julie? Kau tidak takut atau pun cemburu?" selidiknya.


"Hei! Bukankah sudah kubilang aku melakukan ini demi ritual pengikatan?" June membantah.


Shane menghela nafas. Dia menggeleng dan lanjut melangkah. Shane tak mau kembali ke kamar.


"Shane! Setidaknya cobalah bicara pada Julie. Lagi pula apa kau tidak khawatir meninggalkannya sendiri? Apa kau tidak aneh kenapa Julie tiba-tiba ingin berpisah darimu? Padahal tadinya dia yang mencegahmu pergi," ujar June. Sengaja ingin membuat Shane cemas.


"Kalau aku kembali, Julie pasti tidak merasa nyaman! Dia--" pintu kamar mendadak terbuka. June langsung menghilang. Untung hantu itu pergi tepat waktu. Sebab orang yang membuka pintu adalah Julie.

__ADS_1


"Kau bicara dengan siapa?" tanya Julie.


"Aku bicara ditelepon," jawab Shane berbohong. Dia mengeluarkan ponsel yang tersimpan di saku mantelnya.


Bertepatan dengan itu, June masuk ke kamar motel sebelah. Di sana dia menggunakan ponsel yang menginap di kamar tersebut. Untung saja orang itu sedang tertidur pulas.


June mengirim pesan untuk berkomunikasi dengan Shane.


'Buat Julie berubah pikiran. Aku tidak mau kau meninggalkannya sendiri.' Begitulah bunyi pesan June. Dia juga tak lupa menuliskan huruf inisial dari namanya di akhir pesan.


Pesan dari June sudah masuk ke ponsel Shane. Dia mengeluh dengan helaan nafas. Shane bingung harus bagaimana untuk merubah keputusan Julie.


"Apa kau baik-baik saja, Shane? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Julie.


Shane diam saja. Dia masih berusaha berpikir. Shane mungkin memang berotak cerdas, namun jika masalah perempuan dan cinta, dirinya begitu payah.


'Berpura-pura sakit saja! Jika Julie memilih pergi, tahanlah dia sebisamu.' Pesan dari June kembali masuk.


Shane lantas menggunakan ide June. Dia memegangi kepala sambil meringiskan wajah.


"Aku tiba-tiba merasa pusing," ungkap Shane.


Julie yang melihat, sontak cemas. Dia langsung membawa Shane ke kamar. Menyuruh lelaki berkacamata tersebut duduk ke ranjang. Lalu memberikan segelas air putih.


"Maaf, Shane. Seharusnya aku tidak membiarkan kau pergi. Biar aku saja yang mencari tempat lain. Beristirahatlah," ucap Julie seraya berdiri. Namun Shane sigap memegangi tangannya.


"Jangan pergi," pinta Shane dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


Julie terkesiap. Tanpa sadar dia dan Shane saling bertukar tatapan lekat.


__ADS_2