Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 31 - Teka-Teki Insiden Kecelakaan


__ADS_3

...༻◈༺...


Zac segera keluar dari kamar Julie. Sedangkan Axton, duduk ke dekat gadis itu.


"Beritahu hubunganku dan June," kata Julie penuh harap.


Axton mengangguk. Ia memegangi pundak Julie. "Kau dan June berpacaran sejak SMA. Dia kakak kelasmu," ungkapnya.


"Aku sudah tahu tentang itu. Yang ingin aku ketahui adalah hubunganku dan June sebelum kecelakaan terjadi." Julie sudah tidak sabar. Dia sampai duduk menghadap Axton. Kakaknya itu langsung menunjukkan ekspresi sedih saat mendengat perkataan Julie.


"Ayolah. Ceritakan kepadaku. Aku akan baik-baik saja," pinta Julie.


"Kau yakin?" Axton meragu.


"Ya, aku yakin." Julie mengangguk berulang kali.


Axton lantas bercerita. Dia mengatakan sebelum kecelakaan terjadi, June dan Julie akan menikah. Hari yang harusnya menjadi hari membahagiakan justru menjadi duka.


"Hari itu segalanya sudah siap. Dekorasi, makanan, pendeta, dan keluarga jauh... semuanya lengkap. Saat itu hanya pengantin pria yang belum datang," ucap Axton.


"Tunggu, aku tidak mendesak June untuk..." Julie berhenti bicara saat Axton memegang tangannya.


"Tidak. Kau malah mengejar June," ucap Axton.


"Maksudmu?" Julie menuntut jawaban.


"Kau mengendarai mobil sendirian. Sebelum pergi, aku sangat ingat kau memberi alasan kalau ada sesuatu yang harus di urus bersama June."


"Benarkah? Apa itu?"

__ADS_1


"Kau pikir aku tahu? Hanya kau dan June yang tahu."


Julie terdiam. Dia yang tadinya sempat menangis, kembali menderaikan air mata. Axton segera membawanya ke dalam pelukan.


"Maafkan aku, Julie. Harusnya aku mengikuti kata hatiku sejak awal. Aku tidak pernah setuju dengan ayah yang bersikeras ingin merahasiakan bahwa kau amnesia," tutur Axton seraya mengelus punggung Julie. Adik perempuannya tersebut terisak dalam dekapan.


"June..." lirih Julie. Dia mengulang kembali ingatan bagaimana kecelakaan terjadi. Namun ada hal yang membuat Julie aneh. Kenapa Axton bilang kalau dirinya mengendarai mobil lain? Sementara pasca kecelakaan terjadi, Julie sedang bersama June. Julie lantas memberitahu fakta itu kepada Axton.


"Jadi ingatanmu perlahan kembali?" Axton memastikan. Dia dan Julie duduk saling berhadapan di tempat tidur.


"Ya, tapi hanya itu yang aku ingat. Mungkin akan bertambah seiring berjalannya waktu." Julie memberitahu.


"Jujur, sampai sekarang aku berusaha menyelidiki tentang kecelakaan yang menimpamu dan June. Aku merasa ada yang aneh dengan kecelakaanmu dan June," cetus Axton.


Julie menghapus air mata dari wajahnya. Ia berhenti menangis. Fokus dengan misteri tentang kecelakaannya dan June yang belum juga terpecahkan.


Axton mendengus kasar. Dia menoleh ke arah pintu terlebih dahulu. Memastikan tidak ada orang lain selain dirinya dan Julie.


"Aku sudah mencari tahu ke kantor polisi. Di dalam laporan, kau dan June dilaporkan kecelakaan di mobil yang berbeda."


"Apa?"


"CCTV di tempat mobil June kecelakaan tidak ditemukan. Tempat kau tertimpa kecelakaan juga tidak ada tanda-tanda kerusakan apapun. Terutama pohon yang katanya ditabrak oleh mobilmu." Axton menggeser dirinya menjadi lebih dekat dengan Julie. Dia berbisik, "Aku rasa kecelakaan yang menimpamu dan June sudah direncanakan."


"Apa?" Julie merasa tak percaya.


"Apa kau masih berhubungan dengan Shane?" Axton menyelidik.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang Shane?" dahi Julie berkerut dalam.

__ADS_1


"Karena aku merasa kalau keluarga Davison adalah dalang dibalik terjadinya kecelakaan yang menimpamu dan June!"


"Ba-bagaimana bisa? Kau jangan mengada-ada. Semua orang tahu mereka adalah keluarga terhormat di negeri ini. Shane juga sangat baik." Julie mengelak.


"Aku lupa memberitahumu kalau dulu pekerjaan kau dan June adalah jurnalis. Kalian sepertinya mengetahui sesuatu hal besar tentang keluarga Davison. Mungkin itulah motif utama mereka merencanakan kecelakaan untuk kalian. Dan mengenai kau... Sepertinya ayah bekerjasama dengan mereka." Axton menerangkan panjang lebar.


"A-ayah?" Julie sekali lagi dibuat kaget. Tetapi Axton langsung menenangkan.


"Tidak! Jangan salah sangka. Ayah kita tidak mungkin bekerjasama dengan mereka untuk membuatmu celaka. Tapi dia terpaksa bekerjasama untuk melindungimu. Itulah alasan kenapa Ayah bersikeras menutupi segala hal tentang June darimu," ungkap Axton.


"Apa kau sudah menemukan bukti mengenai spekulasimu itu?" Julie menatap penuh tanya.


Axton menggeleng. "Tidak. Itulah masalahnya. Aku belum bisa menemukan apapun," ucapnya.


Julie perlahan tertunduk. Axton yang merasa iba, kembali memeluknya.


Kebenaran yang diberikan Axton masih belum cukup menjawab semua teka-teki. Perasaan sedih Julie seketika berubah menjadi penasaran. Dia menatap ke arah asap jingga yang sejak tadi menemani. Bayangan bagaimana kecelakaan menimpa June, kembali terlintas. Julie lantas terpikirkan sesuatu hal.


Julie melepas dekapan Axton. "Kau yakin keluarga Davison ada sangkut pautnya dengan kecelakaanku dan June? Bisakah kau beritahu darimana kau tahu?" tanyanya.


"Setelah June dimakamkan, aku mendatangi apartemennya. Aku menemukan laptop June. Aku menemukan email ancaman dari seseorang bernama Calvin Andrews. Setelah itu, aku mencari tahu siapa Calvin. Ternyata dia adalah sekretaris pribadi Paul Davison!"


"Kalau begitu, kita bisa jadikan email itu sebagai bukti."


"Aku harap juga begitu." Axon tampak kecewa.


"Maksudmu?" Julie terheran.


"Karena ada pekerjaan, aku meninggalkan laptop June tetap di apartemen. Tapi saat aku ambil dan kubawa pulang, email yang tadinya aku baca sudah hilang. Setelah aku cek CCTV di apartemen, ternyata ada seseorang yang diam-diam menerobos masuk ke apartemen June," ujar Axton panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2