
...༻◈༺...
June yang merasa syok, segera keluar dari tubuh Shane. Saat itulah Shane tersadar. Dia tentu bingung melihat dirinya dalam keadaan duduk. Padahal seingat Shane dirinya tadi masih dalam perjalanan menuju kamar.
Shane ketakutan. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar dengan perasaan terancam.
Perlahan Shane berdiri. Ketika melihat ke cermin, dia menemukan sudut bibirnya terluka.
"Apa yang terjadi kepadaku?" gumam Shane. Dia berpikir kalau kepribadian gandanya muncul lagi.
Shane lantas mengingat apa yang sudah dikatakan psikiater kepadanya. Dia mengambil kertas dan menulis pesan untuk kepribadian gandanya.
'Apa kau kepribadianku yang lain? Siapa namamu?' begitulah kalimat yang ditulis Shane untuk June. Atau sosok yang dia kira sebagai kepribadian lainnya.
Shane duduk sebentar untuk menenangkan diri. Dia terpikir memberitahukan masalahnya kepada Julie. Mengingat Shane telah resmi menjadi perempuan itu.
Sebelum pergi, Shane tidak lupa membawa barang yang dia beli untuk Julie. Setelah itu dia keluar dari kamar.
"Kenapa lama sekali? Aku pikir kau tertidur," ujar Julie yang tampak duduk di sofa. Ia juga terlihat memindai penglihatan ke belakang Shane. Julie berusaha mencari wujud June yang mendadak tidak terlihat.
"Maaf," ungkap Shane seraya duduk di hadapan Julie. Dia segera menyerahkan tas berisi sesuatu kepada gadis tersebut.
"Apa ini?" tanya Julie.
"Saat aku melihatnya, aku mengingatmu," tutur Shane.
__ADS_1
Julie memeriksa barang pemberian Shane. Ternyata itu adalah dress cantik dengan motif bunga daisy. "Terima kasih, Shane. Kau benar, ini sepertinya memang cocok untukku," ucapnya.
Shane tersenyum singkat. Dia siap menceritakan masalahnya.
"Julie, ada yang ingin aku beritahu," kata Shane.
"Bicara saja. Kau selalu saja minta izin saat ingin mengatakan sesuatu," tanggap Julie.
"Aku sepertinya menderita masalah psikologis," cetus Shane.
Dahi Julie berkerut. "Maksudmu?" tanyanya.
"Aku memiliki penyakit kepribadian ganda. Ini baru saja terjadi selama sebulan terakhir. Aku juga tidak tahu bagaimana siklusnya muncul. Aku takut kepribadian itu berbuat sesuatu yang membahayakanmu," jelas Shane panjang lebar.
Julie terdiam seribu bahasa. Dia mungkin satu-satunya orang yang tahu kalau Shane sering kerasukan. Jelas itu sama sekali bukan penyakit kepribadian ganda.
"Bibirmu kenapa?" tanya Julie.
"Ini perbuatannya, Julie. Aku bahkan belum tahu siapa nama kepribadianku yang lain itu," jawab Shane.
Pupil mata Julie membesar. Dari sana dia tahu kalau June yang melakukan itu pada Shane. Tetapi karena apa? Kenapa June tega menyakiti Shane sampai seperti itu? Julie juga semakin heran ketika sedari tidak bisa menemukan June.
"Julie, kau tidak terganggu dengan keadaanku bukan?" Shane memastikan dengan raut wajah khawatir.
Julie lekas menggeleng. "Tentu saja tidak. Kita akan hadapi ini bersama. Aku berjanji akan membantumu," ucapnya. Pembicaraan Julie dan Shane berakhir di sana.
__ADS_1
...***...
Sekarang Julie berada di kamar. Dia menunggu kehadiran June. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, hantu tampan itu tak kunjung muncul.
"Kau dimana, June? Kau harus jelaskan apa yang terjadi di antaramu dan Shane?" gumam Julie. Dia akan menunggu. Setidaknya sampai senja tiba nanti.
Beberapa jam berlalu. Senja sudah tiba. Namun June belum juga menemui Julie. Gadis itu semakin gelisah. Lalu memutuskan mencari June ke tempat lain.
Di sisi lain, Julie sedang bersama Molly. Dia menceritakan semua ingatan barunya pada hantu perempuan itu.
"Itulah resikonya, June. Semua ingatan tentang masa lalu tidak selalu tentang kebahagiaan," ucap Molly.
"Ini aku. Masalahnya aku, Molly. Andai aku tidak pergi saat hari pernikahan itu, aku dan Julie tidak akan tertimpa kecelakaan," sesal June sambil memegangi kepala dengan dua tangan.
"Lalu apa rencanamu? Apa kau ingin tetap menjadikan Shane tumbal cintamu dan Julie?" tanya Molly.
"Itulah yang membuatku bingung sekarang. Di sisi lain aku sangat mencintai Julie. Aku ingin cintaku dan cintanya bersatu. Tapi di sisi lainnya aku juga merasa bersalah kepada Shane," ungkap June. Kini dia menekan-nekan jidatnya sendiri.
"Julie pasti mencarimu sekarang," imbuh Molly. Dia dan June duduk di bangku taman.
"Aku mencintainya, Molly... Aku sangat mencintai, Julie..." June akhirnya terisak. Molly lantas mencoba menenangkan dengan pelukan.
Kesungguhan June untuk menguak memorinya sendiri berjalan dengan baik. Tetapi dia tidak pernah menyangka kalau ingatannya akan terasa menyakitkan. June bahkan tidak bisa percaya kalau dirinya pernah membuli Shane saat masih SMA.
Dari kejauhan, Julie baru saja turun dari taksi. Molly yang melihat kehadirannya, segera memberitahu June.
__ADS_1
Dengan cepat June membersihkan wajahnya dari air mata. Kemudian berdiri sambil tersenyum untuk menyapa Julie. Tetapi perempuan yang disapanya justru tampak cemberut.
"Kau kemana saja?" timpal Julie. Dia bahkan sudah tak peduli kalau dirinya ada di tempat umum. Orang-orang yang lalu lalang terheran melihatnya bicara dengan sebuah bangku.