Hantu Senja

Hantu Senja
Bab 12 - Menunggu Senja


__ADS_3

...༻◈༺...


Asap jingga tentu tidak bisa menjawab pertanyaan Julie. Dia hanya terbang dengan cepat mengelilingi gadis itu. Apa yang dilakukannya sukses membuat Julie terkekeh gembira.


"Besok aku akan langsung tanyakan saja kepada June," imbuh Julie sembari tersenyum. Dia segera menutup jendela.


Di sisi lain, Axton pergi menemui Fred. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung mendatangi rumah lelaki itu.


Bruk!


Axton membanting pintu rumah Fred. Langkahnya terhenti saat menyaksikan keadaan rumah Fred sangat berantakan. Keadaan di dalam rumah seolah seperti baru saja terkena bencana gempa bumi. Dimana benda-benda tampak berserakan ke segala penjuru.


Axton berusaha mengabaikan keanehan yang dia lihat. Dia buru-buru mencari Fred.


"Fred!" pekik Axton dengan raut wajah penuh amarah. Dia memeriksa ruangan yang ada di rumah. Sampai akhirnya dia berhasil menemukan Fred di kamar mandi. Lelaki tersebut terlihat masih mengenakan pakaian lengkap.


"Dasar keparat!" umpat Axton sambil menghampiri Fred. Dia langsung mencengkeram kerah baju lelaki itu.


"Apa-apaan!" dahi Fred berkerut dalam.


"Beraninya kau mencoba memperkosa adikku! Jangan harap kita bisa menjadi rekan bisnis lagi!" ancam Axton tegas.


"Kau pikir aku takut dengan hal itu?! Harusnya kau khawatir tidak akan bisa bekerjasama dengan orang berbakat sepertiku!" balas Fred. "Lagi pula, adikmu itu sepertinya dikutuk. Mungkin itulah alasan kenapa tidak ada lelaki yang mau dengannya!" tambahnya.


"Sialan!" Fred yang mendengar sontak geram. Sebuah bogem dia layangkan ke wajah Fred. Serangannya membuat lelaki berambut pirang itu terhuyung dan jatuh ke lantai.


"Aku tidak berbohong! Kau melihat sendiri bagaimana keadaan rumahku kan? Itu semua terjadi karena Julie!" ungkap Fred yang justru menyalahkan segalanya kepada Julie.


"Hei! Kenapa kau malah bertingkah seolah-olah seperti korban! Di sini adikku yang menjadi korban! Jangan harap aku akan melepaskanmu! Ibuku sedang melaporkanmu ke polisi!" ujar Axton sambil mengarahkan jari telunjuk ke wajah Fred.


"Lakukan saja apa yang kau inginkan!" tantang Fred. Seakan tidak takut.


"Aarrghhh!!!" Axton yang tidak tahan, kembali melayangkan tinju ke wajah Fred.


Di apartemen, Sasya sedang bersiap pergi ke kantor polisi. Bersamaan dengan itu, Julie keluar dari kamar.


"Kau mau kemana, Mom?" tanya Julie.


"Ke kantor polisi. Aku akan tuntut lelaki yang hampir memperkosamu itu!" jawab Sasya.

__ADS_1


Julie mengerutkan dahi. Dia memegangi tangan Sasya. Lalu berkata, "Tidak usah, Mom. Lagi pula dia tidak sempat melakukannya. Mengurus hal seperti ini hanya akan membuatmu repot. Aku baik-baik saja. Sungguh..."


"Tapi..."


"Lihatlah aku! Apa aku terlihat tertekan? Tidak bukan? Lupakan saja semuanya, Mom. Aku yakin setelah ini Fred tidak akan menggangguku lagi," tutur Julie. Sengaja memotong perkataan Sasya.


"Kau yakin baik-baik saja?" Sasya meragu. Dia memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan Julie. Dirinya memang tidak bisa membantah. Julie sepertinya benar-benar terlihat baik-baik saja.


"Iya." Julie tersenyum lembut. "Aku selalu heran kenapa perhatian kalian sangat berlebihan. Tapi jujur, aku bersyukur memiliki keluarga seperti kalian," sambungnya seraya memeluk Sasya.


"Julie..." Sasya terenyuh akan ucapan Julie. Tanpa sengaja air mata berjatuhan di pipinya.


"Astaga, kenapa kau menangis, Mom?" Julie yang sadar ibunya menangis, perlahan melepas pelukan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya senang mendengarmu berucap begitu," ungkap Sasya sembari menghapus air mata di wajahnya.


...***...


Satu hari terlewat. Julie bekerja seperti hari biasa. Pekerjaan cukup mampu melupakan insiden buruk di rumah Fred kemarin.


Pikiran Julie malah terus memikirkan segala hal tentang June. Terutama mengenai banyaknya hal aneh yang pernah terjadi kepadanya.


Pintu mendadak diketuk. Julie lantas mempersilahkan orang itu masuk. Dia tidak lain adalah Shane.


"Permisi, Bos. Aku membawakan berkas yang harus kau tanda tangani," ujar Shane seraya meletakkan beberapa lembar kertas ke meja Julie.


"Terima kasih, Shane!" sahut Julie. "Dan satu hal lagi. Berhentilah memanggilku bos! Panggil saja Julie, oke?" tambahnya yang langsung direspon dengan anggukan oleh Shane.


"Bos, mengenai--"


"Shane..." potong Julie dengan tatapan tajam. Dia mencoba memperingatkan Shane agar berhenti memanggilnya bos.


"Maaf, maksudku Julie." Shane buru-buru memperbaiki panggilannya terhadap Julie.


"Oke, sekarang bicaralah," perintah Julie.


"Ini mengenai pertemuan kita dengan klien kelas VIP. Mereka menginginkan pertemuan di Los Angeles. Bagaimana menurutmu?" jelas Shane.


"Kalau begitu, kita harus pergi ke sana. Karena ini adalah kesempatan emas kita untuk bekerjasama dengan orang-orang kelas atas. Ini bisa dijadikan promosi besar untuk kita. Kapan mereka ingin melakukan pertemuan?"

__ADS_1


"Mereka ingin bertemu hari kamis. pada jam makan malam."


"Berarti dua hari lagi. Kalau begitu kau harus bersiap-siap untuk berangkat besok!"


"Aku?" Shane keheranan. Dia menunjuk tangan ke dadanya sendiri.


"Ya! Kau sekretarisku. Jadi kau harus ikut," tanggap Julie.


"Be-berduaan?" tanpa sadar Shane menenggak salivanya sendiri.


"Iya. Hanya kita berdua." Dahi Julie mengerucut. Dia merasa heran melihat reaksi Shane. Wajah lelaki itu tiba-tiba memerah bak tomat matang. Entah apa yang ada dalam pikirannya. "Apa kau ada masalah dengan itu?" tanyanya memastikan.


"Tidak! Tentu saja tidak. Aku akan segera bersiap." Shane gelagapan. Dia salah tingkah sendiri. Memikirkan akan pergi berduaan ke Los Angeles bersama Julie sudah membuatnya gugup setengah mati. Shane bahkan sampai tidak sengaja tersandung meja.


"Shane, be careful!" ucap Julie spontan. Dia reflek berdiri karena ingin membantu Shane. Namun lelaki itu sudah berdiri sendiri. Ia terlihat begitu kikuk dan buru-buru keluar dari ruangan Julie.


"Dia lucu sekali," komentar Julie seraya geleng-geleng kepala. Dia segera menandatangani berkas yang dibawakan Shane.


Ketika waktu menunjukkan jam 04.00 sore, Julie telah selesai dengan semua pekerjaan. Dia yang seharusnya pulang, memilih berdiam diri sejenak. Julie memutuskan pulang saat senja tiba.


Di luar ruangan, Shane juga masih diam di tempat. Dia sesekali melirik ke arah pintu kantor Julie. Sungguh, dirinya merasa sangat bersemangat saat bisa mendapat kesempatan pergi berduaan dengan Julie.


"Shane, kau tidak pulang?" tegur salah satu rekan kerja Shane. Dia dan yang lain terlihat sudah siap untuk pulang.


"Sebentar lagi," sahut Shane.


"Kami duluan." Beberapa karyawan mulai pergi satu per satu. Melihat sudah banyak yang pulang, Shane akhirnya ikut beranjak. Namun langkahnya terhenti ketika sadar kalau Julie belum juga keluar dari ruangan.


Shane menghela nafas panjang. Dia memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Julie.


"Masuklah!" titah Julie.


Shane lantas menurut. Dia masuk dan bertanya, "Kau tidak pulang? Semua karyawan sudah pulang semua."


"Sebentar lagi aku akan pulang. Kau duluan saja," balas Julie.


Shane mengangguk. Dia lantas beranjak. Tetapi Shane diam-diam tidak pulang. Karena cemas, lelaki tersebut memilih menunggu di lobi.


Sementara itu, senja akhirnya tiba. Julie langsung duduk tegak.

__ADS_1


"Kau masih di sini? Biasanya kau sudah di jalan pada saat jam begini?" sosok yang ditunggu Julie akhirnya muncul. Sosok itu tentu saja adalah June!


__ADS_2