
...༻◈༺...
Mobil Shane berhenti di depan perusahaan Julie. Gadis itu terlihat sudah menunggu. Julie bergegas masuk ke dalam mobil Shane.
"Maaf, terlambat. Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Shane merasa tidak enak.
"Tidak juga," jawab Julie sembari tersenyum.
Julie yang sejak tadi duduk di belakang, segera menyahut, "Aku tahu kau berbohong. Kau pasti sudah menunggu lama kan?"
Julie melirik ke arah June selintas. Dia tentu tidak menanggapi teguran hantu tampan itu.
Mobil segera dijalankan Shane. Keduanya sekarang berada dalam perjalanan. Mereka sepakat naik pesawat agar bisa tiba ke tempat tujuan lebih cepat.
"Kau yakin akan baik-baik saja naik pesawat?" tanya Julie.
"Ya, tentu saja. Pembajakan itu tidak akan terjadi untuk kedua kalinya bukan?" tanggap Shane. Ia tersenyum tipis. Matanya tidak lupa untuk mencuri pandang ke arah Julie.
Selang sekian menit, Julie dan Shane tiba di bandara. Kebetulan sore telah berakhir. June lantas berubah wujud. Bertepatan dengan kepergian Julie dan Shane ke Nevada.
Perjalanan berjalan lancar. Saat sampai di Nevada, Julie dan Shane memilih untuk makan malam terlebih dahulu.
"Kita sebaiknya langsung pergi ke sekolah setelah ini. Aku tidak mau bermalam di sini," cetus Julie.
"Kau yakin? Karena keadaan di sekolah pasti akan sepi saat malam begini," jawab Shane.
"Biarkan saja. Bukankah itu lebih baik?" Julie tak peduli.
Shane tak kuasa menolak. Dia setuju saja dengan usulan Julie. Keduanya berangkat ke sekolah lama setelah menghabiskan makanan.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, Julie dan Shane menemukan kalau gerbang masuk dalam keadaan terkunci.
"Bagaimana? Apa kita lakukan besok saja?" Shane mengusulkan.
"Tidak. Kita akan cari jalan lain. Ayo!" Julie menarik tangan Shane. Pergerakan keduanya selalu di ikuti June yang sedang dalam wujud asap jingga.
Shane bukan tipe orang yang suka melanggar aturan. Dia sedikit takut saat melihat Julie menyelinap masuk ke lingkungan sekolah. Terlebih mereka melakukannya saat malam hari.
Julie terlihat menaiki pagar. Shane membiarkan gadis itu menginjak kedua bahunya. Hingga Julie dapat melalui pagar dengan mudah.
"Sekarang giliranmu," ucap Julie.
Shane mendengus kasar. Dia menoleh ke kanan dan kiri terlebih dahulu. Lalu barulah Shane menaiki pagar.
Tubuh Shane gemetar. Dia melewati pagar dengan sangat hati-hati. Peluhnya bahkan terlihat bercucuran di pelipis.
Julie tahu Shane sedang gugup. Dia mengulurkan tangan kepada lelaki tersebut.
Shane meraih tangan Julie. Dia melompat tepat ke hadapan gadis itu.
"Tidak usah khawatir. Kita hanya jalan-jalan di sini. Meski tertangkap, aku pikir kita juga akan baik-baik saja." Julie mencoba menenangkan Shane. Tutur bicaranya begitu lembut. Upayanya sukses membuat Shane mengukir senyuman. Ketakutan Shane pudar dalam sekejap.
Julie dan Shane segera masuk ke bangunan sekolah. Keduanya di sambut dengan lemari yang memperlihatkan beragam piala. Mereka mendekati lemari tersebut.
"Aku ingat kau pernah memenangkan olimpiade Sains. Kau bahkan mengalahkanku," ungkap Shane seraya menatap ke arah piala yang ada di lemari.
"Benarkah? Aku tidak ingat tentang itu sama sekali," respon Julie. Menatap Shane dengan sudut matanya. Lelaki itu terlihat tersenyum tipis.
Sebenarnya Shane sedang mengingat masa lalunya saat SMA. Tanpa sepengetahuan siapapun, dia banyak berkorban untuk Julie. Termasuk bersedia mengalah agar gadis itu bisa ikut olimpiade. Cinta Shane kepada Julie memang begitu tulus.
__ADS_1
"Sekarang aku yakin kau akan mengingatnya. Aku ingat June merayakan kemenanganmu dengan mengadakan pesta di rumahnya," kata Shane. Kini dia tampak tertunduk sedih. Seolah ada kenangan yang menganggu.
"Benarkah? Apa kau juga datang ke pesta itu?" tanya Julie. Dia senang Shane menyinggung tentang June.
"Tidak. Kau tahu aku tidak sepopuler itu." Shane beranjak dari depan lemari. Ia berjalan ke bagian koridor.
Julie mengikuti. "Ayolah, Shane. Aku yakin ada momen membahagiakanmu saat sekolah. Tidak mungkin tidak ada," imbuhnya. Mencoba menghibur Shane.
"Ya, memang ada." Shane tersenyum. Menatap Julie dengan tatapan lekat. Dia ingin sekali mengatakan bahwa satu-satunya hal yang membuat dirinya bahagia adalah Julie. Namun hal itu tentu tidak mudah diungkapkan Shane.
"Apa itu? Apa dia seseorang yang membuatmu jatuh cinta?" tanya Julie. Dia yang sejak tadi menatap ke depan, perlahan membalas tatapan Shane. Lelaki tersebut bergegas mengalihkan pandangan. Takut kalau tatapan dalamnya tertangkap basah.
"Aku pikir begitu," sahut Shane seraya memegangi tengkuk.
"Siapa dia?" tanya Julie. Dia mungkin tahu bahwa Shane menyukainya sekarang. Tetapi Julie tentu tidak tahu kalau Shane sudah jatuh cinta kepadanya sejak SMA.
Wajah Shane memerah. Dia enggan memberitahu. Mengingat gadis yang dicintainya sedang berada tepat di sebelahnya.
"Tidak mungkin aku kan?" goda Julie. Bermaksud bercanda. Dia menyenggol Shane dengan siku.
June mendadak masuk ke tubuh Shane. Badan itu kini diambil olehnya. Julie tentu mengetahui itu.
"June! Apa yang kau lakukan?!" timpal Julie.
"Aku sudah tidak tahan mendengar pembicaraan kalian. Aku ingin memberitahumu sesuatu!" ujar June. Dia lantas memberitahu Julie mengenai hadiah yang sudah dibelinya. June ingin Julie menganggap cincin yang ada di dalam tas nanti, sebagai tanda cinta Shane.
"Aku ingin kau menikah secepatnya. Kita tidak bisa membuang waktu!" ucap June.
"Tapi itu terlalu cepat! Lagi pula Shane belum tentu setuju!"
__ADS_1
"Percayalah, dia pasti setuju! Aku yakin seratus persen!" June mendesak.