Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Kenangan


__ADS_3

Hari yang sangat di takutkan Diana pun tiba. Ketika ia harus rela untuk meninggalkan semua kenangan yang ada di kota kelahirannya, kota dimana dia di besarkan selama 14tahun. Kota yang penuh hiruk pikuk kegiatan manusia.


"Tuhan....apakah ini takdirku? Mengapa semua ini harus menimpaku?", air mata mengalir deras dalam diam nya.


Pepohonan berjejer di sepanjang perjalanan nya membuat hati nya semakin merasa sesak, air mata nya terus mengalir seperti air sungai yang mengalir deras.


"Selamat tinggal Cemara... Semoga suatu hari nanti aku tetap bisa menggapai cita cita ku walau pun tidak tinggal di kota ini", ucapnya lagi dalam hati.


Flasback


"Aku akan urus semua nya, mulai sekarang kita pilih jalan kita masing-masing, kau urus saja dirimu sendiri, anak anak akan ku urus dan ku sekolah kan dengan baik", ucap mama kepada papa sambil berderai air mata.


Saat itu, mama dan papa Diana bertengkar hebat. Setelah 15 tahun berumah tangga, akhirnya mereka memilih untuk berpisah. Perusahaan yang di bangun oleh Papa Diana mengalami kebangkrutan, semua harta telah di sita bank, dan mereka terjerat hutang yang sangat banyak.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau mu. Setelah kau pergi dari rumah ini, jangan harap kau bisa kembali lagi", ucap papa tegas.


Mama pergi dengan membawa ke empat anak mereka yang masih kecil. Saat itu Diana yg paling sulung masih berusia 12tahun. Dan si bungsu baru berusia 9 bulan.


**********


"Sudah lah nak, jangan menangis lagi. Nanti disana kan dapat teman-teman baru", ucap Oma Nuri untuk menenangkan hati Diana.


"Oma, apakah sekolah di kampung sama seperti di kota?", tanya Diana kepada Oma nya masih dalam tangis nya.


"Semua sekolah pasti sama saja mbak, kamu jangan khawatir. Disana juga nanti banyak saudara kita yang akan jadi teman nya mbak", jawab Oma mencoba untuk menenangkan Diana.


Perjalanan panjang itu berlangsung selama 4jam, hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka. Kedatangan mereka pun di sambut oleh keluarga besar Oma yang berada di kampung. Semua dengan sigap membantu untuk menurunkan barang-barang dari mobil yang mereka tumpangi. Sedang yang lain sibuk menyediakan makanan dan minuman untuk Diana dan keluarganya yang baru turun dari mobil.

__ADS_1


"Bagaimana perjalanan nya mbak?", tanya Oma Yani, adik Oma Nuri.


"Alhamdulillah lancar dek", jawab Oma Nuri singkat.


"Wah...Sudah gadis ini anak nya Hani yang sulung kan mbak?", tanya Oma Yani.


"Iya, besok mbak akan uruskan kepindahan nya disini", ucap Oma yang membuat Diana kembali bersedih.


Setelah semua barang-barang mereka selesai di susun di dalam rumah, keluarga besar Oma pun masih bersenda gurau di teras rumah. Sedang Diana langsung masuk ke kamar nya untuk membersihkan diri.


Diana memilki tiga orang adik yang semua nya Laki-laki, yang pertama bernama Dimas berusia 13 tahun. Yang kedua bernama Kevin berusia 7tahun dan si bungsu saat ini masih berusia 2 tahun.


Diana menyapu pandangan nya ke sekeliling kamar nya, dilihat nya matras yang sudah usang yang akan menjadi teman tidur nya. Lemari pakaian yang berdebu. Ukuran kamar itu sangat kecil, hingga membuat tak ada barang lain lagi yang bisa masuk ke dalam kamar itu. Seketika itu angan nya pun melayang kembali ke kota kelahirannya. Butiran bening itu pun mulai mengalir lagi membasahi pipi nya yang berisi. Ia pun membaringkan tubuhnya dan mulai terlelap karena lelah setelah melakukan perjalanan panjang.

__ADS_1


__ADS_2