Hijab Dan Penantian

Hijab Dan Penantian
Rindu


__ADS_3

"Mbak......", teriak Dimas adik laki laki Diana. Dimas masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang sangat berantakan dan peluh membasahi pakaian yang ia kenakan.


"Ada apa dek? Kenapa....?" Diana mulai cemas melihat keadaan adik nya Dimas.


Ternyata Dimas habis tawuran dengan beberapa teman teman baru nya, entah apa masalah nya yang jelas Dimas dan teman teman nya habis mengeroyok seorang anak lelaki yang termasuk anak salah satu warga di kampung itu. Dimas merasa ketakutan karena anak itu sudah terkulai lemas dan tak berdaya. Diana yang mendengar penuturan adik nya seketika langsung bersimpuh merasa frustasi. Masalah hari demi hari makin berat di lewati. Dimas pun tak berani lagi pergi ke luar rumah. Ia hanya menghabiskan waktu mengurung diri di kamar seharian, bahkan ia tidak lagi pergi ke sekolah. Sekarang Dimas jarang pulang ke rumah. Entah dimana ia makan dan tidur. Keadaan ini membuat hati Diana semakin sakit. Perselisihan sering kali terjadi antara Oma Nuri dengan Dimas. Dimas yang keras dan Oma yang tak bisa menghadapi tingkah nya yang masih labil itu membuat suasana rumah semakin panas. Diana tak dapat berkata apa apa.


Sampai pada suatu malam, tepat pukul 00.05, Dimas pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat kacau, mata nya merah dan ia mengeluarkan suara racau seperti orang yang sedang mengigau. Ia berjalan sempoyongan masuk ke dalam rumah. Benar saja bahwa ia sudah meminum minuman yang tak semestinya ia minum, entah siapa yang sudah mengenalkan yan pada minuman itu, jadilah ia mabuk seperti saat ini. Diana yang melihat kejadian itu spontan mengelus dada nya yang seakan habis tertusuk belati. Sakit sekali. Air mata nya pun jatuh tanpa di sadari. Mengalir sangat deras seperti mata air yang membasahi bumi. Sejak peristiwa itu, suasana rumah malah semakin rumit.


Beberapa kali Oma dan Dimas masih saja terlibat dalam perselisihan yang tiada bertepi. Sampai akhirnya Dimas memutuskan untuk hidup mandiri. Ia pergi dari rumah dan bekerja untuk diri nya sendiri. Diana hanya bisa menangisi keadaan itu setiap hari. Bahkan setiap malam ia bangun dan berdoa untuk memohon kepada sang pencipta agar selalu melindungi adik nya dimana pun ia berada. Karena dalam lubuk hati nya yang paling dalam, ia sangat menyayangi adik nya.


Tanggal berganti tanggal, bulan. berganti bulan. Diana masih melewati hari hari nya dengan kerja keras. Dengan bertambahnya usia Diana, ia tumbuh menjadi gadis yang lebih tegar dan ceria. Bahkan di sekolah yang baru ini, Diana terkenal sebagai gadis yang supel, ramah dan baik hati. Tak jarang pula ia dimintai oleh para guru untuk membantu pekerjaan guru menulis raport. Ia sangat senang karena menjadi guru adalah cita cita nya.


Saat ini Diana duduk di kelas XI sekolah menengah atas. Dengan kecerdasan nya Diana mendapat kesempatan masuk ke sekolah negeri yang ada di kampung itu. Banyak teman teman lelaki di sekolah Diana mencoba mendekati nya. Tapi ia tetap pada pendiriannya, tidak akan berfikir hal lain selain sekolah. Setiap sepulang sekolah, Diana juga tak tinggal diam di rumah. Ia membuat berbagai pernak pernik gantungan kunci untuk di jual nya di sekolah kepada teman teman nya. Diana selalu bekerja keras agar ia tak merepotkan orang tua nya. Terutama mama yang sudah beberapa tahun belum juga kembali ke tanah air. Walau pun begitu komunikasi mereka tidak pernah putus.


***********


Hari ini Diana berangkat sekolah dengan penuh percaya diri. Senyum simpul di wajah nya menambahkan kecantikan natural dalam diri nya. Tepatnya hari ini Diana akan mengikuti perlombaan menulis dan membaca puisi dalam rangka mengisi kekosongan setelah ujian semester ganjil. Siswa siswi lainnya berada di lapangan sekolah mengikuti kegiatan olahraga.


Diana masih duduk santai sambil memegang naskah puisi yang ada di tangan nya. Satu persatu peserta maju menunjukan keahlian mereka sesuai dengan nomor urut mereka. Tiba lah giliran Diana maju ke depan untuk menampilkan karya nya. Tak lupa sebelum maju ke depan ia berdoa terlebih dahulu di dalam hati nya.


*Rindu


Apa yang kalian lihat?


Lukisan atau khayalan....

__ADS_1


Bukan....Bukan kedua nya


itu adalah sebuah hiasan


yang hanya dapat di rasa


Coba saja jamah!


Ku pasti tiada yang bisa


Bukan sebab ku merendah


Ku tahu dia hanya rasa


Apa kalian tau itu rasa apa?


tidak di atas, tidak pula di bawah


tidak luka tapi sakit


tiada tampak tapi ada


Kau tahu itu apa?


Dia adalah rindu

__ADS_1


yang menari dalam kalbu


datang pergi sambil merayu


pada mereka yang rasa malu


Dianty Wd*


Tepuk tangan meriah terdengar setelah Diana selesai membacakan puisi nya. Dari kursi belakang ada pula siswa yang bersuit suit. Diana kembali ke tempat duduknya dengan rasa puas karena telah sudah tampil. Jantung nya masih berdegup kencang menyisakan kegugupan. Padahal ini bukan kali pertama Diana membaca kan puisi. Pengumuman pemenang akan di baca kan saat pembagian rapor nanti. Diana selalu berdoa dalam tiap sujud nya supaya ia meraih juara pertama. Karena ia sangat mengharapkan hadiah yang di berikan pihak sekolah, bukan hanya bingkisan, tetapi juga senilai uang yang sangat berarti bagi Diana.


Setelah jam istirahat berbunyi, Diana pun bersiap untuk menyusuri kelas kelas lain guna mengantar kan gantungan kunci permintaan teman teman nya yang ada di kelas lain. Keahlian nya dalam berkarya ternyata dapat membantu ekonomi Oma Nuri. Diana hampir tak pernah meminta uang saku. Diana memang sudah terbiasa mandiri sejak kecil. Apalagi saat sekarang ini, orang tua nya jauh dan sudah bercerai pula. Papa bahkan tak pernah sekalipun menemui mereka, apalagi mengirim uang. Tidak pernah sama sekali. Selama ini tumpuan hidup mereka hanya pada Opa dan Oma yang sudah tua, dan yang paling utama pada Mama yang sekarang menyandang status single parent.


Awal awal memang Diana sangat cengeng, namun lama kelamaan ia bisa menjadi gadis yang tegar. Ibarat kan rumput, Diana seperti rumput yang tumbuh di lapangan yang gersang. Kuat akar nya dan sulit untuk di guncang...Hahaha


*************


"Kalian lihat Diana gak?" seorang pemuda tampan berkulit sawo matang, dengan hidung mancung dan tinggi badan yang lumayan mencari Diana ke kelas nya.


"Tadi kayak nya keluar kak, ngantar gantungan kunci", jawab seorang teman Diana.


Pemuda itu pun melempar pandangannya ke seluruh kelas, dipandangi nya satu persatu pintu kelas dari kejauhan. Tak butuh waktu lama, akhirnya yang ia cari ia temukan. Diana keluar dari ruang kelas XII IPA 1. Pemuda itu pun tersenyum dan tetap menunggu Diana di depan pintu kelas Diana. Tak lama kemudian Diana pun kembali ke dalam kelasnya, dan langkahnya terhenti di depan pintu karena ada seseorang yang sudah menunggu nya.


"Diana, sudah selesai?" tanya lelaki yang ternyata kakak kelas Diana, bernama Tedja.


"Ehm....sudah kak", jawab Diana singkat.

__ADS_1


Mau apa sih dia? Apa jawaban ku kemarin masih belum bisa di terima nya. Diana.


bersambung


__ADS_2