
Kegiatan baru yang di lakukan Diana selama sudah menyandang status sebagai istri Hafiz, hanyalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Diana yang terbiasa bekerja, merasa sangat jenuh dengan keadaan itu. Apalagi kehidupan yang ia alami dengan suami nya itu lebih buruk dari saat ia tinggal dengan Oma Nuri. Namun kejenuhan dan kegundahan di hati nya itu masih dapat ia sembunyikan dari suaminya. Diana tetap bersikap seperti biasa.
Siang ini Hafiz pulang lebih awal. Karena anak sekolah hanya menerima raport saja. Setelah pulang mengajar, Hafiz segera pulang ke rumah. Ia sudah sangat merindukan istri
kecil nya itu. Ia juga sudah merencanakan liburan selama dua minggu bersama istri nya. Ketika Diana sedang menunggu kepulangan Hafiz di teras rumah, tiba tiba ada seseorang bertamu ke rumah itu.
"Maaf mbak, bener ini rumah kak Hafiz?" tanya seorang wanita kepada Diana.
"Ehm iya bener," ucap Diana sambil memperhatikan wanita berambut pirang yang ada di depan nya itu.
"Kak Hafiz belum pulang ya mbak?" tanya wanita itu lagi sambil mencoba melihat ke dalam rumah.
"Belum," jawab Diana singkat. "Maaf mbak ini siapa ya?" tanya Diana lagi.
"Assalamualaikum," Hafiz pun pulang dan memarkirkan motor nya di halaman rumah.
Baru saja Hafiz turun dari motor nya, tiba tiba wanita itu menghamburkan tubuhnya memeluk Hafiz. Diana sangat terkejut melihat kejadian itu. Apalagi Hafiz tampak tak menolak nya. Diana mulai mengerutkan dahinya. Merasa kecewa dengan apa yang dilihatnya. Hafiz yang menyadari hal itu langsung melepaskan pelukan wanita yang ternyata sepupu Hafiz dan bernama Anita.
"Aku rindu banget sama kak Hafiz. Kakak apa kabar? Maaf ya kak, aku gak bisa datang ke acara pernikahan kakak, soalnya lagi banyak job," ucap Anita dengan manja.
"Oh iya, gak apa apa kok. Ya udah mari kita masuk!" ajak Hafiz kepada Anita dan masih dalam pengawasan mata Diana.
Anita pun masuk kedalam rumah. Dan langsung duduk di kursi lusuh yang ada di ruangan itu. Ia menatap sekeliling. Diana langsung menuju dapur dan membuatkan teh untuk tamu suami nya itu.
"Kak, kapan rumah kakak selesai? Rumah ini nampak sangat tidak layak untuk dihuni," ucapan Anita sontak membuat Diana yang sedang mengaduk teh di dapur terkejut, ia dapat mendengar dengan jelas perkataan Anita.
Kejutan apa lagi ini? Kenapa dia gak berkata apa pun padaku soal rumah? Gumam Diana dalam hati.
"Mungkin bulan depan kami akan pindah," ucap Hafiz pelan karena tak ingin Diana akan salah paham soal rumah yang ia bangun.
__ADS_1
"Oh iya kak, kakak dapat salam dari Tante Mia. Katanya kangen, selama nikah kakak kan belum ada hubungi tante Mia," ucap Anita lagi.
Tak beberapa lama, Diana pun keluar membawakan dua gelas teh. Lalu meletakkan nya di atas meja. Anita memperhatikan Diana dengan tatapan tidak suka. Dari dulu ia memang menaruh hati pada Hafiz, namun karena mereka sepupuan, jadi kedekatan mereka tak bisa lebih dari itu. Apalagi Anita bukan gadis idaman Hafiz, bahkan jauh dari itu. Anita selalu memakai pakaian terbuka dan memoles wajah bak artis papan atas. Mungkin karena profesi nya sebagai penyanyi. Sangat jauh berbeda dengan Diana.
Setelah meletakkan dua gelas teh itu, Diana pun ikut duduk di kursi, saat Diana ingin duduk di samping Hafiz, tiba tiba Anita berpindah ke samping Hafiz. Hal itu tentu saja membuat Diana jengah. Namun ia masih menampakkan wajah biasa. Lalu ia berpindah duduk di hadapan Hafiz. Anita terus saja mengoceh kesana kemari, sesekali Hafiz menjawab ocehan Anita. Namun Diana masih bertahan dalam diam. Tak sedikitpun ia menunjukkan wajah cemburu pada kedekatan Hafiz dan Anita. Diana yang tak tahu menahu arah pembicaraan mereka pun akhirnya memilih memainkan ponsel nya dengan santai di kursi itu. Hafiz masih menatap istrinya yang tanpa ekspresi itu.
"Oh iya, kak sudah waktunya makan siang. Apa gak sebaiknya makan siang dulu," ucap Diana akhirnya pada Hafiz untuk menghentikan ocehan Anita.
"Ah...Iya pas sekali, aku memang sudah sangat lapar," ucap Hafiz yang memang sudah merasa lapar sekaligus jenuh dengan sikap Anita.
Diana pun kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang mereka. Hafiz membentangkan tikar di ruang tengah dan membantu Diana menyiapkan makan siang. Anita sangat tak suka melihat kebersamaan mereka. Namun ia akhirnya ikut duduk di antara mereka. Setelah hidangan selesai, Diana mengambilkan piring untuk Hafiz, tapi lagi lagi sikap Anita yang seperti istri kedua itu membuat Diana harus menghela nafas panjang. Diana tetap membisu, Hafiz memperhatikan wajah tenang Diana.
Apa dia sedang cemburu? Kalau iya, kenapa wajahnya bisa sesantai itu? Ucap Hafiz dalam hati.
"Nih buat kakak, harus makan yang banyak biar sehat, tapi sayur nya sedikit aja yah. Aku tau banget kalau kakak paling gak suka sama sayur sawi pahit ini kan, kalau aku jadi istri kakak aku pasti gak akan masak makanan yang gak kakak sukai," ucap Anita menyindir Diana yang memang belum begitu memahami tentang Hafiz.
Deg. Sakit sekali. Kenapa kata kata mu itu benar benar seperti ingin menjatuhkan ku. Lihat saja nanti ya. Gemes banget pengen ku cabein itu mulut ya. Diana berdecak kesal dalam diam.
Kenapa dia malah tersenyum, apa dia tidak sakit hati dengan ucapan Anita? Hafiz mulai berkata sendiri dalam hati nya.
"Nikmat Tuhan manakah yang hendak kau dustakan? Bukankah begitu kak? Tadi pagi bibi yang mengantar sayur mentah dan ikan. Tanpa pikir panjang langsung Diana masak deh kak," ucap Diana tersenyum simpul merasa menang dari wanita yang ada di hadapan nya itu.
"Iya, alhamdulillah rezeki dari Allah harus kita syukuri. Lagian aku gak suka, bukan berarti gak mau kan," ucap Hafiz menambah kepercayaan diri istrinya.
Anita menatap Diana tak senang, lalu melanjutkan makan nya. Suasana makan itu kembali hening, apalagi mereka semua makan tanpa menggunakan sendok. Diana merasa sangat senang melihat Hafiz yang tampak lahap menghabiskan makan siang nya. Apalagi saat Hafiz meminta Diana untuk menambahkan sedikit nasi lagi ke piring nya. Hafiz sangat menyukai masakan istrinya itu. Sejak dulu Diana memang ahli dalam masak memasak. Tak heran jika banyak yang menyukai masakan buatan nya. Setelah selesai makan, Diana pun membersihkan piring kotor tersebut. Anita tampak tak berniat sedikit pun untuk membantu Diana. Namun Diana yang melihat dari penampilan Anita sudah bisa memaklumi hal tersebut.
Tak lama kemudian, adzan dzuhur pun berkumandang. Hafiz bergegas untuk pergi ke mesjid. Tinggallah Diana dan Anita di rumah.
"Sudah berapa lama kamu kenal dengan kak Hafiz?" Anita memulai percakapan.
__ADS_1
"Sejak tiga tahun yang lalu, saat aku masih sekolah menengah atas," jawab Diana seadanya. "Tapi kami tak begitu dekat. Bahkan berjarak setahun baru kami bertemu kembali," tambah Diana lagi.
"Oh...pantas Tante Mia tak menyukai mu," ucapan Anita membuat Diana menghentikan aktivitas nya dan menoleh ke arah Anita. "Asal usul mu tidak jelas," tambah Anita lagi.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Diana polos.
"Istri macam apa kau, bahkan sama mertua sendiri saja tak kenal," ucap Anita ketus.
Deg. Astagfirulloh. Cobaan apa lagi ini ya Allah...
"Aku gak menyangka, kak Hafiz bisa memilih gadis kampung seperti mu. Bahkan ia tetap menikah walau tanpa restu dari Tante Mia," ucapan Anita kali ini benar benar membuat Diana tak dapat menahan bendungan air mata yang ada di kelopak matanya.
"Assalamualaikum," tiba tiba Hafiz pulang dari mesjid.
Dengan sigap Diana menghapus air mata yang membasahi pipi mulus nya. Lalu ia melanjutkan kegiatannya kembali tanpa menyambut kedatangan Hafiz.
*
*
*
*
*
Mohon maaf readers baru sempat up nih.
Pantengin terus yah!!!
__ADS_1
like vote nya jangan lupa.